Kesaksian Edhi Sunarso
14 Mar 2010 23:08 Filed in: General
”Kau masih punya ’national pride’ enggak?” Itulah kalimat sakti dari Bung Karno setiap kali perupa Edhi Sunarso (78) menolak permintaan Presiden RI pertama itu secara halus. Sebagai orang yang terjun langsung dalam kancah revolusi fisik sejak masih sangat muda-belia, nasionalisme Edhi kemudian serta-merta menggemuruh. Artinya, ia siap menghadapi tantangan berikut….
Keriuhan lalu lintas dan kesuntukan hidup warga Jakarta membuat mereka tak menaruh perhatian terhadap monumen-monumen, seperti Patung Selamat Datang di Bundaran HI, Patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, dan Patung Dirgantara di Pancoran, Jakarta, apalagi diorama di Monumen Nasional (Monas) yang mulai kusam dan salah urus.
Jarang yang tahu kalau monumen-monumen itu dirancang oleh Edhi Sunarso atas ide Bung Karno pada masa-masa awal penancapan eksistensi negara dan bangsa Indonesia di mata dunia.
”Bung Karno berpikir, monumen itu penting bagi bangsa yang belum lama merdeka,” tutur Edhi Sunarso di kediamannya, Jalan Kaliurang, Yogyakarta. Rumah itu tampak lebih kuno dan sederhana dibandingkan dengan bangunan-bangunan lain di sekitarnya. Padahal, di situ, sekitar awal tahun 1960, Bung Karno bersama beberapa menteri, bahkan diikuti oleh sejumlah duta besar negara sahabat, pernah bertamu.
”Bung Karno duduk di situ,” tutur Edhi sembari menunjuk ruang depan rumahnya. ”Lalu beliau bilang, Dhi, rumahmu belum jadi… he-he-he,” tambah Edhi. Waktu itu rumah Edhi memang belum dipasangi ubin. Secara spontan Bung Karno memanggil seseorang dan memintanya memberi Edhi uang. ”Itu sekalian buat bayar patung ya…,” kata Bung Karno seperti dituturkan Edhi. Saat itu, Edhi diberi uang Rp 50 untuk menyelesaikan pembangunan rumahnya.
Akhir tahun 1958, Edhi dipanggil khusus oleh Bung Karno ke Istana. Ia diminta merancang Patung Selamat Datang di Bundaran HI untuk menyambut para atlet utusan negara-negara peserta Asian Games. Edhi keberatan karena Bung Karno minta agar patung itu dibangun setinggi 9 meter dan terbuat dari perunggu. ”Jangankan 9 meter, 10 sentimeter pun saya belum pernah buat patung dari perunggu,” tutur Edhi kepada Bung Karno di teras belakang Istana Merdeka.
”Kau punya national pride enggak?” tanya Bung Karno.
”’Punya!’’ jawab Edhi spontan.
”Aku tahu, aku pernah dengar kau dapat penghargaan dari London,” tambah Bung Karno.
Dialog
Dialog-dialog awal Edhi dengan Bung Karno di teras belakang Istana Merdeka pada pagi hari itulah yang kemudian melahirkan sejumlah monumen penting di Jakarta. Monumen-monumen itu menjadi tonggak untuk memperingati berbagai momentum penting dalam pergerakan negara yang baru berdiri, bernama Indonesia. Patung Selamat Datang kemudian diresmikan bersamaan dengan pembukaan Istora Senayan dan Hotel Indonesia pada 1960. ”Tetapi, tidak lagi untuk menyambut Asian Games karena muncul Ganyang Malaysia. Patung itu akhirnya untuk menyambut peserta Ganefo (Games of the New Emerging Forces), yang diikuti 144 negara berkembang,” kata Edhi.
Apa arti sejumlah patung yang Anda rancang pada masa-masa awal Republik ini jika dilihat dari kacamata sekarang?
