General

Instalasi Gerak Bawah Tubuh Seniman Teater

Sebuah pertunjukan tari dengan tajuk “Selamat Datang Dari Bawah”, pada Jum’at (30/7) mulai dipentaskan koreografer Fitri Setyaningsih, salah satu dari lima koreografer tari wanita muda yang memperoleh grand program “Empowering Women Artist (EWA) dari Yayasan Kelola. Selain Fitri, empat wanita muda lain yang memperoleh grand adalah Naomi Srikandi, Maria Tri, Eno S serta Della. Read More...

Poros Jakarta Dalam Seni Rupa Kita

“Inilah yang saya sebut sebagai neurotisme dalam sejarah seni rupa Indonesia,” katanya. Bagi Aminudin, pernyataannya sekaligus untuk menggeser paradigm yang selama ini telah sedemikian mapan dalam percakapan mengenai sejarah seni rupa Indonesia. Yakni, bahwa hanya ada dua kecenderungan besar dalam seni rupa Indonesia, yakni Kubu Yogyakarta yang diwakili Sudjojono dengan Realisme Kerakyatannya dan Kubu Bandung dengan Abstraknya. “Neurotisme, Schizofrenisme, itulah kubu yang lain. Yang sama sekali tak pernah dianggap ada, namun nyata bisa dilihat pada generasi hari ini. ini saya sebut sebagai Kubu Jakarta dalam seni rupa Indonesia,” jelasnya. Read More...

Sisi Buram Dunia Anak Indonesia

Bertajuk Refleksi 30 Tahun Gerakan Anak di Indonesia, sejumlah dokumen dipamerkan di Jogja National Museum, Gampingan, Yogyakarta sejak 1-11 Juli. Ada lagu, gambar, foto, film, dokumen surat menyurat, buku, majalah, koran, poster, pakaian, atau juga benda- benda keseharian lainnya. Pameran ini dibangun dengan sebuah asumsi yang mencoba melawan kenyataan yang disebut oleh kurator pameran ini, Antariksa, sebagai situasi ketiadaan rujukan yang memadai mengenai sejarah persoalan-persoalan anak di Indonesia. Read More...

Ratusan Dokumen Anak-anak Dipamerkan

Ratusan cerita anak-anak dapat disaksikan melalui arsip yang dipamerkan pada 'Refleksi 30 Tahun Gerakan Anak di Indonesia' yang digelar di Jogja National Museum (JNM) sejak 1-5 Juli mendatang. Arsip-arsip yang terdiri dari tulisan, gambar, foto, audio, video dan lukisan karya anak tersebut merupakan rekam jejak gerakan anak yang dilakukan oleh berbagai organisasi dan para aktivis hak anak di Indonesia. Read More...

Pameran Arsip 30 Tahun Gerakan Anak Di Indonesia, Rujukan Sejarah Gerakan Anak Indonesia

Kalau lebih dari 350 arsip gerakan anak Indonesia dipamerkan, apa sebenarnya yang bisa dimaknai dengan hal tersebut? Apalagi jika ratusan arsip itu adalah rangkaian peristiwa dunia anak Indonesia selama 30 tahun terakhir? Pameran ini bisa menjadi rujukan sejarah persoalan anak di Indonesia. Itulah yang dicatat kurator pameran ini, Antariksa dari Indonesia Contemporary Art Network (ICAN) salah satu penyelenggara pameran. Read More...

350 Arsip Anak Dipamerkan

Sekitar 350 arsip yang terdiri dari tulisan, gambar, foto, audio, video dan lukisan dipamerkan dalam Refleksi 30 Tahun Gerakan Anak Di Indonesia n di Jogja Nasional Museum (JNM) Yogyakarta. Pameran digelar, Kamis (1/7) hingga 5 Juli 2010 mendatang. Arsip-arsip ditampilkan yang berisi rekam jejak gerakan anak yang dilakukan oleh berbagai organisasi dan para aktivis hak anak di Indonesia. Read More...

Kesaksian Edhi Sunarso

”Kau masih punya ’national pride’ enggak?” Itulah kalimat sakti dari Bung Karno setiap kali perupa Edhi Sunarso (78) menolak permintaan Presiden RI pertama itu secara halus. Sebagai orang yang terjun langsung dalam kancah revolusi fisik sejak masih sangat muda-belia, nasionalisme Edhi kemudian serta-merta menggemuruh. Artinya, ia siap menghadapi tantangan berikut…. Read More...

