Oleh Maria Darmaningsih, Restu Imansari, Elly Luthan, Wiwiek Sipala, dan Adila Suwarmo
Surat ini kami tulis untuk menjelaskan sejumlah ihwal Panji Sepuh yang kontroversi produksinya marak dalam satu bulan terakhir. Tanpa mengurangi rasa hormat dan penghargaan kepada semua yang terlibat dalam produksi 2011 di Teater Salihara atas kerja keras dan dedikasi mereka, ada beberapa hal yang memang perlu dibuat terang-benderang kepada publik.
Yang pertama perlu dikemukakan, Panji Sepuh yang pentas perdananya digelar pada 1993 bukanlah produksi yang sejak awal dimaksudkan sebagai karya kolaborasi tiga orang: Sulistyo Tirtokusumo, Goenawan Mohamad, dan Tony Prabowo.
Produksi ini sejatinya dimulai dari kegelisahan dua orang penari, Maria Darmaningsih dan Restu Imansari Kusumaningrum. Saat itu kami berdua sedang dilanda kejenuhan terhadap Tari Jawa yang sudah kami tekuni selama bertahun-tahun. Kami kemudian melakukan eksplorasi dan berlatih di C Line Galery atas kemurahan hati pemiliknya, Teguh Ostenrik.
Setelah beberapa saat, kami menyadari bahwa kami memerlukan koreografer. Yang kemudian kami undang adalah Sulistyo Tirtokusumo, penari senior dari Surakarta. Dalam proses eksplorasi ini, Mas Sulis, panggilan akrab Sulistyo, bercerita tentang Panji Sepuh, sebuah tari yang harus dilakukan oleh setiap calon raja di Surakarta seorang diri di ruang pusaka.
Kami kemudian mengajak Elly Luthan dan Wiwiek Sipala bergabung. Saat latihan, Elly banyak menembang dan memberikan sumbangan gagasan kostum, tata rias, dan properti panggung. Sementara itu, Wiwiek memasukkan unsur-unsur Pakarena dalam Panji Sepuh. Proses menentukan penari laki-laki tidak selancar yang kita inginkan. Awalnya kami mengajak Sukarji Sriman, tapi karena kesibukannya beliau tidak bisa melanjutkan keikutsertaannya. Pada bulan-bulan terakhir persiapan pentas di Studio Oncor, kami mengundang S. Pamardi, dosen ISI Surakarta untuk menjadi penari laki-laki dalam nomor ini.
Konsep ide atau garapan tari yang Sulisyo minta kepada para penari adalah mencari secara jujur makna gerak/tari yang udar dan dadi. Penari diminta tak mengindahkan apa yang disebut pola lantai dan ragam gerak tetapi lebih mengikuti rasa yang sedang berlangsung, seperti manggon atau menclok. Dengan kata lain, rasa mendahului olah pikir. Sulistyo ingin agar setiap penari menjadi koreografer bagi dirinya masing-masing, dan ia bertindak sebagai pengarah atau sutradara. Setiap penari “mencari” gerakannya masing-masing, tapi semua menjadi sebuah kesatuan, dan inilah kekuatan Panji Sepuh. Proses penggarapan yang unik inilah yang kemudian menggulirkan kesepakatan bahwa semua penari juga mendapatkan kredit sebagai koreografer. Dan Sulistyo sebagai sutradara sejak awal sampai pementasan ke-23.
Dalam latihan-latihan menuju pentas perdana, Sulistyo selaku sutradara menyusun urutan adegan Panji Sepuh sebagai berikut: Sugeng Pratikno membuka pentas dengan menyiapkan mandala dengan membakar dupa dan berjalan keliling terus-menerus; empat penari putri masuk perlahan ke mandala dan tiduran; penari putra hadir dan menari; empat penari putri mulai berguling sambil bergumam lalu mengenakan topeng putih, sementara penari pria memakai topeng emas yang kemudian lepas dan jatuh; adegan dilanjutkan dengan satu penari putri mencuci muka, membasahi rambut, membawa bokor berisi air ke penari putra dan mencuci kaki penari putra dan bersenggama, dan si penari putri ini menjerit dan melengking; adegan selanjutnya, tiga penari putri laku dodok, penari putra kedua (diperankan oleh Sulistyo) memakan sirih, minum bersama, lalu memanah; penari putra pertama menombak ruangan kosong, Sugeng Pratikno membakar payung, seorang penari wanita membuka lapisan setagen yang dipakainya, sementara tiga penari putri lainnya memanggul tombak beriringan meninggalkan panggung.
