Memetakan Geliat Seni Keramik
10 Jan 2010 11:28 Filed in: General
Selain menyuguhkan peta terkini perkembangan seni keramik di Indonesia, pameran Contemporary Ceramic Biennale #1 di North Art Space, Pasar Seni Ancol, menegaskan seni bermaterial tanah liat itu telah menjadi bagian pergulatan seni rupa kontemporer.
Memasuki lantai satu dan dua galeri North Art Space (NAS), pengunjung langsung disambut berbagai karya seni keramik. Jumlah seniman peserta pameran, yang berlangsung 19 Desember 2009-20 Januari 2010, mencapai 40 orang. Jumlah yang tidak kecil untuk ukuran seniman seni keramik. Tiga puluh seniman di antaranya dari Indonesia; 10 seniman dari mancanegara. Kurasi ditangani Asmudjo J Irianto dan Rifky Effendy.
Karya seniman dari dalam negeri ”dianggap” mewakili perkembangan seni rupa keramik Tanah Air selama tiga dekade: tahun 1980-an dan sebelumnya, tahun 1990-an, dan tahun 2000-an. Kehadiran 10 seniman asing seolah menjadi ”pemandu” untuk memahami perkembangan seni keramik dunia. Mereka adalah Aedan Harris (Australia), Mohd Roslan Ahmad dan Umibaizurah Mahirismail (Malaysia), Ahmad Abu Bakar (Singapura), Mirjam Veldhuis (Belanda), Krisaya Luenganantakul (Thailand), dan Hadrian Mendoza (Filipina).
Sebagian besar karya membeberkan narasi tentang betapa lenturnya keramik jika diolah dengan berbagai pendekatan. Jika disederhanakan, sebagaimana dicatat Rifky Effendy, ada tiga kecenderungan seniman memperlakukan karya keramik: sebagai lanjutan tradisi tembikar, sebagai patung, dan bagian dari seni instalasi.
Kecenderungan mengusung keramik sebagai kelanjutan dari tradisi membuat pottery alias tembikar terlihat pada karya AA Ivan WB, Ahadiat Joedawinata, Endros Sungkowo, kelompok Gaya Ceramic Center dari Bali, Hadrian Mendoza, dan Mohd Roslan Ahmad. Karya mereka mengacu pada bentuk-bentuk seperti gentong, bejana, atau botol yang bersifat fungsional. Para seniman masih mengejar eksplorasi teknik material tanah liat dengan mengandalkan keterampilan tinggi, mulai dari pengolahan bahan, pembentukan, sampai pembakaran.
Sebagai patung, keramik dibuat lebih personal, mengutamakan bentuk, dan menjadi obyek yang berdiri sendiri. Wujud karya bisa berbentuk manusia, binatang, tumbuhan, atau abstrak. Pendekatan semacam ini dilakukan oleh F Widayanto, Evy Yonathan, Noor Sudiyati, Krisaya Luenganantakul, Umi Baizurah, Mirjam Veldhuis, dan Lie Fhung.
Widayanto, misalnya, menghadirkan patung sosok Batara gendut tengah tertidur dengan teknik khas. Evy dengan patung kepala-kepala manusia. Noor lewat patung abstrak-dekoratif serta Krisaya dengan patung bunga dan hewan yang dekoratif.
Sebagai bagian dari seni instalasi, keramik diperlakukan secara lebih cair. Keramik didampingkan dengan material lain, ditata dengan merespons ruang, bahkan dipadukan dalam karya video art. Kecenderungan ini antara lain diungkapkan Titarubi, Nadya Savitri, Ponimin, Nurdian Ichsan, Tromarama, dan Herra Pahlasari.
Karya Tromarama dan Herra cukup menonjol karena memasukkan keramik sebagai perabot keseharian dalam video dengan narasi dramatis. Dalam karya berjudul ”Please, Let Us Have a Cup of Happiness”, Herra membuat instalasi serangkaian gelas teh yang pecah dan dirangkai ulang. Di depannya, terpampang video berisi pengalaman orang-orang yang pernah sakit hati dengan ilustrasi bunyi gelas pecah.
Kontemporer
Biennale keramik ini juga menggambarkan, seni keramik telah menjadi bagian dari ekspresi seni rupa kontemporer. Karya-karya keramik sebagai instalasi tadi menunjukkan, keramik tidak menemukan persoalan besar saat dijadikan bahasa visual untuk mengungkapkan konsep atau gagasan tertentu. Apalagi, sebagian seniman kontemporer di sini memang punya latar belakang akademis dari seni keramik.
Menurut Asmudjo, seniman keramik di Indonesia cukup beruntung karena mudah masuk dalam ranah seni rupa kontemporer. Seni keramik juga tak memikul beban dianggap inferior. ”Di negara lain, seperti Jepang atau China, seni keramik masih dianggap lanjutan dari seni tradisi. Di sana, keramik bukan bahasa visual yang lazim dipilih seniman kontemporer,” katanya.
