Walikota Bekasi Akan Bongkar Paksa Tugu Tiga Mojang

Polemik Patung Tiga Mojang di kawasan Harapan Indah Bekasi, akan segera berakhir. Walikota Bekasi Mochtar Mohammad telah memerintahkan pihak pengembang untuk membongkar patung tersebut. Jika tidak, diindahkan maka Pemerintah Kota Bekasi akan melakukan pembongkaran paksa. Hal itu dikemukakan Mochtar di hadapan para pimpinan ormas Islam: Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Bekasi, Forum Umat Islam (FUI) Bekasi, Gerakan Pemuda Islam (GPI) Bekasi, Garda Umat Islam (Gamis), dll. Read More...

Is This Statue So Divisive it Has to Go? In Bekasi, Yes

nuarta

The Bekasi municipal authorities, apparently bowing to pressure from hard-line Muslim groups, have ordered the destruction of an imposing steel statue of three women in a private residential development. The 17-meter-tall statue, “Tiga Mojang” (“Three Girls”), by leading sculptor Nyoman Nuarta, depicts three Sundanese women in traditional attire. It is also known as the welcome statue of Bekasi’s Harapan Indah residential complex. Read More...

Muslims Protest in Bekasi Over Statue Of Women and Desecration of Koran

Three statuesque women carved in steel and an incident involving the Koran have both caused an uproar amongst conservative and hardline Islamic communities in Bekasi, with nearly 1,000 members of Muslim communities staging a demonstration on Friday outside the city’s administration office. “They want the statue of the three women, the Tiga Mojang Statue, to be demolished, and they want the case of Abraham Felix to be handled seriously,” Bekasi Police chief Sr. Comr. Imam Sugianto told the Jakarta Globe on Friday. Read More...

Kesaksian Edhi Sunarso

”Kau masih punya ’national pride’ enggak?” Itulah kalimat sakti dari Bung Karno setiap kali perupa Edhi Sunarso (78) menolak permintaan Presiden RI pertama itu secara halus. Sebagai orang yang terjun langsung dalam kancah revolusi fisik sejak masih sangat muda-belia, nasionalisme Edhi kemudian serta-merta menggemuruh. Artinya, ia siap menghadapi tantangan berikut…. Read More...

Aku Mau Dimadu

Aku mau dimadu. Guwe gak mau menopause, ingin terus subur. I want: art, great sex, Luis Vuitton. Gak enak kali ga bisa menikmati libido. Itu kan kenikmatan dalam hidup.” Beberapa petikan kalimat ”nakal” itu disusun bersama puluhan pernyataan lain dalam bahasa Indonesia, Inggris, Belanda, dan Jepang. Rentetan kata-kata itu disulam di atas kain putih yang dibingkai bundar berdiameter 1,5 meter. Sulaman dengan benang merah itu disusun membentuk gambar hati. Karya berjudul Private Invitation itu hasil kerja Octora, perempuan seniman lulusan Jurusan Patung Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB). Ini bagian dari pameran Landing Soon #6-#11 di Erasmus Huis, Kuningan, Jakarta, 20 Januari-18 Maret. Ada juga karya 12 seniman lain dari Indonesia dan Belanda. Read More...

Menimbang Akar Segala Krisis

Pameran seni rupa di galeri ataupun pada acara semacam bienial dan festival memang biasa, tetapi jika ada pameran di sebuah pesantren, itu baru hal luar biasa. Beberapa waktu lalu telah diselenggarakan sebuah pameran seni rupa dengan menghadirkan perupa ternama, di antaranya Nasirun, Dian Anggaraini, KH Mustofa Bisri, dan KH Zawawi Imron, di Pesantren Kali Opak, Piyungan, Yogyakarta. Pameran ini diselenggarakan sebagai bagian dari perhelatan seni dan workshop pada acara Muktamar Kebudayaan Nahdlatul Ulama (NU) Indonesia pertama. Dengan mengusung tema ”Inventory” kegiatan ini berlangsung secara bertahap mulai dari November 2009 hingga awal Februari 2010. Read More...

Keindahan "Enggak Keruan" Berjejal

Bermula dari acara kumpul-kumpul di sebuah rumah di bilangan Kemang Utara, Jakarta, yang melibatkan sejumlah orang dengan latar belakang profesi yang berbeda, terbentuklah semacam komunitas yang menamakan diri Jakarta Art Movement. Setelah satu tahun bertukar ide, acara kumpul-kumpul itu menghasilkan sebuah pameran seni rupa bertajuk ”The Second God” yang digelar di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 21-28 Februari 2010. Read More...

