Review

Tiga Eksplorasi Gerak Fitri Setyaningsih

Koreografer Fitri Setyaningsih menyuguhkan tiga repertoarnya. Eksplorasi gerak yang merespons gravitasi dan menyikapi dataran. Read More...

Fitri Menari Neruda

Fitri Setyaningsih mementaskan Penyusup dalam Tubuh. Entah apa yang ingin disusupkannya dalam tarian ini ke dalam benak penonton. Yang paling mudah dalam menulis catatan menonton seni panggung adalah dengan mendeskripsikan sekian adegan. Read More...

Merentang Eksplorasi Seni 40 Tahun

Sebuah pameran akbar merentang karya para seniman, pengajar, dan mahasiswa seni rupa dalam kurun waktu 40 tahun. Dari mulai instalasi, patung, lukis, disain busana, interior, ilustrasi, hingga multimedia dan scenografi atau tata artistik. M Memasuki ruang Grand Teater, Taman Ismail Marzuki, patung-patung baik ukuran kecil maupun besar tampak bertebaran memenuhi bagian tengah. Read More...

Ragam Kejutan Dunia Anak

Sebuah lukisan menggambarkan sejumlah orang yang sedang ditertibkan oleh aparat yang berwenang. Lukisan itu memberi sugesti kuat perihal realitas di jalanan yang menjadi pemandangan dalam hari tertentu. Dalam olah kreasi yang dihasilkan anak, gambar orang yang diuber-uber aparat yang berwenang bisa saja terkesan penuh canda. Sepertinya tidak ada ketercekaman di sana. Subversi visual pun justru terjadi: hal yang ”mestinya” tergambarkan secara mencekam justru hadir dengan nuansa lucu. Read More...

Keindahan "Enggak Keruan" Berjejal

Bermula dari acara kumpul-kumpul di sebuah rumah di bilangan Kemang Utara, Jakarta, yang melibatkan sejumlah orang dengan latar belakang profesi yang berbeda, terbentuklah semacam komunitas yang menamakan diri Jakarta Art Movement. Setelah satu tahun bertukar ide, acara kumpul-kumpul itu menghasilkan sebuah pameran seni rupa bertajuk ”The Second God” yang digelar di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 21-28 Februari 2010. Read More...

Konstatasi Ruang Kota dalam Seni Rupa

Ruang dalam kota adalah sebuah panggung bagi para penghuni kota. Panggung itu, antara lain, berupa mal, jalan, tempat hunian, kantor, alat transportasi, terminal, toilet di gedung DPR, dan sebagainya. Dalam panggung, para penghuni kota tak ubahnya para aktor yang tengah memainkan peran masing-masing. Peran yang dibawakan oleh para aktor itu tidak saja bergantung pada kelas sosial, tetapi juga negosiasi terus-menerus para aktor dengan ruang di kota tersebut. Ruang kota merupakan bagian yang tidak terpisahkan untuk melihat ekspresi sosial yang dibawakan para aktor. Bedanya, dalam teater, peran aktor bergantung pada naskah dan arahan sutradara, sedangkan dalam kota para penghuninya tidak sepenuhnya tahu naskah apa dan siapa sutradaranya dalam sandiwara kehidupan kota tersebut. Read More...

Kabar Rupa dari Sakato

Lebih dari seratus perupa Minang yang tergabung dalam Komunitas Seni Sakato Jogjakarta, selama 17-23 Februari 2010 bertempat di JNM (Jogja National Museum) dengan tajuk BAKABA memamerkan karya lukis, patung, dan instalasi. Jim Supangkat, Suwarno Wisetrotomo, serta Yasraf Amir Piliang yang menulis dalam katalog setebal 355 halaman berupaya mengajak kita menyelami para perupa Sakato. Read More...

Biennale, Anti-Barat, Kesadaran Semu

Biennale seni rupa terkadang butuh kenaifan. Pada saat-saat tertentu--seperti yang berlangsung dalam Jogja Biennale X-2009--ia bahkan sebuah kenaifan itu sendiri. Kenaifan itu sudah tentu berkenaan bukan dengan kebijaksanaan menumbuhkembangkan biennale sebagai tradisi kreatif yang berwibawa di jagat seni rupa dalam dan luar negeri, melainkan kebanalan pikiran yang bertendensi menafikan sejarah panjang perhelatan seni rupa dua tahunan ini dengan dalih ''memuliakan seniman'', ''menyapa masyarakat kebanyakan'', dan ''jangan lagi mengandalkan pola pikir Barat atau negeri mana pun''. Sebab, ''Jogja ya Jogja'' yang ''punya karakter'' dan local wisdom sendiri. Read More...