Meski demikian, praktik seni keramik di sini masih belum lepas dari tegangan antara seni keramik sebagai kerajinan (craft) dan seni keramik sebagai ekspresi seni kontemporer. Sebagian seniman keramik masih sangat militan pada material tanah liat dan teknik pengolahan keramik sembari menolak mencampurnya dengan material lain. Masalahnya, sikap ini bisa memperlebar jarak seni keramik dengan seni rupa kontemporer yang bersemangat menerabas sekat disiplin seni.
Karena itu, sebagian seniman berusaha membebaskan diri dari kemurnian material dan teknik keramik. Keramik dipilih sebagai media untuk menyampaikan gagasan secara leluasa. Sayangnya, pendekatan ini juga punya risiko, yaitu bisa memandekkan pengembangan teknik keramik. Soalnya, dalam praktik seni rupa kontemporer, kekuatan karya tak ditentukan oleh teknik, melainkan oleh gagasan.
Dilema ini, kata Asmudjo, bisa dipecahkan dengan kerja keras seniman keramik. Satu sisi, seniman keramik dituntut tetap mengembangkan teknik keramik. Pada sisi lain, dia juga harus terus berusaha menawarkan sumbangan bagi pertumbuhan seni rupa kontemporer.
Identifikasi
Menurut Asmudjo dan Rifky, Jakarta Contemporary Ceramic Biennale #1 adalah biennale keramik dengan cakupan peserta dari Indonesia dan mancanegara yang pertama di Asia Tenggara. Jika benar demikian, tentu pameran ini telah memulai rintisan yang layak dilanjutkan. Di sini, penghargaan patut disampaikan kepada pengelola kawasan rekreasi Ancol, yang mau menjadi tuan rumah sekaligus sponsor utama perhelatan ini.
Budi Karya Sumadi, Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol, mengungkapkan NAS hendak mengisi kekosongan kegiatan yang belum banyak digarap galeri lain—yang lebih sibuk mengurus pameran seni rupa kontemporer.
”Kami ingin menjadi ruang alternatif sekaligus memperkaya kegiatan seni rupa di Indonesia,” katanya.
Sebagai biennale pertama, pameran ini telah menyodorkan peta cukup lengkap tentang perkembangan seni keramik di Tanah Air. Hanya saja, peta itu masih bersifat umum dan sebatas identifikasi awal yang belum menukik pada wacana tertentu. Jangan heran jika dalam pameran ini kita tak menemui konsep khusus yang ditawarkan kurator dan direspons semua seniman—sesuatu yang lazim diusung dan menjadi tolok ukur kekuatan sebuah biennale.
Ilham Khoiri & Putu Fajar Arcana
Sumber: Kompas, 10 Januari 2010
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/10/02553050/memetakan.geliat.seni.keramik
Memasuki lantai satu dan dua galeri North Art Space (NAS), pengunjung langsung disambut berbagai karya seni keramik. Jumlah seniman peserta pameran, yang berlangsung 19 Desember 2009-20 Januari 2010, mencapai 40 orang. Jumlah yang tidak kecil untuk ukuran seniman seni keramik. Tiga puluh seniman di antaranya dari Indonesia; 10 seniman dari mancanegara. Kurasi ditangani Asmudjo J Irianto dan Rifky Effendy.
Karya seniman dari dalam negeri ”dianggap” mewakili perkembangan seni rupa keramik Tanah Air selama tiga dekade: tahun 1980-an dan sebelumnya, tahun 1990-an, dan tahun 2000-an. Kehadiran 10 seniman asing seolah menjadi ”pemandu” untuk memahami perkembangan seni keramik dunia. Mereka adalah Aedan Harris (Australia), Mohd Roslan Ahmad dan Umibaizurah Mahirismail (Malaysia), Ahmad Abu Bakar (Singapura), Mirjam Veldhuis (Belanda), Krisaya Luenganantakul (Thailand), dan Hadrian Mendoza (Filipina).
Sebagian besar karya membeberkan narasi tentang betapa lenturnya keramik jika diolah dengan berbagai pendekatan. Jika disederhanakan, sebagaimana dicatat Rifky Effendy, ada tiga kecenderungan seniman memperlakukan karya keramik: sebagai lanjutan tradisi tembikar, sebagai patung, dan bagian dari seni instalasi.
Kecenderungan mengusung keramik sebagai kelanjutan dari tradisi membuat pottery alias tembikar terlihat pada karya AA Ivan WB, Ahadiat Joedawinata, Endros Sungkowo, kelompok Gaya Ceramic Center dari Bali, Hadrian Mendoza, dan Mohd Roslan Ahmad. Karya mereka mengacu pada bentuk-bentuk seperti gentong, bejana, atau botol yang bersifat fungsional. Para seniman masih mengejar eksplorasi teknik material tanah liat dengan mengandalkan keterampilan tinggi, mulai dari pengolahan bahan, pembentukan, sampai pembakaran.
