Event
Tantangan Institusi Penyandang Dana dan Jaringan Asing: Evolusi dan situasi mereka akhir-akhir ini di ranah seni dan kebudayaan Yogyakarta
14 Aug 2010 16:08
Diskusi, yang menjadi bagian dari acara pameran FrenchConnection.id ini menitikberatkan tujuan untuk menyoroti peranan institusi-institusi dan penyandang-penyandang dana asing dalam mempromosikan budaya lokal dan ekspresi seni di Yogyakarta | Kamis, 19 Agustus 2010, jam 17.30 WIB. Lembaga Indonesia Prancis, Jalan Sagan 3 Yogyakarta Read More...
Pameran tunggal dan peluncuran buku Edhi Sunarso
12 Aug 2010 16:47

Edhi Sunarso, 78 tahun, adalah pematung modern Indonesia pertama yang mencetak karyanya dengan bahan logam. Ia memulai karirnya dari seni pahat batu dan kayu di Sanggar Pelukis Rakyat, tetapi kemudian mengembangkan patung dengan teknik cor logam. Meski banyak membuat karya-karya personal, ia lebih dikenal sebagai pematung dengan karya-karya publik. Karya-karya publiknya tersebar, terutama di Jakarta, antara lain patung “Selamat Datang”, “Pembebasan Irian Barat”, “Dirgantara”, dan diorama Monumen Nasional. Read More...
Awal adalah Akhir
12 Aug 2010 16:46

Awal Adalah Akhir merupakan sebuah pameran dari penelitian yang sedang berlangsung oleh Fulbright Fellow dan Allison Leigh Holt, seniwati residensi Cemeti. Diawali pada tahun 2008 dan sekembalinya ke Jawa pada tahun 2009, Holt secara independen meneliti metafisika Jawa dan kognisi, seperti halnya metode tradisional yang memungkinkan manusia untuk mengalami realitas melampaui batasan-batasan persepsi manusia normal. Menjalani residensi di Cemeti sejak bulan Maret hingga Juli, Holt bekerjasama dengan beberapa artisan lokal menciptakan suatu bentuk karya baru: menggunakan diagram-diagram dan video/patung, menjelajahi bagaimana konsep-konsep tersebut bersilangan dengan visinya sendiri, yang juga terinformasi oleh batasan samar antara teori ilmiah yang ada dan fiksi ilmiah | Pameran berlangsung pada tanggal 11 - 25 Agustus di Rumah Seni Cemeti Read More...
Strategi Alternatif Membaca Isu Gender dalam Karya Seni Rupa
12 Aug 2010 16:41
Jumat, 13 Agustus 2010, 16.00 WIB. Rumah Seni Cemeti, Jl. D.I. Panjaitan No.41 Yogyakarta | Selama Bulan Juni – Agustus 2010 di IVAA (Indonesian Visual Art Archive) telah kedatangan seorang kurator-peneliti: Wulan Dirgantoro. Wulan sedang mengerjakan penelitian lapangan di Indonesia untuk tulisan disertasi doktoralnya di the School of Asian Languages and Studies, University of Tasmania, Australia. Disertasi Wulan banyak mengeksplorasi teori feminis sebagai kerangka analisisnya, terutama untuk melihat dunia seni rupa Indonesia. Kajian feminisme sendiri telah lama menjadi bidang studi yang dipelajari Wulan, misalnya tercermin dalam proyek kuratorial tahun 2007, Intimate Distance: Tracing Feminism in Indonesian contemporary art di Galeri Nasional, Jakarta, bersamaan dengan peluncuran Buku Indonesian Women Artists: The Curtain Opens. Read More...
Outside-In: Solo Exhibition of Mie Cornodeus
21 Nov 2009 18:04

23 Nov - 10 Dec 2009, MES56 Jl. Nagan Lor 17 Yogyakarta
Kami mengagumi Mie Cornoedus karena pertemanan dan relasi yang dia ciptakan sangat mendukung aktivitas seniman muda Jogja sampai sekarang ini. Alasan yang kuat bisa kita lihat aktivitasnya dengan ViaVia Café yang berdiri sejak 1995 sampai sekarang. Semua eksperimen seni yang baru atau yang sudah dianggap kuno sekalipun selama ini berhasil dipresentasikan dengan baik oleh Mie dan teman-temannya di Jogja. Tempat yang dia kelola berhasil menjadi sharing dan meeting place dari berbagai budaya di segala penjuru dunia dengan cara yang unik. Read More...
Deer Andry
05 Nov 2009 19:30