Jelas semua itu merupakan tonggak-tonggak peringatan gerak perjuangan bangsa. Itu pertanda bahwa ada revolusi di negeri ini pada masa itu. Kini, jika kita mengingat itu semoga bisa membangkitkan semangat kita sebagai bangsa....
Apa yang selalu dikatakan Bung Karno saat-saat Anda mengerjakan monumen-monumen itu?
Hal yang paling mengharukan terjadi saat pembangunan Patung Dirgantara di Pancoran. Di tengah pembangunannya terjadi peristiwa Gerakan 30 September. Padahal, tanggal 30 itu saya dipanggil Bung Karno ke Istana. Sampai jam 12 siang saya menunggu, Presiden tidak datang. Sejak itu pembangunannya berhenti. Bung Karno baru memanggil saya lagi tahun 1967, dua tahun kemudian. Beliau tanya apakah patung sudah selesai, saya jawab jujur belum karena saya kehabisan uang. Memang, waktu itu bahkan rumah ini (Edhi Sunarso menunjuk sekeliling rumahnya) sudah disegel karena saya agunkan. Bung Karno memanggil Gafur, pembantunya, untuk kemudian memintanya menjual mobil pribadi. Kalau tidak salah nilainya Rp 1.250.000. Dengan uang itulah saya kemudian menaikkan patung ke landasannya.
Konon waktu itu ada tuduhan Bung Karno sedang membangun monumen Cukil Mata? Anda dengar langsung?
Itu malah Bung Karno yang menceritakan kepada saya. Kata Bung Karno, ”Dhi, mereka salah tangkap, aku maksudkan patung itu untuk peringati pahlawan bangsa. Kalau Amerika bangga dengan pesawatnya, kita bangga memiliki keberanian.” Landasan patung yang dirancang oleh Ir Sutami itu memang diisukan sebagai monumen cukil mata karena bentuknya yang konon mirip deres getah karet. Bung Karno bilang soal itu, ”Aku ingin menunjukkan kepada mereka bahwa mereka salah.”
Isu miring
Bung Karno ingin Patung Dirgantara segera diselesaikan untuk menepis isu miring seputar dirinya. Oleh sebab itulah meski dalam keadaan sakit dan menjalani tahanan rumah, Bung Karno tetap menyempatkan diri mengunjungi Edhi yang sedang bekerja di Pancoran. ”Tetapi, karena rakyat terus mengelu-elukannya, kunjungan itu kemudian dilarang. Dan, terakhir hanya jasad beliau yang melintas di bawah ketika saya sedang ada di atas patung,” tutur Edhi dengan suara parau. Seolah-olah peristiwa itu terpampang lagi di depan matanya.
”Saya langsung turun dan menyusul ke Blitar di mana beliau dimakamkan,” kata Edhi. Sampai kini, Patung Dirgantara tidak pernah diresmikan dan tidak pernah terbayar lunas pula.
Seingat Edhi, menurut hitung-hitungannya, pekerjaan membuat Patung Dirgantara akan menghabiskan biaya sekitar Rp 12.000.000. ”Tetapi, mungkin baru terbayar sekitar Rp 7.000.000,” kata Edhi sembari mewanti-wanti, ia tidak sedang berhitung untuk sebuah monumen bagi bangsa. Tetapi, itulah sejarahnya agar masyarakat Indonesia menyadari bahwa pembangunan monumen-monumen di Jakarta bukan hal yang mudah.
”Monumen itu bukan sekadar bangunan dengan patung dari perunggu, tetapi memendam nilai sejarah,” ujar dia.
Dalam pandangan Edhi monumen bahkan tidak sekadar tugu peringatan sebuah peristiwa. Ia menjadi simpul dari sejarah sosial dan kebangkitan suatu bangsa. Patung-patung yang ia rancang dan dirikan di Jakarta bukan pula sekadar landmark. Patung-patung itu memendam pahit getir perjalanan sebuah bangsa untuk bangkit dan meneguhkan diri di mata dunia.