Aku Mau Dimadu

Aku mau dimadu. Guwe gak mau menopause, ingin terus subur. I want: art, great sex, Luis Vuitton. Gak enak kali ga bisa menikmati libido. Itu kan kenikmatan dalam hidup.” Beberapa petikan kalimat ”nakal” itu disusun bersama puluhan pernyataan lain dalam bahasa Indonesia, Inggris, Belanda, dan Jepang. Rentetan kata-kata itu disulam di atas kain putih yang dibingkai bundar berdiameter 1,5 meter. Sulaman dengan benang merah itu disusun membentuk gambar hati. Karya berjudul Private Invitation itu hasil kerja Octora, perempuan seniman lulusan Jurusan Patung Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB). Ini bagian dari pameran Landing Soon #6-#11 di Erasmus Huis, Kuningan, Jakarta, 20 Januari-18 Maret. Ada juga karya 12 seniman lain dari Indonesia dan Belanda. Read More...

Memetakan Geliat Seni Keramik

Selain menyuguhkan peta terkini perkembangan seni keramik di Indonesia, pameran Contemporary Ceramic Biennale #1 di North Art Space, Pasar Seni Ancol, menegaskan seni bermaterial tanah liat itu telah menjadi bagian pergulatan seni rupa kontemporer. Read More...

Seni Rupa (di Ruang) Publik

Semakin sering kita dengar dan saksikan tentang karya-karya seni rupa yang dihadirkan di ruang publik. Peristiwa ini sering kali memancing beragam respons publik, baik dari masyarakat luas maupun dari mereka yang mengaku sebagai para penghuni atau pengguna ruang-ruang publik itu. Contoh paling aktual adalah sejumlah peristiwa tentang penolakan (oleh aparatus pemerintah dengan mengatasnamakan masyarakat), pembongkaran, dan pemindahan sejumlah karya tiga dimensional yang dipasang di sejumlah sudut kota Yogyakarta. Read More...

'Kudeta' Jogja Biennale X

Perhetalan seni rupa dua tahunan berlabel Jogja Biennale yang kini memasuki bilangan kesepuluh (X) diselenggarakan mulai 10 Desember 2009 hingga 10 Januari 2010. Wahyudin, kurator terpilih melalui audisi yang diadakan Tamun Budaya Yogyakarta (TBY). mengajukan tema Gerakan Arsip Seni Rupa Jogja. Isu itu bertujuan apik memetakan perjalanan historis -bentuk karya (pencapaian artistik) dan gerakan yang pernah digagas (konsep estetik) para perupa Jogja kota utama seni rupa tanah air. Sayang, realisasi narasi gerakan arsip dalam perhelatan dicedari rivalitas yang dipicu ketegangan antara pemegang otoritas artists interpretation (karya yang dipajang dalam gedung pameran) dan public on the move (karya yang dipajang pada ruang publik). Read More...

Antara Penilaian dan Partisipasi Publik

Perhelatan Biennale Jogya kesepuluh, selain berupaya melibatkan publik yang seluas-luasnya, juga mengundang tafsir lain dari para pelakunya. Bagaimana polemik ini berlanjut? Read More...

Museum Berikan Paket Pelajar

Menjelang pencanangan 2010 sebagai tahun museum, 30 museum yang tergabung dalam Badan Musyawarah Musea DIY menyediakan paket khusus bagi pelajar. Paket berbentuk hiburan mendidik merupakan langkah reformasi museum Yogyakarta. Ketua III Badan Musyawarah Musea (Barahmus) DIY RM Donny S Megananda mengatakan, langkah ini dilakukan untuk menghapus citra buram museum yang masih melekat. Read More...

Nggendong Seni, Nggendong Jogja

Sepuluh buruh gendong yang biasa mangkal di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, menggendong 10 seniman mengelilingi keramaian kawasan titik nol Yogyakarta. Dalam gendongan Sukinah (64), ada Djoko Pekik, pelukis senior Yogyakarta. Di depannya ada Mijem (57) yang menggendong perupa Heri Dono. Tentu bukan Djoko Pekik ataupun Heri Dono betulan yang digendong keduanya. Mereka hanya menggendong karung berisi jerami yang permukaannya dilukisi wajah para seniman. Read More...

Menggugat Seni Publik, Mengabaikan Publik

Liem Goan Lay, pegiat kebudayaan yang bermukim di Solo dan pernah kuliah di Yogyakarta, menggugat seni publik yang makin hilang. Penetrasi politik kekuasaan serta kian menyusutnya ruang publik karena terdesak industri menjadi penyebab hilangnya seni publik itu. Gugatan atas makna seni publik disampaikan dalam kuliah umum Biennale Jogja X di halaman Gedung Bank Indonesia Yogyakarta, Sabtu (26/12). Di sebuah panggung kecil, di bawah gerimis, Goan Lay menyampaikan kuliahnya dengan berapi-api. Read More...