Biennale Jogja X-2009 Terjebak pada Stagnasi

Kehadiran Biennale Jogja sering ditengarai sebagai barometer perkembangan seni rupa Yogyakarta. Perhelatan besar yang digelar setiap dua tahun ini selalu disertai gesekan-gesekan ide dan dinamika kreatif. Upaya merespons ruang luar mewarnai semangat eksperimentasi perupa muda pada BJ X-2009. Read More...

Antara Ikut Tren dan Pencapaian Artistik

Dunia seni rupa kita memang masih ”dusun”. Itu antara lain yang disinggung kolektor Haryanto Hadikoesoema dalam pembukaan pameran ”Patung dalam Dimensi Lain” di Darga Gallery, Sanur, Bali, Minggu (13/12). Menurut Haryanto, dunia global sudah sangat menghargai karya-karya tiga dimensi, eh kita masih tetap saja memandangnya dengan sebelah mata dan tetap hanya mengagungkan seni lukis, itu pun dari jenis yang menggunakan cat minyak atau akrilik di atas kanvas. Apa yang disampaikan Haryanto sebenarnya telah diingatkan oleh pengamat seni rupa Sanento Yuliman (almarhum) hampir dua dasawarsa lalu dengan istilah ”pemiskinan” dan ”pendusunan”. Read More...

Biennale Jogja X Membongkar Arsip

”Jogja Jamming”, itulah judul yang dipakai dalam Biennale Jogja yang kesepuluh kali ini. Biennale Jogja yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali ini digelar sejak tanggal 11 Desember 2009 hingga 10 Januari 2010. Biennale kali ini dibagi dalam ”Kelompok Arsip” yang terdiri dari 10 kelompok seniman, ”Artists Interpretation” yang terdiri dari 127 perupa dan ”Public on The Move” yang terdiri dari 190-an kelompok seni dan individu yang memamerkan karyanya di ruang publik. Read More...

Lewat Mella, Kita Baca Indonesia

mellaApa kaitan pameran Mella, seniman kelahiran Belanda yang tinggal di Yogyakarta, dengan Sumpah Pemuda? Karya-karyanya mengusik perbincangan serius soal identitas dan keberagaman budaya Indonesia, yang masih kerap memicu persoalan di tengah masyarakat. Coba karya instalasi berjudul ”My Name is Michaella Jarawiri”. Ada 150-an koteka asal Papua dalam berbagai bentuk dan bahan dijejer di dinding. Di tengah ruang diputar dua video yang menayangkan cara masyarakat di sana membuat dan mengenakan koteka. Read More...

Tinggal Menunggu Kolektor

Pada akhirnya media hanyalah pilihan. Dari cat minyak sampai arang, dari kayu sampai baja antikarat, dari fotografi sampai seni rupa video, dari cukil kayu sampai cetak digital, dan seterusnya. Ketika sebuah karya seni rupa cat air tak membuat kita berpikir bahwa karya ini bisa lebih baik dibuat dengan cat minyak, ketika karya seni grafis cetak saring tak mengingatkan sebaiknya karya ini dibuat dengan cukil lino, bisa dibilang seniman tersebut memilih media yang pas buat dirinya. Inilah yang terkesan dari pameran karya para finalis Trienal Seni Grafis Indonesia III di Bentara Budaya Jakarta. Read More...

Agar Kesenian Tidak Terbelenggu

My Body” atau ”tubuhku” dalam perspektif perempuan agak terlalu mudah diterka: dia berada dalam ketegangan, terutama dalam relasi dengan pihak lelaki. Sikap tegang itu sejatinya mengancam menelikung ekspresi. Ya, ya, lalu apa? Apakah kemudian kita melulu mengisi gagasan-gagasan filosofis itu dengan ketegangan relasi dengan lawan jenis? Itulah yang secara sepintas segera terlihat dalam pameran bertajuk ”My Body” yang diselenggarakan oleh Andi's Gallery di Grand Indonesia Shopping Town, tanggal 14-25 Oktober 2009. Kurator pameran Hardiman dan A Anzieb. Pameran diikuti 43 perupa perempuan, dengan berbagai latar belakang maupun rentang umur berbeda. Read More...