Sebagai patung, keramik dibuat lebih personal, mengutamakan bentuk, dan menjadi obyek yang berdiri sendiri. Wujud karya bisa berbentuk manusia, binatang, tumbuhan, atau abstrak. Pendekatan semacam ini dilakukan oleh F Widayanto, Evy Yonathan, Noor Sudiyati, Krisaya Luenganantakul, Umi Baizurah, Mirjam Veldhuis, dan Lie Fhung.
Widayanto, misalnya, menghadirkan patung sosok Batara gendut tengah tertidur dengan teknik khas. Evy dengan patung kepala-kepala manusia. Noor lewat patung abstrak-dekoratif serta Krisaya dengan patung bunga dan hewan yang dekoratif.
Sebagai bagian dari seni instalasi, keramik diperlakukan secara lebih cair. Keramik didampingkan dengan material lain, ditata dengan merespons ruang, bahkan dipadukan dalam karya video art. Kecenderungan ini antara lain diungkapkan Titarubi, Nadya Savitri, Ponimin, Nurdian Ichsan, Tromarama, dan Herra Pahlasari.
Karya Tromarama dan Herra cukup menonjol karena memasukkan keramik sebagai perabot keseharian dalam video dengan narasi dramatis. Dalam karya berjudul ”Please, Let Us Have a Cup of Happiness”, Herra membuat instalasi serangkaian gelas teh yang pecah dan dirangkai ulang. Di depannya, terpampang video berisi pengalaman orang-orang yang pernah sakit hati dengan ilustrasi bunyi gelas pecah.
Kontemporer
Biennale keramik ini juga menggambarkan, seni keramik telah menjadi bagian dari ekspresi seni rupa kontemporer. Karya-karya keramik sebagai instalasi tadi menunjukkan, keramik tidak menemukan persoalan besar saat dijadikan bahasa visual untuk mengungkapkan konsep atau gagasan tertentu. Apalagi, sebagian seniman kontemporer di sini memang punya latar belakang akademis dari seni keramik.
Menurut Asmudjo, seniman keramik di Indonesia cukup beruntung karena mudah masuk dalam ranah seni rupa kontemporer. Seni keramik juga tak memikul beban dianggap inferior. ”Di negara lain, seperti Jepang atau China, seni keramik masih dianggap lanjutan dari seni tradisi. Di sana, keramik bukan bahasa visual yang lazim dipilih seniman kontemporer,” katanya.
Meski demikian, praktik seni keramik di sini masih belum lepas dari tegangan antara seni keramik sebagai kerajinan (craft) dan seni keramik sebagai ekspresi seni kontemporer. Sebagian seniman keramik masih sangat militan pada material tanah liat dan teknik pengolahan keramik sembari menolak mencampurnya dengan material lain. Masalahnya, sikap ini bisa memperlebar jarak seni keramik dengan seni rupa kontemporer yang bersemangat menerabas sekat disiplin seni.
Karena itu, sebagian seniman berusaha membebaskan diri dari kemurnian material dan teknik keramik. Keramik dipilih sebagai media untuk menyampaikan gagasan secara leluasa. Sayangnya, pendekatan ini juga punya risiko, yaitu bisa memandekkan pengembangan teknik keramik. Soalnya, dalam praktik seni rupa kontemporer, kekuatan karya tak ditentukan oleh teknik, melainkan oleh gagasan.
Dilema ini, kata Asmudjo, bisa dipecahkan dengan kerja keras seniman keramik. Satu sisi, seniman keramik dituntut tetap mengembangkan teknik keramik. Pada sisi lain, dia juga harus terus berusaha menawarkan sumbangan bagi pertumbuhan seni rupa kontemporer.
Identifikasi
Menurut Asmudjo dan Rifky, Jakarta Contemporary Ceramic Biennale #1 adalah biennale keramik dengan cakupan peserta dari Indonesia dan mancanegara yang pertama di Asia Tenggara. Jika benar demikian, tentu pameran ini telah memulai rintisan yang layak dilanjutkan. Di sini, penghargaan patut disampaikan kepada pengelola kawasan rekreasi Ancol, yang mau menjadi tuan rumah sekaligus sponsor utama perhelatan ini.
Budi Karya Sumadi, Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol, mengungkapkan NAS hendak mengisi kekosongan kegiatan yang belum banyak digarap galeri lain—yang lebih sibuk mengurus pameran seni rupa kontemporer.
”Kami ingin menjadi ruang alternatif sekaligus memperkaya kegiatan seni rupa di Indonesia,” katanya.
Sebagai biennale pertama, pameran ini telah menyodorkan peta cukup lengkap tentang perkembangan seni keramik di Tanah Air. Hanya saja, peta itu masih bersifat umum dan sebatas identifikasi awal yang belum menukik pada wacana tertentu. Jangan heran jika dalam pameran ini kita tak menemui konsep khusus yang ditawarkan kurator dan direspons semua seniman—sesuatu yang lazim diusung dan menjadi tolok ukur kekuatan sebuah biennale.
Ilham Khoiri & Putu Fajar Arcana
Sumber: Kompas, 10 Januari 2010
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/10/02553050/memetakan.geliat.seni.keramik