Merayakan Budaya Urban

Perjalanan seni rupa kontemporer Indonesia tahun 2009 membeberkan praktik yang semakin larut dalam perayaan budaya urban. Berbagai pameran digelar di mal sebagai pusat gaya hidup urban, tema diolah dari problem perkotaan, dan estetika visualnya pun tak jauh dari tampilan budaya pop. Apakah efek sampingnya? Awal tahun 2009 dibuka dengan situasi pasar seni rupa yang lesu. Ini adalah imbas dari krisis keuangan global yang menerpa dunia sejak pertengahan tahun 2008. Berbeda dengan booming pasar selama dua tahun sebelumnya, berbagai pameran dan kegiatan seni kini berkurang. Transaksi makin selektif.
Read More...

Sulit Bertahan tanpa Sponsor

Per Januari 2009 Rumah Seni Yaitu saya tutup," tutur Tubagus Svarajati, pemilik Rumah Seni Yaitu pertengahan November 2009. Keputusan itu akhirnya harus diambil ketika idealismenya dihadapkan pada realitas yang ada. Pertimbangan pertama jelas soal materi. Selama empat tahun ini saya terus menombok. Seharusnya tetap dapat bertahan kalau antusiasme para pelaku seni bangkit. Tetapi ternyata tidak. Selama empat tahun ini tidak ada perubahan berarti di Kota Semarang," ujar Tubagus prihatin. Read More...

Biennale Jogja rejects commercialism

The Biennale Jogja X 2009 kicked off over the weekend, pledging to steer from possible commercialism by, among others, not trading the exhibited works of arts, the event’s director Butet Kartaredjasa said. Speaking at the opening ceremony at the Yogyakarta Cultural Center (TBY), Butet said the pledge to strengthen the country’s oldest biennale, allowing creativity to prosper. “This is not about the arrogance of an artist,” Butet, a noted monologue performer, said. Read More...

Jogja Jamming

Setelah lebih kurang 21 tahun, sesudah sembilan kali perhelatan, Yogyakarta Biennale telah menjadi sebuah tradisi seni rupa yang memungkinkan masyarakat mengapresiasi perkembangan estetis dan pencapaian artistik para pelaku seni rupa di kota ini. Kemungkinan itu merupakan semacam jembatan kesempatan untuk merayakan tradisi ini dengan partisipasi. Tapi sejauh ini partisipasi itu masih dianggap bersifat fragmentaris—dan hal inilah yang kerap memunculkan kritik dari satu perhelatan ke perhelatan lainnya. Read More...

Dancing with Light on Canvas

sardono
Sardono W. Kusumo’s first solo painting exhibition is a visual feast. The event is titled “Choreography of Colours” in salutation to the artist’s unique painting methods as well as his celebrated career as dancer and choreographer. Curator Enin Supriyanto selected 15 paintings from over 120 completed works on canvas in Sardono’s home and studio. In selecting what he considers to be the pinnacle of the artists’ many styles, the curator presents the public with a retrospective of Sardono’s four decades of visual exploration. Read More...

Menyatukan Rupa dan Kata

Rest Me in Eternal Bliss (Istirahatkanlah aku dalam kebahagiaan abadi-red). Sepotong kalimat puitis milik John O’ Sullivan itu menghiasi sudut panel ketujuh dari seri lukisan Dream In karya Ida Bagus Indra. Disitu tampak wajah seorang penari perempuan dengan mata terpejam dan senyum di bibir merah menawan seperti menikmati ekstase spritual. Read More...

Deklarasikan Hari Kebudayaan, Para Seniman Akan Kumpul di Bandung

Sejumlah seniman bakal mendeklarasikan Hari Kebudayaan Nusantara 7 November mendatang di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung. Pernyataan itu untuk mengingatkan pemerintah tentang masalah budaya Indonesia.”Pendukung di (situs) Facebook sudah ada 3.300 orang,” kata panitia acara Ipong Witono di Bandung, Senin (25/10). Read More...

Lukisan Masriadi Berkibar di ArtSingapore Fair

Karya-karya I Nyoman Masriadi menjadi magnet dalam jagad seni lukis –khususnya Asia. Akhir pekan lalu, Balai Lelang Borobudur di Singapura berhasil melepas karya maestro lukis ini dengan nilai tertinggi. Sebuah lukisan Masriadi dengan judul “Book Lover” terjual S$588.000 atau sekitar Rp 3,5 miliar, merupakan nilai tertinggi di antara lukisan yang rata-rata laku S$200.000. Lukisan ini berukuran 1,4 meter kali 1,4 meter. Sementara Lukisan Masriadi lainnya, melalui Balai Lelang Sotheby yang berjudul “The Man from Bantul (The Final Round)”, tahun lalu laku di Hong Kong senilai HK$ 7,8 juta atau sekitar Rp 9,5 miliar. Read More...