Visual artists go on a second odyssey

heridonoSeventeen visual artists, plus one guest - all big names in Indonesia's contemporary art scene - are presenting their works in an ongoing exhibition in Yogyakarta. The "Second Odyssey" exhibition at Sri Sasanti Gallery Yogyakarta has a double meaning, marking both the journey of the gallery, which is celebrating its second anniversary, and an effort to challenge participating artists to showcase their second artistic development. Read More...

‘Beyond the Dutch’ opens in Utrecht

rsaleh
The exhibition “Beyond the Dutch” is a retrospective designed to give an insight into the influence of Dutch culture on Indonesian visual arts and vice versa. Curated by Meta Knol with the assistance of Enin Supryanto, the exhibition focuses on three periods, beginning with the colonial period around 1900, the period of decolonization and independence around 1950 and the present time, from about 2000. Read More...

Eddi Prabandono: A hidden story told in clay

This is a story of a father and his daughter. Eddi Prabandono, a 39-year-old artist from Yogyakarta has a very special relationship with his daughter Luz (now 4 years old), a relationship that has played a unique role in his development as an artist and has influenced his art in a way that perhaps he could never have imagined. The personal themes that he explores have resulted in touching yet impressive work, now being presented in a solo exhibition at Sigiarts Gallery in Kebayoran Baru, Jakarta. Read More...

Respons Terhadap Kengawuran

Mengenakan celana pendek dan sandal jepit, Heri Dono, 49 tahun, duduk di tanah sembari menekuk lutut. Ia sedang menyaksikan sebuah adegan penting: penangkapan Soeharto oleh Presiden SBY dan Wapres Jusuf Kalla. Meski ditangkap, penguasa Orde Baru itu tidak menampakkan ekspresi sedih. Soeharto justru menjulurkan lidahnya, mengejek. Sedangkan Pangeran Diponegoro menyaksikan adegan penangkapan itu dari atap bangunan sembari mengacungkan jari tengah tangan kanannya. Read More...

Wajah-wajah Karat ala Teguh

Bangkai-bangkai mesin milik Nikko Steel oleh Teguh Ostenrik digunakan sebagai materi patung yang berbicara mengenai ekspresi manusia--dipamerkan di Gedung Arsip Nasional, yang preview-nya mulai hari ini. Patung-patung itu semuanya disusun dari aneka potongan rongsokan baja dan besi karatan. Tema pameran berbicara tentang deformasi wajah. Sekali lihat, pada mulanya, kita susah menangkap adanya bentuk paras atau raut muka. Read More...

Wajah Kita Pada Besi Tua

Perupa Teguh Ostenrik (59) berpameran tunggal dengan tajuk ”deFacement” di Gedung Arsip Nasional, Jakarta, 25-29 April ini. Bermodal bahan besi tua, dia mengutak-atik beragam ekspresi wajah manusia. Apa menariknya? Ada sebuah patung unik berdiri di halaman tengah Gedung Arsip Nasional. Karya itu berupa potongan pipa besi panjang yang melengkung pada bagian atas dengan ujung ditancapi ratusan kawat besi yang semrawut. Di bawah kawat-kawat itu ada tempelan gir, potongan besi kecil, dan lubang menganga. Read More...

Membaca Elegi Artistik Nashar

Bahwa hidup pelukis Nashar (1928-1994) terapung dalam khaos dan penderitaan, banyak orang tahu. Hanya saja kenapa telaah terhadap perupa kelahiran Pariaman, Sumatera Barat, itu selalu menggunakan referensi Romantisisme—satu periode dalam telaah filsafat, di seputar akhir abad ke-18. Kalau menyimak karya-karya Nashar sambil mengenang kembali kehidupan perupa itu, akan merasa bahwa betapa unik beberapa simpul dalam perkembangan seni rupa Indonesia. Salah satu simpul sangat menarik tak pelak adalah Nashar. Read More...