Membuat monumen bagi Edhi sesungguhnya metamorfosis dari perjuangan fisik yang pernah dia lakukan sejak masih sangat belia. Sejak kelas lima di sekolah rendah, kira-kira berumur sekitar 13 tahun, Edhi sudah meninggalkan orangtuanya dan bergabung dengan para pejuang di daerah Subang, Jawa Barat. ”Saya bertugas sebagai kurir, tetapi ditangkap Belanda bulan Juni 1946. Saya ditahan berpindah-pindah, sampai akhirnya masuk penjara di Kebon Baru, Bandung,” tutur Edhi.
Jika mengingat semua itu, bagaimana perasaan Anda sekarang melihat perlakuan terhadap apa yang pernah Anda buat itu?
Saya pernah didatangi Pemda DKI untuk kemungkinan memindahkan Patung Pancoran. Saya bilang, saya tidak berani. Lalu, saya juga didatangi untuk memindahkan Tugu Tani, saya juga bilang tidak berani. Itu pemberian langsung dari negara Uni Soviet, kalau itu dipindah artinya menghina negara itu. Akhirnya memang semuanya tidak jadi.
Anda juga konon kecewa sekali dengan perlakuan terhadap diorama di Monas. Betulkah?
Memang yang paling hancur itu museum Monas. Monas itu museum diorama yang menampilkan perjuangan kemerdekaan. Bung Karno mengirim 28 sejarawan terkemuka negeri ini ke berbagai negara untuk belajar merancang diorama. Saya studi sampai ke Digul untuk konstruksi sebuah rumah. Itu perjalanan berat. Tetapi, sekarang malah cuma diurus oleh cleaning service. Bahkan, saya lihat catnya memakai cat kalengan biasa.... Saya kecewa.
Menurut Edhi, perlakuan buruk itu bukan semata-mata lantaran ketidaktahuan, melainkan kita sudah tidak pernah lagi menghargai sejarah. Warisan yang dibuat agar generasi berikut memahami, mengerti, dan menghayati sejarah perjuangan bangsanya malah diperlakukan dengan tidak hormat. Kegundahan Edhi barangkali terwakili oleh puisi Rendra berjudul ”Kesaksian”
Aku mendengar suara
Jerit hewan yang terluka
Ada orang memanah rembulan
Ada anak burung terjatuh dari sarangnya
Orang-orang harus dibangunkan
Kesaksian harus diberikan
Agar kehidupan bisa terjaga.
Putu Fajar Arcana & Wisnu Nugroho
Sumber: Kompas, Minggu, 14 Maret 2010
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/14/03564594/kesaksian.edhi.sunarso
Sekolah Tak Berijazah
Edhi Sunarso putus sekolah saat duduk di kelas V sekolah rendah. Ia memilih bergabung dengan pasukan pejuang di sekitar wilayah Subang, Jawa Barat. Bahkan, pada usia tak lebih dari 13 tahun, Edhi sudah menjadi komandan pasukan sabotase di enam wilayah, Pemanukan, Pegaden Baru, Subang, Kalijati, Segalaherang, dan Purwakarta.
”Tahun 1946 saya ditangkap Belanda, ditahan di berbagai markas sampai akhirnya masuk penjara Kebon Baru, Bandung, selama tiga setengah tahun,” tutur pematung yang menjadi pelopor penggunaan cor perunggu di Indonesia ini, akhir Januari 2010 di Yogyakarta.
Ketika di dalam penjara, Edhi mulai belajar menggambar dari para tahanan politik. ”Mulanya untuk mengisi waktu, tetapi kelak ternyata di situlah hidup saya,” katanya. Ia kemudian terlunta-lunta dalam perjalanan menuju Yogyakarta dengan maksud mencari induk pasukannya dan bertemu kembali dengan keluarga.