Konstatasi Ruang Kota dalam Seni Rupa

Ruang dalam kota adalah sebuah panggung bagi para penghuni kota. Panggung itu, antara lain, berupa mal, jalan, tempat hunian, kantor, alat transportasi, terminal, toilet di gedung DPR, dan sebagainya. Dalam panggung, para penghuni kota tak ubahnya para aktor yang tengah memainkan peran masing-masing. Peran yang dibawakan oleh para aktor itu tidak saja bergantung pada kelas sosial, tetapi juga negosiasi terus-menerus para aktor dengan ruang di kota tersebut. Ruang kota merupakan bagian yang tidak terpisahkan untuk melihat ekspresi sosial yang dibawakan para aktor. Bedanya, dalam teater, peran aktor bergantung pada naskah dan arahan sutradara, sedangkan dalam kota para penghuninya tidak sepenuhnya tahu naskah apa dan siapa sutradaranya dalam sandiwara kehidupan kota tersebut. Read More...

Kabar Rupa dari Sakato

Lebih dari seratus perupa Minang yang tergabung dalam Komunitas Seni Sakato Jogjakarta, selama 17-23 Februari 2010 bertempat di JNM (Jogja National Museum) dengan tajuk BAKABA memamerkan karya lukis, patung, dan instalasi. Jim Supangkat, Suwarno Wisetrotomo, serta Yasraf Amir Piliang yang menulis dalam katalog setebal 355 halaman berupaya mengajak kita menyelami para perupa Sakato. Read More...

Biennale, Anti-Barat, Kesadaran Semu

Biennale seni rupa terkadang butuh kenaifan. Pada saat-saat tertentu--seperti yang berlangsung dalam Jogja Biennale X-2009--ia bahkan sebuah kenaifan itu sendiri. Kenaifan itu sudah tentu berkenaan bukan dengan kebijaksanaan menumbuhkembangkan biennale sebagai tradisi kreatif yang berwibawa di jagat seni rupa dalam dan luar negeri, melainkan kebanalan pikiran yang bertendensi menafikan sejarah panjang perhelatan seni rupa dua tahunan ini dengan dalih ''memuliakan seniman'', ''menyapa masyarakat kebanyakan'', dan ''jangan lagi mengandalkan pola pikir Barat atau negeri mana pun''. Sebab, ''Jogja ya Jogja'' yang ''punya karakter'' dan local wisdom sendiri. Read More...

Memetakan Geliat Seni Keramik

Selain menyuguhkan peta terkini perkembangan seni keramik di Indonesia, pameran Contemporary Ceramic Biennale #1 di North Art Space, Pasar Seni Ancol, menegaskan seni bermaterial tanah liat itu telah menjadi bagian pergulatan seni rupa kontemporer. Read More...

Seni Rupa (di Ruang) Publik

Semakin sering kita dengar dan saksikan tentang karya-karya seni rupa yang dihadirkan di ruang publik. Peristiwa ini sering kali memancing beragam respons publik, baik dari masyarakat luas maupun dari mereka yang mengaku sebagai para penghuni atau pengguna ruang-ruang publik itu. Contoh paling aktual adalah sejumlah peristiwa tentang penolakan (oleh aparatus pemerintah dengan mengatasnamakan masyarakat), pembongkaran, dan pemindahan sejumlah karya tiga dimensional yang dipasang di sejumlah sudut kota Yogyakarta. Read More...

Perhatian Kementerian pada Museum Minim

Sejumlah kementerian membangun museum di kawasan Taman Mini Indonesia Indah. Namun, setelah membangun museum, perhatian dan kucuran dana kementerian pada museum-museum tersebut sangat minim. Pengelolaannya pun kurang profesional. Di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, ada 17 museum. Beberapa di antaranya dibangun kementerian. Namun, akibat minimnya kucuran dana dan pengelolaan yang kurang profesional, sebagian museum tersebut dikunjungi sedikit masyarakat. Read More...

'Kudeta' Jogja Biennale X

Perhetalan seni rupa dua tahunan berlabel Jogja Biennale yang kini memasuki bilangan kesepuluh (X) diselenggarakan mulai 10 Desember 2009 hingga 10 Januari 2010. Wahyudin, kurator terpilih melalui audisi yang diadakan Tamun Budaya Yogyakarta (TBY). mengajukan tema Gerakan Arsip Seni Rupa Jogja. Isu itu bertujuan apik memetakan perjalanan historis -bentuk karya (pencapaian artistik) dan gerakan yang pernah digagas (konsep estetik) para perupa Jogja kota utama seni rupa tanah air. Sayang, realisasi narasi gerakan arsip dalam perhelatan dicedari rivalitas yang dipicu ketegangan antara pemegang otoritas artists interpretation (karya yang dipajang dalam gedung pameran) dan public on the move (karya yang dipajang pada ruang publik). Read More...

Antara Penilaian dan Partisipasi Publik

Perhelatan Biennale Jogya kesepuluh, selain berupaya melibatkan publik yang seluas-luasnya, juga mengundang tafsir lain dari para pelakunya. Bagaimana polemik ini berlanjut? Read More...