Yogya’s Women Artists on the Move

Many women artists struggle with breaking out of conventional role models. “In our society, the artistic community in Indonesia is still very patriarchal”, said performance artist Arahmaiani. Together with art journalist, Carla Bianpoen and Dutch artist, Mella Jaarsma, Arahmaiani established “Senin Sore” (Monday Afternoon) meetings at Cemeti. “These meetings help women artists to develop more independently. We need to create a space where they can meet without being dominated and interrupted by men all the time”, Arahmaiani explained. The three senior art experts decided to form a monthly discussion forum to best fit the needs of their fellow artists, rather than an all female art exhibition they believe highlights the exoticism of women being artists above their art. Read More...

Proses Kerja: Seperti Menemukan Surga

Dari mana Teguh Ostenrik memperoleh besi bekas untuk membuat 50-an patung? ”Itu semua kebetulan,” katanya. Tahun 2007, Teguh bersama sekitar 50 seniman dunia diundang Pemerintah Daerah Penang, Malaysia, untuk membuat patung public art. Agar bisa membuat patung dengan biaya murah, dia mencari sponsor bahan dan peralatan. Read More...

Art and the City

Heteroginitas dan iklim kebebasan kota besar makin diyakini oleh sebagian orang sebagai sumber kreativitas. Dalam dunia seni rupa, pada masa lalu boleh jadi sejumlah seniman menyepi di Bali untuk mengais inspirasi. Kini, ketika seni kontemporer yang sering dihubung-hubungkan dengan conceptual art menjadi tren, atmosfer yang dibutuhkan seniman tampaknya bukan lagi sawah, gunung, dan gemericik air pedesaan, melainkan etalase mal, gedung-gedung tinggi, dan fountain di pusat kota. Di situ ada persilangan gagasan dari masyarakat yang campur aduk latar belakangnya. Read More...

Seni Rupa Kontemporer: Lebih Segar, Lebih Kritis

Kalau ingin melihat wanita-wanita dengan tas dan sepatu mahal, jangan ke fashion show , tapi ke art fair. Sebuah media memberikan petunjuk kenes itu ketika berlangsung Art Basel di Miami, Florida, AS, akhir tahun lalu. Memang demikian. Di hajatan seni rupa di mana saja, baik di Amerika, Eropa, Asia, mudah ditemui kalangan atas masyarakat berikut simbol konsumsinya yang wah dari pakaian, tas, sepatu, berikut kasak-kusuk dan gosipnya. Pada fashion show barangkali yang ditemui di acara cocktail adalah model yang usai memeragakan busana hanya mengenakan sepatu trepes dan jins. Dalam hajatan seni rupa semacam art fair ataupun biennale, yang muncul adalah para konsumen dari dunia konsumsi yang digelar di fashion show maupun butik-butik terkemuka. Read More...

Nashar, Irama Jiwa, dan Kolektor

Para pemuja Nashar, datanglah ke Galeri Nasional. Tataplah irama yang tertuang dalam kanvas. Tataplah irama angin, irama pasir, dan irama garis-garis ingatan. Berjalan dari satu lukisan ke satu lukisan lain dan resapkanlah dalam-dalam irama-irama yang disajikan. Akan terasa betapa irama itu sangat tak monoton. Dan kita pun sadar, kekayaan Nashar adalah ia mampu menangkap berbagai variasi ritme. Read More...

Menghidupkan Ancol

Pasar Seni Ancol, Jakarta Utara, kembali memberdayakan diri lewat pembukaan North Art Space. Galeri seni rupa hasil perombakan dari Galeri Pasar Seni Ancol lama itu diresmikan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Jumat (17/4) malam. Ruang pameran itu diharapkan mengangkat citra Ancol sebagai kantong seni budaya sekaligus memajukan seni rupa kontemporer Indonesia. Read More...

Dosa Lama Jangan Dilupakan

Apa yang bisa dilakukan seniman di tengah gemuruh pemilu legislatif dan kemudian pemilu presiden 2009 ini? Selain menggunakan hak pilih (tentu, bagi yang berminat mencontreng), seniman juga bisa ikut menggiatkan pendidikan politik lewat karya seni. Read More...

Dimensi Mekanis Sebuah Resleting

Berkat kerja sama S-14 dengan Magister FSRD ITB dan galeri Soemardja, Mella Jaarsma ”berbuka” pengalaman proses kekaryaannya dalam bentuk workshop dan kuliah umum pada tanggal 4-5 Februari 2009. Di tengah minimnya aktivitas presentasi dan diskusi dalam beberapa tahun terakhir, kegiatan yang berlangsung sebulan lalu itu masih relevan kita bicarakan. Acara disertai pameran bertajuk ”Zipper Zone-Master of Your Domain”, berlangsung sampai akhir Februari lalu di ruang S-14, sebuah ruang alternatif di jalan Sosiologi No 14, Cigadung, Bandung. Read More...