Romance Comics of the 60s: A Short Lived Love Story

A scene from Tertiup Bersama Angin, one of the most prominent Indonesian romance comics of the 1960s, shows Alec, a rugged man with thick eyebrows, dejectedly covering his forehead with his hairy left hand. A beautiful woman, Inge, tries to console him, holding his arm. “Listen Inge, you don’t know who I am. Get away from me,” Alec says. Determined to have him, Inge replies, “I know who you are, Alec. You are a man who surrenders only to tenderness and is undeterred by ferocity.” Read More...

Memori yang Samar-samar

Sebenarnya seberapa detail kita mengingat sosok seseorang, terutama wajahnya? Jika dipandu fotografi, barangkali kita mudah mencirikan satu wajah dengan wajah lain. Namun, jika dibiarkan berimajinasi bebas, sebenarnya memori kita itu samar-samar saja. Pameran tunggal Erik Pauhrizi, ”Face Phantasmagoria” di Vivi Yip Art Room, Pejaten, Jakarta Selatan, 21 Februari-14 Maret, mencoba mengulik soal ini. Pergelaran menyajikan 10 lukisan cat minyak, enam lukisan cetak digital, dan satu seri cetakan di atas stainless steel. Kurasi ditangani dosen dan pengamat seni rupa dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Asmudjo J Irianto. Read More...

The Jakarta Biennale XIII: A Visionary Breakthrough

The Jakarta Biennale’s 13th edition is a breakthrough, a true fresh of breath air for the regional art scene. Its refreshing feel allows new visions to emerge with energizing art works by regional artists in their thirties. The official opening at the National Gallery on Feb. 7 marked a new phase in the Jakarta Biennale – and in the region – which has never before seen such youthful creativity showcasing Indonesian and regional art at its best. Curator Agung Hujatnikajennong, along with the Jakarta Arts Council, has succeeded in making the Jakarta Biennale into a show of far-reaching vision, presenting a unity of art works that stretches beyond national borders. Read More...

The Voice of Artists is Vox Dei

Hosted by Bentara Budaya Jakarta, nine top-notch artists showcase their works at an exhibition titled "Vox Populi", borrowing from the old proverb Vox populi, vox dei (the voice of the people *is* the voice of God). Semarang-based Tubagus P. Svarajati curates the exhibition, which will run until Feb. 12. Politically laden works of art are never shallow, Efix Mulyadi from Bentara Budaya Jakarta said in his foreword to the exhibition, which kicked off on Feb. 3. Efix referred to the memorable works of poet Rendra's pamphlet verses, Teater Koma's Opera Kecoa (Cockroach Opera) in the 1980s, and the pre-independent romantic-themed works of S. Sudjojono and Hendra Gunawan. Read More...

Koper Tua Sendirian di Taman

Satu koper kulit tua tergeletak sendirian di pojok meja kayu di pinggir taman Erasmus Huis, Kuningan, Jakarta Selatan. Beberapa pengunjung menghampiri. Ada yang mencoba duduk di kursi dekat meja, lantas mengamat-amati benda coklat lusuh itu. Di sisi taman lain, ada satu koper lagi yang ditaruh begitu saja di ujung bangku. Tas itu menganga-menutup, seperti bernapas. Beberapa orang berhenti, melongok-longok, mungkin bergumam penasaran: ada apa dengan koper ini?
Read More...

Yang Keren dan Terkendali

Siapa pun yang rajin nonton pameran seni rupa kontemporer tak akan heran ketika melihat karya seni yang terbuat dari benda sehari-hari seperti kursi, batu bata, lampu kelap-kelip plus efek ini itu, foto-foto, tulisan dan gambar oret-oretan di dinding, barang-barang bekas (asli dan tiruan), atau tayangan video yang berisi potongan-potongan adegan yang diulang-ulang dan sejenisnya. Benda-benda yang dirakit dalam bentuk tertentu itu lazim disebut seni instalasi. Almarhum Profesor Sudjoko punya istilah ”seni pepasang” buat seni semacam itu.
Read More...