Di Yogyakarta ia justru bertemu dengan sekelompok siswa yang sedang belajar melukis di luar kelas. Diam-diam Edhi menyusup, tetapi seorang guru memergokinya. Bukan diusir, ia malah diterima sebagai siswa pendengar di ASRI Yogyakarta atas usulan pelukis Hendra Gunawan. Karena tidak memiliki selembar ijazah pun, Edhi kemudian diminta untuk mengikuti berbagai pelajaran penyetaraan agar ia bisa diterima penuh sebagai siswa ASRI.
Perjalanan Edhi sebagai seniman baru saja dimulai. Ia bertemu dengan pelukis-pelukis yang kelak mewarnai perjalanan seni rupa Indonesia, seperti Affandi, Hendra Gunawan, Trubus, CY Ali, Sucahyoso, Ali Basa, dan Rustam Aji. ”Saya lalu ikut mereka dalam perkumpulan Pelukis Rakyat,” tutur Edhi. Dan, proyek pengerjaan monumen pertamanya terjadi tahun 1952 saat disertakan dalam tim Pelukis Rakyat untuk mengerjakan Tugu Muda Semarang. Proyek ini pula yang membawa Edhi berkenalan dengan Bung Karno.
Saat Tugu Muda Semarang diresmikan tahun 1953, Bung Karno secara khusus memberikan selamat kepada Edhi. Edhi tak habis pikir, mengapa harus dirinya yang mendapatkan selamat. ”Belakangan saya baru tahu, ternyata selamat itu diberi karena saya menjadi pemenang kedua kompetisi patung internasional di London,” kata Edhi.
Perkenalan dengan Presiden RI pertama itu yang kemudian membawanya menggarap berbagai monumen yang menjadi tonggak-tonggak perjuangan bangsa, sekaligus menancapkan nama Indonesia di kancah pengakuan internasional.
Di luar itu semua, karya-karya Edhi Sunarso, seperti Patung Selamat Datang, Patung Pembebasan Irian Barat, dan Patung Dirgantara, kini menjadi landmark kota. Karya-karya itu memendam sejarah yang setiap saat memendarkan atmosfer kebanggaan kepada seluruh warga kota. Termasuk memberikan kesan mendalam kepada para pengunjung kota Jakarta dari berbagai daerah dan negara…. (CAN/INU)
Sumber: Kompas, Minggu, 14 Maret 2010
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/14/03571850/sekolah.tak.berijazah
Keriuhan lalu lintas dan kesuntukan hidup warga Jakarta membuat mereka tak menaruh perhatian terhadap monumen-monumen, seperti Patung Selamat Datang di Bundaran HI, Patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, dan Patung Dirgantara di Pancoran, Jakarta, apalagi diorama di Monumen Nasional (Monas) yang mulai kusam dan salah urus.
Jarang yang tahu kalau monumen-monumen itu dirancang oleh Edhi Sunarso atas ide Bung Karno pada masa-masa awal penancapan eksistensi negara dan bangsa Indonesia di mata dunia.
”Bung Karno berpikir, monumen itu penting bagi bangsa yang belum lama merdeka,” tutur Edhi Sunarso di kediamannya, Jalan Kaliurang, Yogyakarta. Rumah itu tampak lebih kuno dan sederhana dibandingkan dengan bangunan-bangunan lain di sekitarnya. Padahal, di situ, sekitar awal tahun 1960, Bung Karno bersama beberapa menteri, bahkan diikuti oleh sejumlah duta besar negara sahabat, pernah bertamu.
”Bung Karno duduk di situ,” tutur Edhi sembari menunjuk ruang depan rumahnya. ”Lalu beliau bilang, Dhi, rumahmu belum jadi… he-he-he,” tambah Edhi. Waktu itu rumah Edhi memang belum dipasangi ubin. Secara spontan Bung Karno memanggil seseorang dan memintanya memberi Edhi uang. ”Itu sekalian buat bayar patung ya…,” kata Bung Karno seperti dituturkan Edhi. Saat itu, Edhi diberi uang Rp 50 untuk menyelesaikan pembangunan rumahnya.