Mengenali Buah dari Pohonnya

Dilihat dari sudut pandang sistem, kedudukan, nilai dan harga suatu karya dalam pasar seni rupa akan bergantung pada variabel (tak terbatas) hasil kesepakatan (yang berubah-ubah) dari berbagai elemen utamanya, yakni otoritas dalam art world, seperti museum, galeri, akademi, media massa seni, seniman top, art dealer, balai lelang, kolektor, kritikus, peneliti, sejarawan seni, dan para kurator. Di situ pembentukan berbagai variabel beserta acuan-acuan yang mendasarinya tak dapat dijalankan secara parsial karena setiap elemen tak dapat dilepaskan dari kinerja keseluruhan elemen yang saling terkait dan bekerja secara koheren: jika satu elemen macet, akan mengganggu kinerja keseluruhan sistem, begitu juga sebaliknya. Read More...

Art Fair 2009 Still Seeing a Rosy Picture

The credit crunch and global financial crisis seem to be on another planet to art collectors here. Art Fair 2009 held in conjunction with the Jakarta Art Biennale is business as usual with bustling transactions and not the faintest hint of a financial crash around the corner. Art connoisseur Christiana Gow confidently said the financial crisis was having very little impact on the art market in the country. "No, the financial crisis is something else. I know people who love art as a hobby and an investment and they will go for it even at times when a lot of people say it's a bad time to buy." Besides, she says, like the flipside of a coin, even in a crisis there are people who still can take advantage of the soaring US dollar rate. Read More...

Billboard Art Adds Reflection to the City's Celestial Clutter

Taking advantage of a rare opportunity, artists are transforming Jakarta billboards from their traditional function as commercial advertisements to art that provokes viewers to think twice about their surroundings. Instead of being bombarded by messages pushing them to spend money, people passing the now-historic first modern mall in Indonesia -Sarinah Department Store on Jl. MH Thamrin, Central Jakarta - can see a billboard sporting an old photograph of a woman wearing the traditional kebaya and sarong and holding an umbrella. Artist Angki Purbandono used the anonymous portrait as an imagined image of former first president Sukarno's nanny, the inspiration behind the department store's name. Read More...

Spirit Kekinian

Boleh dibilang, Jakarta Biennale XIII 2009 ini adalah salah satu biennale terbaik yang pernah diselenggarakan di Indonesia—tentu dengan catatan beberapa kekurangan. Pencapaian ini merupakan hasil dari perjalanan biennale lebih dari 30 tahun, serta respons atas dinamika seni rupa Indonesia. Merujuk pengantar pameran Jakarta Biennale (JB) 2006 dan pengantar katalog JB 2009 (tulisan Direktur Eksekutif JB M Firman Ichsan), biennale pertama kali diselenggarakan tahun 1974. Namun, pameran itu dianggap terlalu memihak estetika lama sehingga memicu protes dari kelompok seniman muda yang mengusung pembebasan kreativitas seni rupa. Mereka tergabung dalam gerakan Desember Hitam 1974, kemudian Gerakan Seni Rupa Baru tahun 1975. Read More...

Restu Toying with Bubble Wrap

Entwining bubble wrap around bus stop handrails to entertain commuters is not something anybody normally does, except perhaps Jakarta artist Restu Ratnaningtyas. Her street art has been on display for a week (Jan. 31-Feb. 7) at the Dukuh-Atas Dua busway shelter in Central Jakarta, as part of the ARENA Jakarta Biennale 2009. "Everyone likes to pop bubble wrap," Restu says, "I started thinking, what could I put on the Transjakarta bridge to help people kill time? And then I thought of bubble wrap. I was thinking of putting some origami or bells but I didn't think everyone would be happy with that." Read More...

Yang "Mbentoyong" yang Keren, "Euy"...

Bayangkan jika seniman- kurator Asmudjo J Irianto yang sangat gaul itu tidak pake topi dan lupa berkacamata model anak band masa kini. Maka ia tampak sangat agraris pedalaman dan sama sekali tidak keren. Meski memaksakan diri setiap hari nongkrong di mal. Bayangkan pula jika pelukis kaya raya Nasirun yang pernah kuliah di ISI Yogyakarta tiba-tiba rapi, necis dan wangi serta menyetir sendiri mobil mewahnya. Keren bukan? Bukan seperti yang kita kenal selama ini hitam, dekil, gondrong awut-awutan, dan enggak pernah bisa nyetir. Tentu apabila Nasirun mau, bisa rajin ke salon untuk manicure-pedicure, spa, whitening, dan aneka perawatan lainnya. Bahkan ia bisa membayar kursus privat sekolah kepribadian, sekolah mengemudi, bahasa Inggris dan anger management sekaligus. Maka Nasirun tidak bakal ketahuan karakter agrarisnya meskipun sejatinya ia anak petani pedalaman. Read More...