Merupakan Driyarkarya

Kecuali namanya yang diabadikan sebagai nama sekolah tinggi filsafat di Jakarta, mungkin tak banyak orang di Indonesia sekarang yang tahu siapa Driyarkara atau Nicolaus Driyarkara. Baiklah kita kenang ia dalam kata-kata semenjana ini: Ia yang berkalang tanah dalam usia menjelang 54 tahun pada 11 Februari 1967—dan kini terbaring di permakaman Girisonta, Ungaran, Jawa Tengah—adalah sosok manusia yang sederhana, ramah, dan suka humor, sekalipun ia menyandang sejumlah gelar terhormat di bidang agama (Romo Jesuit), pendidikan (Rektor IKIP Sanata Dharma, guru besar luar biasa di Universitas Indonesia dan Hasanuddin), budaya (perintis filsafat di Indonesia), dan politik (anggota MPRS dan DPA). Read More...

Art and the Artless in 2008

The classic question asked -- perhaps for the zillionth time -- by Indonesian art critics in 2008 was: What is art? Certainly no one can give a succinct answer to such an open enquiry. To quote New Left thinker Theodor W. Adorno, "it is self-evident that nothing concerning art is self-evident anymore, not its inner life, not its relation to the world, not even its right to exist". The aim of the question here is to acknowledge the importance of art criticism in developing Indonesian contemporary fine arts in the face of a market bubble triggered by the soaring prices of Chinese artworks from 2007 to mid-2008. Read More...

A Sculptor's 'Black Dreams' of an Anti-Porn Nation

Sex and the human body in its naked form have become major concerns among Indonesia's predominantly Muslim population in the post-Soeharto era that is often hailed as an era of freedom. In recent years, there has been an urge to control "unbridled" sexuality at all cost, even though this means traversing the limits of the public and the private, the secular and the religious. Through his artworks which are on display at Taman Ismail Marzuki arts center's Galeri Cipta II, from Nov. 12 to 20, sculptor Ibnu Nurwanto aims to break the politico-religious discourse on sexuality by disturbingly exposing a center of sexuality: the phallus. Read More...

Pigura di Luar Penjara

Perupa kita memang terbiasa bekerja dengan bahan sejumput. Bertolak dari yang secuil, mereka mengarangnga rang atau mengembangkan gubahan visual atau sensasi artistik untuk menggugah yang indrawi. Imajinasi personal kiranya adalah alat ampuh untuk itu. Ya, imajinasi dan peristiwa diracik secara longgar, menurut ”logika imajinasi” seniman. Simsalabim, maka lahirlah karyakarya seni rupa yang menampilkan gambaran tokoh dan teks (ber)sejarah. Inilah pameran ”Dari Penjara ke Pigura”, yang diikuti 30 perupa (Jakarta, Bandung, Yogya, dan Bali), untuk menandai pembukaan Galeri Salihara di Jakarta (17 Oktober-6 Desember 2008). Read More...

Citra Kayu pada Logam

Pematung kontemporer Anusapati yang karya-karyanya mengisi ruang pamer antara era 80-90-an kini tampil kembali dalam pameran tunggal di Galeri Mon Decor, Jakarta, berlangsung pada 18-26 Oktober 2008. Pameran ”The Story of Tree” itu seperti menegaskan kembali kesetiaannya kepada pokok dan alam. Kary-karya Anusapati sebelumnya memang banyak menggunakan material lokal, antara lain kayu nangka dan mahoni. Jarang kita melihat pematung modern yang masih betah menggeluti material semacam itu, di tengah pelbagai pilihan material industri yang canggih. Read More...

Plastik dalam Olahan Dolorosa

Banyak yang menanti karya patung Dolorosa Sinaga saat menjelang dipamerkan di Galeri Nasional, Jakarta, pada Rabu (15/10). Selain merupakan pameran tunggal terbesar Dolorosa sejak tahun 2001, juga karena pematung ini menggunakan materi plastik. Dolo, panggilan Dolorosa, memamerkan 40 karya patungnya. Separuhnya berasal dari periode 2006-2008 ketika dia menemukan materi plastik. Lainnya terbuat dari perunggu, besi nir karat, dan tembaga.
Read More...

Arafura Craft Exchange Remembrance of Things Past

How fitting that an art exhibition dwelling on memory should be the subject of an exchange between Indonesia and northern Australia. There is a long history of trade between the North -- the Top End of Australia's Northern Territory, as it is called -- and Indonesia. It is a history barely known to the broader Australian public, but in the north, Australia's vast and last frontier, it is a constant point of reference. Read More...