7-19 November 2009, MES 56 Jl. Nagan Lor 17 Yogyakarta
Andry Mochammad adalah salah satu perupa muda yang dikenal luas di berbagai komunitas seni di berbagai kota. Karya-karyanya mewakili kecenderungan praktik seni alternatif. Sosok yang dikenal santun bagi para sahabatnya ini belajar di jurusan Seni Rupa, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung dan pernah bekerja sebagai desainer grafis pada majalah “Ripple”, pusat kebudayaan Perancis (CCF), dan clothing line “Firebolt”. Read More...
Kisah Wajah: Gatot Pujiarto's Solo Exhibition
03 Nov 2009 15:05
Gatot Pujiarto memiliki ketertarikan untuk merekam pelbagai kisah dalam wajah orang-orang. Wajah kata Gatot meski terlihat, sering ada yang tersembunyi dan disembuyikan. Ambivalensi antara tampak dan sembunyi, diperlihatkan dan ditutupi, antara komedi dan tragedi, menjadi daya tarik tersendiri baginya. Pameran Kisah Wajah adalah jejak dari upaya Gatot untuk menyaksikan ambivalensi wajah serta menuturkan dalam karya rupanya. Read More...Wimo Film and Video Festival
27 Oct 2009 01:09

Mungkin sebetulnya agak terlambat, ketika Kedai Kebun mengadakan acara Wimo Film and Video Festival sebagai salah satu manifes program do it yourself festival-nya. Pasalnya, Wimo sendiri sebetulnya aktif membuat karya-karya videonya pada tahun 2000-2007. Saat ini Wimo sedang asyik bermain-main kembali ke roots-nya yaitu fotografi. Ketika di tahun 2000-an ia menggunakan medium video pun, itu disebabkan karena situasi dan kondisi yang akan lebih efisien dan ekonomis bagi seorang mahasiswa yang tak kunjung jua lulus di ISI. Fotografi sebagai sebuah hobi maupun profesi memang membutuhkan dana yang lebih besar. Sementara dengan medium video, bermodal handycam dan satu buah kaset mini DV, ia bisa merealisasikan lebih banyak ide yang carut marut di kepalanya. Read More...
Giving: Pameran Tunggal Pras
02 May 2009 10:28

Subjek lukisan Pras adalah realitas keseharian dari alam, baik manusia, hewan maupum alam benda. Pras mengemukakan bahwa berbagai objek di lingkungan sekitar kita merupakan salah satu cerminan hubungan antara manusia dengan alam. Kemampuan manusia dalam hal mencipta sesuatu dari alam berguna untuk berbagai sendi kehidupan semakin berkembang maju. Begitu pula sebaliknya, kemampuan untuk mengahancurkannya, berkembang pula. Read More...
Love: Pameran Tunggal Made Wianta
04 Mar 2009 15:45

Pelajaran yang dipetik Wianta dari Jung adalah ia sebagai perupa hendaknya kuasa melampaui wujud-wujud naratif permukaan, guna menggali dan mengekspresikan lapis demi lapis arketip formal yang melatari tampilnya aneka wujud rupa. Mulai dari elemen Bali, ke arketip umum dari manusia, hingga arketip esensi diri yang mempribadi. Proses kreatif Wianta dapat dimaknai sebagai bentuk pergulatan sang seniman untuk membebaskan diri dari determinasi cultural menuju penemuan hakekat jati dirinya yang merdeka. Juga merepresentasikan peralihan sang seniman selaku ‘penyambung lidah’ masyarakat tradisinya, menjadi kreator yang bebas namun juga individual serta terasing, lepas bebas dalam kemerdekaan kreasinya keluar dari ‘firdaus’ warisan kulturnya. Read More...
Pameran Tunggal Nindityo Adipurnomo: WWW dot JAVA
20 Dec 2008 12:40

Nindityo Adipurnomo, ibaratnya, pulang ke rumah sendiri dengan cara menggelar pameran tunggalnya di Rumah Seni Yaitu ini. Seniman ini lahir dan menyelesaikan sekolah menengahnya di Semarang. Nindityo—bersama istrinya yang juga seorang perupa, Mella Jaarsma—dikenal luas sebagai pendiri Cemeti Art House, Yogyakarta, 20 tahun silam.
Perhatiannya terfokus pada visualitas dan latar kultural “konde”—gelungan rambut dengan beragam gaya dalam tradisi kecantikan para perempuan, terutama, di Jawa dan Bali. Amatannya berujung pada keyakinan (sementara) bahwa: ada banyak muatan—politik, budaya, religiositas, ekonomi, sampai dengan isu gender (feminisme dan patriarkhisme)—yang diterakan pada gelungan rambut itu.
Read More...
Window Display: A Solo Exhibition of Wiyoga Muhardanto
18 Dec 2008 09:28