Aminuddin TH Siregar: (Bandung) Art now -- or Never

To Aminuddin Tua Hamonangan Siregar -- curator and lecturer at the Bandung Institute of Technology (ITB) -- the time to prepare art students for dealing with the art market and breaking the taboo of introducing the subject in art schools is now. "If nothing is done, the first casualty of the booming art market will be art schools, because the market doesn't appreciate value; trend is the word. So a boom could likely corrode art schools. The impact has happened although my campus hasn't felt it; but I have heard cases where students have given up their studies because their work has given them a windfall," Aminuddin, better known as Ucok, said. Read More...

Mengingatkan Gagasan Driyarkara Lewat Kanvas

Salah satu cara yang ditempuh untuk mengangkat kembali pemikiran Diyarkara adalah dengan menggelar pameran seni rupa di kampus Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Dalam pameran yang bertajuk ”Membaca Kembali Driyarkara: Kemanusiaan, Pendidikan, Kebangsaan”, ada 45 perupa yang dilibatkan dan menggelar ratusan karya yang dipajang di Lantai 3-4 Gedung Administrasi dan lingkungan sekitar (halaman, tempat parkir, dan toilet) Kampus USD, hingga 17 Januari 2009. Read More...

Wacana Bangkrut, Kurator Gendut

Lampu terang-benderang menerangi ratusan lukisan dan karya seni yang berjejer rapi di ruang pameran Jogja Nasional Museum. Sedangkan di luar, puluhan banner sponsor menyesaki halaman bekas gedung Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), Gampingan, Yogyakarta. Pameran bertajuk "Highlight" ini adalah pameran yang mencoba merangkum "keberhasilan" Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta sebagai lembaga pendidikan seni tertua di Indonesia dalam melahirkan seniman dan kritikus seni. Pameran ini dilengkapi katalog yang dirancang sedemikian rupa sehingga terlihat mewah: kertasnya mengkilap dan tebal bak bantal. Pembukaan pameran pun sarat dengan pidato dan selingan musik. Semua terkesan rileks dan mewah, tak terasa kita sedang dilanda krisis. Pameran dengan ambisi semacam ini beberapa kali digelar pada 2008. Ada Pameran Manifesto di Galeri Nasional Jakarta pada Mei 2008. Pameran Manifesto itu juga bermaksud membeberkan "kemajuan" atau pencapaian seni rupa Indonesia dengan embel-embel memperingati 100 tahun kebangkitan nasional. Serba besar dan megah, tapi sekaligus kosong dari sisi wacana. Read More...

Apa yang Dihasilkan Pasar?

Apa yang dihasilkan ”booming” pasar seni rupa kontemporer di Indonesia dua tahun belakangan? Pameran bertubi-tubi, transaksi marak, dan para perupa serta pengelola galeri tambah sejahtera. Namun, ternyata pasar tak lebih jauh melahirkan infrastruktur seni rupa yang berorientasi lebih panjang, termasuk membangun infrastruktur pasar itu sendiri. Read More...

Seniman Juga Perlu Kenal Filsuf

Tidak semua gagasan Driyarkara mampu ditafsirkan oleh setiap orang, termasuk seniman. Banyak perupa yang belum mampu mengungkapkan gagasan Driyarkara dengan jelas dan menuangkannya dalam karya seni. Hal itu yang tertangkap di diskusi Membaca Driyarkara Lewat Rupa di Universitas Sanata Dharma (USD) pada Sabtu (20/12). Hadir sebagai narasumber St Sunardi, pengajar Magister Ilmu Religi dan Budaya USD. Read More...

Dari Ruang Pamer hingga Tempat Diskusi Para Seniman

Tujuan utama keberadaan galeri dan juga rumah seni adalah menjadi ruang presentasi dan apresiasi seni bagi seorang perupa yang memamerkan karyanya kepada masyarakat. Galeri dan juga rumah seni juga berfungsi komersial, yaitu menjadi tempat bertemunya seniman dan kolektor. Namun, Taufiq Dahara mendirikan Galeri Dahara pada 10 November 2005 lebih untuk menyediakan ruang presentasi perupa dan bukan sebagai ruang komersial. "Sedari awal kami sepakat bahwa galeri ini tidak akan berorientasi pada keuntungan. Kami ingin menampilkan karya perupa yang berdedikasi terhadap seni itu sendiri," katanya. Read More...

Membuka Galeri, Bangkitkan Seni

Kehidupan seni rupa di Semarang seolah hidup kembali. Hampir setiap minggu ada pameran seni rupa. Bahkan, beberapa waktu lalu sekelompok seniman mengadakan pameran lukisan luar ruangan bertajuk "Project Seni Rupa Outdoor Kota" di kawasan Kota Lama Semarang. Sesuatu yang sama sekali tak terbayangkan sebelumnya di Semarang. Meski belum bisa disejajarkan dengan Kota Solo dan Yogyakarta, kehidupan seni rupa di wilayah ini mulai menampakkan kemajuan. Hal ini seiring dengan bertumbuhnya galeri dan rumah seni di Semarang dan sekitarnya sejak tiga tahun terakhir. Read More...