Akhir tahun 1958, Edhi dipanggil khusus oleh Bung Karno ke Istana. Ia diminta merancang Patung Selamat Datang di Bundaran HI untuk menyambut para atlet utusan negara-negara peserta Asian Games. Edhi keberatan karena Bung Karno minta agar patung itu dibangun setinggi 9 meter dan terbuat dari perunggu. ”Jangankan 9 meter, 10 sentimeter pun saya belum pernah buat patung dari perunggu,” tutur Edhi kepada Bung Karno di teras belakang Istana Merdeka.
”Kau punya national pride enggak?” tanya Bung Karno.
”’Punya!’’ jawab Edhi spontan.
”Aku tahu, aku pernah dengar kau dapat penghargaan dari London,” tambah Bung Karno.
Dialog
Dialog-dialog awal Edhi dengan Bung Karno di teras belakang Istana Merdeka pada pagi hari itulah yang kemudian melahirkan sejumlah monumen penting di Jakarta. Monumen-monumen itu menjadi tonggak untuk memperingati berbagai momentum penting dalam pergerakan negara yang baru berdiri, bernama Indonesia. Patung Selamat Datang kemudian diresmikan bersamaan dengan pembukaan Istora Senayan dan Hotel Indonesia pada 1960. ”Tetapi, tidak lagi untuk menyambut Asian Games karena muncul Ganyang Malaysia. Patung itu akhirnya untuk menyambut peserta Ganefo (Games of the New Emerging Forces), yang diikuti 144 negara berkembang,” kata Edhi.
Apa arti sejumlah patung yang Anda rancang pada masa-masa awal Republik ini jika dilihat dari kacamata sekarang?
Jelas semua itu merupakan tonggak-tonggak peringatan gerak perjuangan bangsa. Itu pertanda bahwa ada revolusi di negeri ini pada masa itu. Kini, jika kita mengingat itu semoga bisa membangkitkan semangat kita sebagai bangsa....
Apa yang selalu dikatakan Bung Karno saat-saat Anda mengerjakan monumen-monumen itu?
Hal yang paling mengharukan terjadi saat pembangunan Patung Dirgantara di Pancoran. Di tengah pembangunannya terjadi peristiwa Gerakan 30 September. Padahal, tanggal 30 itu saya dipanggil Bung Karno ke Istana. Sampai jam 12 siang saya menunggu, Presiden tidak datang. Sejak itu pembangunannya berhenti. Bung Karno baru memanggil saya lagi tahun 1967, dua tahun kemudian. Beliau tanya apakah patung sudah selesai, saya jawab jujur belum karena saya kehabisan uang. Memang, waktu itu bahkan rumah ini (Edhi Sunarso menunjuk sekeliling rumahnya) sudah disegel karena saya agunkan. Bung Karno memanggil Gafur, pembantunya, untuk kemudian memintanya menjual mobil pribadi. Kalau tidak salah nilainya Rp 1.250.000. Dengan uang itulah saya kemudian menaikkan patung ke landasannya.
Konon waktu itu ada tuduhan Bung Karno sedang membangun monumen Cukil Mata? Anda dengar langsung?
Itu malah Bung Karno yang menceritakan kepada saya. Kata Bung Karno, ”Dhi, mereka salah tangkap, aku maksudkan patung itu untuk peringati pahlawan bangsa. Kalau Amerika bangga dengan pesawatnya, kita bangga memiliki keberanian.” Landasan patung yang dirancang oleh Ir Sutami itu memang diisukan sebagai monumen cukil mata karena bentuknya yang konon mirip deres getah karet. Bung Karno bilang soal itu, ”Aku ingin menunjukkan kepada mereka bahwa mereka salah.”