Inspired by display systems in shop windows and supermalls, the sculptural works of Wiyoga Muhardanto (born in Jakarta in 1984), comments on Indonesia’s growing love affair with luxury, consumer goods and ‘conspicuous consumption’: A most-awaited solo debut by Indonesia's talented emerging artist. Read More...
Pameran Tunggal Aprilia Apsari: Rayuan Pulau Kelapa
12 Dec 2008 09:06

Ketika semua hal tidak lagi bisa menjadi baru, atau yang 'baru' kemudian menjadi 'basi', mungkin sekarang adalah saatnya, bahwa kata-kata seperti 'retro', 'vintage', atau 'jadul' menjadi suatu yang 'seksi'. Apakah itu karena kebosanan kita akan segala hal yang kekinian, atau dipaksakan menjadi kini, sehingga akhirnya semua orang pun menjadi pemulung semua yang berbau masa lalu, yang selalu tinggal dalam memori, dan dengan waktu pada akhirnya menjadi berarti? Read More...
Nafas: Screenings and Dialogues in Malaysia, Indonesia, Singapore
01 Dec 2008 16:54
From December 12, 2008 to January 14, 2009 Pat Binder and Gerhard Haupt, editors of Nafas and publishers of Universes in Universe - Worlds of Art, will present the Nafas Art Magazine, published by the German Institute for Foreign Cultural Relations (ifa), and the Nafas exhibition project of the ifa at the following places in Malaysia, Indonesia, and Singapore:
Read More...
Read More...
The Journey: Pameran Tunggal Karya Keramik Ahadiat Joedawinata
19 Nov 2008 18:25

Pameran ini merupakan pameran tunggal ketiga Ahadiat Joedawinata, perupa yang juga pengajar Ilmu Seni Rupa dan Desain, di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Sebanyak 26 karya keramik akan dipamerkan dalam pameran yang bertajuk "The Journey". Dalam pameran ini dia menampilkan karya-karya dengan kecenderungan karya yang menggunakan tanah stoneware dengan sejumlah eksperimentasi glasir yang menghasilkan berbagai warna dan tekstur. Ciri kuat dari karya-karya Ahadiat adalah pada ketipisan bentuk dan penemuan warna glasirnya yang khas. Read More...
100 x FRANCE: Fotografi Prancis Cikal Bakal Masa Kini
19 Nov 2008 15:55

Sejak diciptakan pada tahun 1980 oleh Rumah Fotografi Eropa, Bulan Fotografi telah memberikan kontribusi besar menjadikan Paris sebagai salah satu pusat fotografi terbesar. Berlangsung di bulan November, setiap dua tahun, dan menekankan pentingnya mobilisasi institusi budaya dan galeri-galeri di Paris. Pameran, workshop, diskusi, film, dll. menjadi kekayaan Bulan Fotografi yang setiap kalinya fokus pada tema tertentu. Pada tahun 2004, untuk pertama kalinya Bulan Fotografi mengembangkan dimensi Eropa melalui Bulan Foto Eropa, sebuah acara yang lahir dari keinginan untuk menciptakan sebuah jaringan pertukaran Eropa dan kolaborasi yang inovatif bagi fotografi. Diawali dengan Berlin dan Wina, jaringan ini meluas hingga sekarang di Bratislava, Moskow, Roma dan Luxembourg. Konsep bulan fotografi juga diekspor ke dunia sejak beberapa tahun belakangan dan di Asia, Bangkok, Singapura… dan sekarang dalam bulan foto 2008 Yogyakarta mendapatkan kehormatan untuk memerkan pameran 100 x FRANCE yang pertama kali di Indonesia. Read More...
Pameran Fotografi: POTRET
16 Nov 2008 17:23

Sepuluh tahun terakhir ini perkembangan dunia fotografi mengalami kemajuan yang sangat pesat, dengan diterapkannya teknologi digital dalam kamera, sehingga amat memudahkan para fotografer. Bahkan belakangan ini teknologi foto digital diterapkan juga dalam handphone sehingga semakin memudahkan para pemakai HP untuk mengambil gambar yang dibutuhkan. Sekarang ini bisa dikatakan ”siapa saja dapat menjadi fotografer” asal dia memegang kamera digital otomatis karena amat mudahnya orang untuk memotret. Read More...
Putu Sutawijaya: Legacy of Sagacity
15 Nov 2008 16:58