'Sagacity' Leads to Politics in Indonesian Art

Noted art critic Jim Supangkat argues that Indonesian art was never modernized in the way of Western art. That, he says, is why Indonesian art tends to be political in nature, for its artists perceive art as a cultural practice that stems from their inner senses. Speaking at a small discussion at Komunitas Salihara in South Jakarta on Tuesday, Jim proposed a new term to describe the basic character of Indonesian art: Sagacity. Read More...

Driyarkara dalam Sebuah Karya

Guru miskin kita prihatin, guru kaya kita bertanya. Tulisan itu tertulis jelas di sebuah lukisan yang diberi judul “Trilogi Pensil Hitam: Guru Miskin Kita Prihatin, Guru Kaya Kita Bertanya”. Tanpa tedeng aling-aling, lukisan itu jelas ingin bercerita tentang nasib para pendidik di negeri Indonesia. Sang pelukis Hari Budiono mencoba menggambarkan betapa misteriusnya dunia pendidikan tanah air. Rumit, susah, dan kadang tanpa solusi. Trilogi Pensil Hitam adalah salah satu karya yang dipamerkan di kampus Universitas Sanata Dharma, Mrican, Jogja yang mengangkat tema Gelar Perupa Pendidik, Membaca Kembali Driyarkara: Kemanusiaan, Pendidikan, Kebangsaan. Read More...

New Tembi House Program Aims to Assist Young Artist

For the past eight years, the cultural institution Tembi House of Culture has been active in preserving traditional Javanese art and culture. It also supports Indonesia's contemporary arts as it not only provides exhibition space for traditional artifacts but also for modern art, including paintings and sculptures. Besides exhibiting art, the Tembi House of Culture also focuses on documenting Javanese traditional and contemporary culture and Indonesian modern art (www.tembi.org). Read More...

Helena Spanjaard: Highlighting Hidden Masterpieces

The Bogor Presidential Palace in West Java could be a magnificent National Museum of Modern Art with "the Sukarno collection as its crowning jewel". At least that is the opinion of leading Indonesian art historian and author of Indonesian Odyssey (Equinox Publishing, Asia), Helena Spanjaard, who spoke with The Jakarta Post prior to the recent launch of her book at the Ubud Writers and Readers Festival in Bali. Read More...

Remembering Salim: Sept. 3, 1908 - Oct. 13, 2008

On Wednesday Oct. 15 I opened an email from Barbara Brouwer informing me that the Indonesian painter Salim had died. Barbara's husband, the Batak poet Sitor Situmorang, was a close friend of the painter. Although Salim was more than a hundred years old and had lived a full life, I will miss him. Particularly his distinctive voice. I will no longer be able to dial his number in Neuilly, next to Paris, and just chat about this and that. Read More...

Local Restorers Have Yet to Gain Credibility

Despite human resource and funding restraints, the city's Conservation Institute can offer conservation services to private collectors and other museums. The institute also invites the public to learn the basics of conservation at its Central Jakarta workshop. However, some private collectors still doubt the institute's ability to conserve cultural and historical collections. Read More...

Contemporary Art Events Get Asia buzzing

This week, East Asian biennials, triennials and art fairs will see a stream of art lovers and observers visit Asia cities like Gwanju, Busan, Shanghai, Singapore, Taipei, Nanjing and Yokohama, making East Asia a major destination on the international art circuit. Read More...

A Decade of Selasar Sunaryo: Questioning Art(ist)

The Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) in Bandung marked a decade of presence in the country's art scene last week. The anniversary, celebrated in a low-key ceremony, leaves a lingering question: Where is the gallery heading? SSAS celebrated with an exhibition, "Redefining Art", involving 33 artists and two artist groups as well as the launching of an accompanying monograph, A Decade of Dedication: Ten Years Revisited. Read More...

Masa Depan Seni Rupa Kontemporer di Asia

“Sewaktu saya menjadi direktur, saya merestrukturisasi dan mengembangkan Art Basel menjadi ajang penting sebagaimana dikenal sekarang. Saya juga membentuk dan meluncurkan Art Basel Miami Beach, yang segera menjadi pasar seni kontemporer penting di Amerika. Namun itu semua masa lalu.” Itu dikemukakan Lorenzo Rudolf, Fair Director Shanghai Contemporary, dalam pertemuan dengan kalangan seni rupa Indonesia yang terdiri dari para seniman, kolektor, para pemilik galeri, dan pencinta seni. Read More...