Isu miring
Bung Karno ingin Patung Dirgantara segera diselesaikan untuk menepis isu miring seputar dirinya. Oleh sebab itulah meski dalam keadaan sakit dan menjalani tahanan rumah, Bung Karno tetap menyempatkan diri mengunjungi Edhi yang sedang bekerja di Pancoran. ”Tetapi, karena rakyat terus mengelu-elukannya, kunjungan itu kemudian dilarang. Dan, terakhir hanya jasad beliau yang melintas di bawah ketika saya sedang ada di atas patung,” tutur Edhi dengan suara parau. Seolah-olah peristiwa itu terpampang lagi di depan matanya.
”Saya langsung turun dan menyusul ke Blitar di mana beliau dimakamkan,” kata Edhi. Sampai kini, Patung Dirgantara tidak pernah diresmikan dan tidak pernah terbayar lunas pula.
Seingat Edhi, menurut hitung-hitungannya, pekerjaan membuat Patung Dirgantara akan menghabiskan biaya sekitar Rp 12.000.000. ”Tetapi, mungkin baru terbayar sekitar Rp 7.000.000,” kata Edhi sembari mewanti-wanti, ia tidak sedang berhitung untuk sebuah monumen bagi bangsa. Tetapi, itulah sejarahnya agar masyarakat Indonesia menyadari bahwa pembangunan monumen-monumen di Jakarta bukan hal yang mudah.
”Monumen itu bukan sekadar bangunan dengan patung dari perunggu, tetapi memendam nilai sejarah,” ujar dia.
Dalam pandangan Edhi monumen bahkan tidak sekadar tugu peringatan sebuah peristiwa. Ia menjadi simpul dari sejarah sosial dan kebangkitan suatu bangsa. Patung-patung yang ia rancang dan dirikan di Jakarta bukan pula sekadar landmark. Patung-patung itu memendam pahit getir perjalanan sebuah bangsa untuk bangkit dan meneguhkan diri di mata dunia.
Membuat monumen bagi Edhi sesungguhnya metamorfosis dari perjuangan fisik yang pernah dia lakukan sejak masih sangat belia. Sejak kelas lima di sekolah rendah, kira-kira berumur sekitar 13 tahun, Edhi sudah meninggalkan orangtuanya dan bergabung dengan para pejuang di daerah Subang, Jawa Barat. ”Saya bertugas sebagai kurir, tetapi ditangkap Belanda bulan Juni 1946. Saya ditahan berpindah-pindah, sampai akhirnya masuk penjara di Kebon Baru, Bandung,” tutur Edhi.
Jika mengingat semua itu, bagaimana perasaan Anda sekarang melihat perlakuan terhadap apa yang pernah Anda buat itu?
Saya pernah didatangi Pemda DKI untuk kemungkinan memindahkan Patung Pancoran. Saya bilang, saya tidak berani. Lalu, saya juga didatangi untuk memindahkan Tugu Tani, saya juga bilang tidak berani. Itu pemberian langsung dari negara Uni Soviet, kalau itu dipindah artinya menghina negara itu. Akhirnya memang semuanya tidak jadi.
Anda juga konon kecewa sekali dengan perlakuan terhadap diorama di Monas. Betulkah?
Memang yang paling hancur itu museum Monas. Monas itu museum diorama yang menampilkan perjuangan kemerdekaan. Bung Karno mengirim 28 sejarawan terkemuka negeri ini ke berbagai negara untuk belajar merancang diorama. Saya studi sampai ke Digul untuk konstruksi sebuah rumah. Itu perjalanan berat. Tetapi, sekarang malah cuma diurus oleh cleaning service. Bahkan, saya lihat catnya memakai cat kalengan biasa.... Saya kecewa.
Menurut Edhi, perlakuan buruk itu bukan semata-mata lantaran ketidaktahuan, melainkan kita sudah tidak pernah lagi menghargai sejarah. Warisan yang dibuat agar generasi berikut memahami, mengerti, dan menghayati sejarah perjuangan bangsanya malah diperlakukan dengan tidak hormat. Kegundahan Edhi barangkali terwakili oleh puisi Rendra berjudul ”Kesaksian”
Aku mendengar suara
Jerit hewan yang terluka
Ada orang memanah rembulan
Ada anak burung terjatuh dari sarangnya
Orang-orang harus dibangunkan
Kesaksian harus diberikan
Agar kehidupan bisa terjaga.