Setelah di C Line, latihan berikutnya digelar di Studio Oncor, Tebet, milik Ray Sahetapy dan Dewi Yull, yang kebetulan menjadi tempat tinggal Tony Prabowo saat itu. Sulistyo awalnya tak menginginkan adanya iringan musik, namun Tony kemudian semakin terlibat dan tergerak membuat musik. Karya Tony sangat indah dan menjadi sebuah pelengkap yang pas bagi Panji Sepuh. Goenawan Mohamad yang kadang ikut melihat latihan akhirnya memberikan lirik tembang, Dudakasmaran, atas permintaan Elly, menulis lirik Cariyos yang dinyanyikan oleh para pengrawit dan kata-kata indah sebelum adegan senggama.Keikutsertaan Mas Goen dalam proses ini disambut dengan suka cita dan rasa hormat oleh para penggagas.
Adila Suwarmo yang sering datang ke latihan, kemudian menjadi produser karena tertarik dengan gagasan, kebersamaan, dan persahabatan sepanjang proses penggarapan. Latihan para penari dilakukan di Studion Oncor dan IKJ, sementara para pengrawit berlatih di rumah Adila. Setelah berbulan-bulan menjalani latihan, kami dipertemukan di Puncak untuk menyatukan antara musik, tari dan berbagai elemen penyutradaraan di bawah Sulistyo. Selain nama-nama di atas, yang ikut terlibat adalah Galis, anggota komunitas Studio Oncor, yang membuatkan topeng; Sugeng Pratikno, yang kemudian menjadi bagian dari pentas ini; dan Teguh Ostenrik dan kemudian Roejito untuk artistik; dan Tara Sosrowardoyo untuk publikasi.
Dana untuk pementasan di Studio Oncor pada 30-31 Agustus 1993, dan di Teater Arena, TIM, pada 11, 12, dan 13 September pada tahun yang sama kami kumpulkan bersama-sama. Kami tak pernah menyangka bahwa Panji Sepuh akan menjadi karya yang fenomenal. Dalam kurun hampir 3 tahun, tari ini sudah dimainkan sebanyak 23 kali di Indonesia dan luar negeri.
Di sini kami tidak ingin menyentuh soal hak cipta yang sebenarnya dibuat untuk melindungi setiap pencipta karya seni, termasuk para penggagas tari Panji Sepuh. Kami hanya menyayangkan bila Panji Sepuh yang awalnya betul-betul dibangun bersama dari nol ini kemudian dianggap publik sebagai karya satu atau dua orang karena informasi yang kurang memadai.
Kami menginginkan agar tulisan ini bisa menjadi ungkapan kebenaran. Mudah-mudahan persahabatan dan silaturahmi yang pernah kami alami bersama, dalam hari yang fitri ini bisa terjalin kembali.
Semoga ke depan penghargaan kepada sejarah menjadi perhatian semua pihak yang terlibat dalam seni pertunjukan Indonesia.
Tulisan ini pertama dimuat di halaman Facebook Maria Darmaningsih, 1 September 2011, jam 12.31.
URL: http://www.facebook.com/notes/maria-darmaningsih/panji-sepuh-punya-siapa/10150364111509789
Karena alasan privasi, komentar-komentar yang dimuat pada kolom komentar catatan di halaman Facebook tersebut tidak bisa dimuat ulang di halaman ini.
Tulisan dan dokumen terkait
- Masalah Produksi “Panji Sepuh” yang Tercermin dalam Program Pentas
- “Panji Sepuh”, buku program, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 13-14 September 1993
- “Panji Sepuh. Indonesia Contemporary Dance & Music performance”, program book, KIDE’95, Korea, 16-26 July 1995
Featured image: Salihara