Seni Media di Negeri Makmur

Simposium Seni Elektronik Internasional Ke-14 (ISEA 2008) di Singapura berlangsung dari 25 Juli hingga 3 Agustus lalu. Hajatan seni ini menggelar puluhan karya berbasis teknologi media (baru), yang tersebar di sejumlah venue, seperti Museum Nasional, Substation, dan sekolah seni La Salle yang berarsitektur megah serupa lampion raksasa. Dari sesi konferensi, dibahas lebih dari 300 makalah. Menyoal internet yang mengintervensi (hacktivisme), feminisme di ruang maya, seni animasi, hingga hukum dan hak cipta digital. Read More...

Indonesia Art Award 2008 Bagi Seniman Muda

Sebanyak lima seniman muda Indonesia di Jakarta, Minggu (6/07) meraih penghargaan "Indonesia Art Award 2008" atas karya seni kontemporer mereka yang orisinal, menggunakan media penciptaan yang baru, memiliki berbagai kelebihan di berbagai sisi, dan tidak meninggalkan kaidah seni rupa. Read More...

Revolusi Belum Selesai!

Karya seni macam apa yang ditampilkan Sanggar Bumi Tarung dalam pameran ke-2 di Galeri Nasional, Jakarta, 19-29 Juni? Pameran oleh sanggar yang didirikan di Yogyakarta 47 tahun lalu itu menawarkan catatan sejarah yang penting. Banyak karya yang mengangkat pengalaman seniman saat ditangkap, diinterogasi, dipenjara sebagai tahanan politik, atau dikucilkan masyarakat. Terkadang, semua itu diungkapkan dengan gamblang. Read More...

Mengagumi Manekin dalam Ruang Kaca

Di pintu ruang pameran Taman Budaya Yogyakarta terpampang tulisan, ”Bismillah, Payu Kabeh. Amin”. Kira-kira artinya, bismillah, semua laku, Amin. Sudah pasti tulisan itu tidak sekadar berhenti sebagai doa pengharapan penyelenggara Jogja Art Fair (JAF) #1, 15 Juni-7 Juli 2008. Lebih dari itu, pameran seni rupa yang tak tanggung-tanggung melibatkan 200-an lebih seniman itu, dengan terus terang disiapkan sebagai bursa karya, artinya mengutamakan jual-beli atau merebut pasar. Read More...

Indonesian Contemporary Art Still Unnoticed in Global Art Discourses

Indonesian contemporary art is apparently still unheard of abroad, especially in Europe. When Friedhelm Huette, the global head of art at Deutsche Bank who manages hundreds of fine art events, came to Jakarta to open "Expose *1", an exhibition of Indonesian contemporary art held by the bank and Nadi Gallery at the Four Seasons Hotel recently, he was virtually speechless over the art works on display. Read More...

Ingar-bingar Mencari yang Kontemporer

Apa yang dapat kita petik dari pameran bertajuk ”Manifesto” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 21 Mei-15 Juni ini? Selain ingar-bingar dari sebuah perhelatan yang melibatkan 354 seniman di Tanah Air, pergelaran ini mungkin cukup mencerminkan, bagaimana para seniman bergairah untuk terus mencari bahasa visual yang paling mewakili semangat kontemporer zaman ini. Read More...

Seni, Seni Rupa, 'Art'?

Tema ’Manifesto’ ini adalah pernyataan bersama lebih dari 350 orang peserta pameran yang mengukuhkan pengertian ’seni’ dan ’seni rupa’.” Demikian potongan catatan pada pengantar kuratorial dalam katalog sementara pameran ”Manifesto” di Galeri Nasional Jakarta, 21 Mei-15 Juni 2008. Jim Supangkat, salah satu dari empat kurator pameran, mempertegas, perhelatan besar ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa praktik ”seni rupa” di Indonesia berbeda dengan ”art” yang berkembang di Barat. Di Barat, nilai art terletak pada karya, bukan pada orangnya. Pengertian itu merujuk pada filsafat estetika Immanuel Kant abad ke-19. Read More...

An Asian Art Moment: Indonesia’s Contemporary Painters Ride a Market Bubble

Thirty years ago a young painter named Ronald Manullang followed his heart, joining the avant garde of Indonesia’s artists and producing fresh new images. Nobody wanted them. “I was hungry, I needed money,” he said in a recent interview. “So I quit and went into advertising.” But in the past year, Indonesian art has caught fire on the international market, and collectors, galleries and auction houses are buying up everything they can. Mr. Manullang, now 54, is painting again, and he is making money. “It’s a very strange time,” he said. “It used to be we couldn’t sell any of our paintings. Now the collector needs that painting very badly. Before the painting is ready, they already come to my house and ask the price.” Whatever the price, it is cheaper than Chinese art, and that is what it is all about. Chinese art is hot now and commanding huge prices. In a sort of trickle-down effect, collectors are looking to Indonesia as the next Asian tiger. Read More...