Putu Fajar Arcana & Wisnu Nugroho
Sumber: Kompas, Minggu, 14 Maret 2010
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/14/03564594/kesaksian.edhi.sunarso
Sekolah Tak Berijazah
Edhi Sunarso putus sekolah saat duduk di kelas V sekolah rendah. Ia memilih bergabung dengan pasukan pejuang di sekitar wilayah Subang, Jawa Barat. Bahkan, pada usia tak lebih dari 13 tahun, Edhi sudah menjadi komandan pasukan sabotase di enam wilayah, Pemanukan, Pegaden Baru, Subang, Kalijati, Segalaherang, dan Purwakarta.
”Tahun 1946 saya ditangkap Belanda, ditahan di berbagai markas sampai akhirnya masuk penjara Kebon Baru, Bandung, selama tiga setengah tahun,” tutur pematung yang menjadi pelopor penggunaan cor perunggu di Indonesia ini, akhir Januari 2010 di Yogyakarta.
Ketika di dalam penjara, Edhi mulai belajar menggambar dari para tahanan politik. ”Mulanya untuk mengisi waktu, tetapi kelak ternyata di situlah hidup saya,” katanya. Ia kemudian terlunta-lunta dalam perjalanan menuju Yogyakarta dengan maksud mencari induk pasukannya dan bertemu kembali dengan keluarga.
Di Yogyakarta ia justru bertemu dengan sekelompok siswa yang sedang belajar melukis di luar kelas. Diam-diam Edhi menyusup, tetapi seorang guru memergokinya. Bukan diusir, ia malah diterima sebagai siswa pendengar di ASRI Yogyakarta atas usulan pelukis Hendra Gunawan. Karena tidak memiliki selembar ijazah pun, Edhi kemudian diminta untuk mengikuti berbagai pelajaran penyetaraan agar ia bisa diterima penuh sebagai siswa ASRI.
Perjalanan Edhi sebagai seniman baru saja dimulai. Ia bertemu dengan pelukis-pelukis yang kelak mewarnai perjalanan seni rupa Indonesia, seperti Affandi, Hendra Gunawan, Trubus, CY Ali, Sucahyoso, Ali Basa, dan Rustam Aji. ”Saya lalu ikut mereka dalam perkumpulan Pelukis Rakyat,” tutur Edhi. Dan, proyek pengerjaan monumen pertamanya terjadi tahun 1952 saat disertakan dalam tim Pelukis Rakyat untuk mengerjakan Tugu Muda Semarang. Proyek ini pula yang membawa Edhi berkenalan dengan Bung Karno.
Saat Tugu Muda Semarang diresmikan tahun 1953, Bung Karno secara khusus memberikan selamat kepada Edhi. Edhi tak habis pikir, mengapa harus dirinya yang mendapatkan selamat. ”Belakangan saya baru tahu, ternyata selamat itu diberi karena saya menjadi pemenang kedua kompetisi patung internasional di London,” kata Edhi.
Perkenalan dengan Presiden RI pertama itu yang kemudian membawanya menggarap berbagai monumen yang menjadi tonggak-tonggak perjuangan bangsa, sekaligus menancapkan nama Indonesia di kancah pengakuan internasional.
Di luar itu semua, karya-karya Edhi Sunarso, seperti Patung Selamat Datang, Patung Pembebasan Irian Barat, dan Patung Dirgantara, kini menjadi landmark kota. Karya-karya itu memendam sejarah yang setiap saat memendarkan atmosfer kebanggaan kepada seluruh warga kota. Termasuk memberikan kesan mendalam kepada para pengunjung kota Jakarta dari berbagai daerah dan negara…. (CAN/INU)
Sumber: Kompas, Minggu, 14 Maret 2010
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/14/03571850/sekolah.tak.berijazah