Karya-karya terbaru Putu Sutawijaya dalam pameran ini, yaitu empat instalasi, enam lukisan berskala besar dan sepuluh patung metal menegaskan tegangan orde-disore. Sementara dua puluh enam lukisan lama menunjukkan bagaimana tegangan ini sudah terlihat sejak awal karir Putu... Instalasi-instalasi terbarunya Menggapai (2008), Tau Diri (2008) dan, Tidak Mengenal Berhenti (2008) menampilkan tubuh-tubuh memanjat, melayang, bergoyang dalam ruang menunjukkan gerak acak dinamis yang memperlihatkan tanda disorde. Sementara itu instalasinya Dancing in The Full Moon (2008) di mana tubuh-tubuh mengumpul dalam struktur harmonis mencerminkan orde. Read More...
MEMENTO: Privatization Room. A Solo Exhibition by Restu Ratnaningtyas
15 Nov 2008 15:42

Setiap seniman mempunyai sejarah terhadap visual yang ia sampaikan dalam karyanya. Sejarah ini tersimpan yang terkadang tidak pernah dengan sadar keluar sebagai kode-kode yang mengarahkan sebuah peristiwa-peristiwa dan memori personal. Ini juga yang terjadi pada Restu Ratnaningtyas. Seniman muda ini mencoba membongkar kembali kode-kode visual dirinya dalam pameran ini. Mengambil kembali ruang-ruang privat yang hilang dan mencari jalan untuk lari ke ruang-ruang yang lebih dalam. Baginya ruang adalah bagaimana membangun batas-batas tertentu baik dengan sengaja mau pun tidak. Ruang-ruang ini meberikan kepercayaan diri dan memberi “kuasa” kepadanya untuk mengontrol peristiwa-peristiwa sosial di sekitarnya. Read More...
Pidato Kebudayaan: I Gusti Agung Ayu Ratih, 'Kita, Sejarah, Kebhinekaan'
06 Nov 2008 04:02

Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kembali menggelar acara tahunan "Pidato Kebudayaan" yang diadakan bertepatan dengan hari ulang tahun Pusat Kesenian Jakarta—Taman Ismail Marzuki, 10 November. Sebagaiman yang pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya, Pidato Kebudayaan kembali membicarakan masalah-masalah aktual di sekitar kita, khususnya jika masalah itu dipandang dari sudut kesenian. Kali ini DKJ menampilkan I Gusti Agung Ayu Ratih dengan judul pidato "Kita, Sejarah, Kebhinekaan". Pidato Kebudayaan ini juga dimeriahkan oleh pentas musik Balawan dan kawan-kawan. Read More...
Multicrisis is Delicious. A Solo Show by Eko Nugroho
04 Nov 2008 18:20

Kondisi krisis seperti juga dalam arena Sirkus, itu pandangan perupa Eko Nugroho. Manusia-manusia dalam sirkus bisa melakukan hal-hal yang berbahaya penuh resiko dalam sebuah panggung. Sebuah akrobat antara hidup dan kematian menjadi sebuah tontonan yang mendebarkan penuh sensasi, membangkitkan adrenalin. Kita bisa saksikan bagaimana sebuah krisis menjadi santapan, makanan empuk bagi media massa dan kita menikmati tayangan itu di layar televisi, gambar-gambar sensional di halaman surat kabar atau cerita-cerita dimajalah. Serangan pesawat tempur Amerika di Kuwait atau pemboman Irak disiarkan secara langsung. Kita bisa menyaksikan manusia - manusia sekarat akibat kelaparan di Afrika sambil menyantap makanan malam. Read More...
Untitled
03 Nov 2008 19:53
Pameran Seni Rupa “Untitled” | Kurator: Agung Hujatnikajennong | 7 – 31 November 2008 | Selasar Sunaryo Art Space | Seniman: Anugerah Pratama, Arian13, Baihaqi Hasan, David St. Tarigan, Duto Hardono, Satria NB, Sir Dandy, Syagini Ratnawulan, Unkl D, dan R. Yuki Agriardi
Dalam dunia modern, prinsip otonomi seni sebagai suatu ideologi—ditambah lagi dengan tuntutan hidup masyarakat kapitalis—telah menciptakan kesenjangan dan marjinalisasi di antara para praktisi seni. Sebagai sebuah kategori sosial, istilah ‘seniman’ atau ‘perupa’ identik dengan keprofesian orang-orang yang memiliki dan menerapkan kecakapan dan pengetahuan khusus, yakni seni rupa saja. Para seniman yang juga melakukan dan menekuni pekerjaan “non-seni rupa” seringkali dianggap “bukan seniman”, ataupun “seniman yang tidak serius”, dan oleh karena itu menempati posisi yang inferior di mata kritikus, kurator maupun institusi seni. Read More...
Dalam dunia modern, prinsip otonomi seni sebagai suatu ideologi—ditambah lagi dengan tuntutan hidup masyarakat kapitalis—telah menciptakan kesenjangan dan marjinalisasi di antara para praktisi seni. Sebagai sebuah kategori sosial, istilah ‘seniman’ atau ‘perupa’ identik dengan keprofesian orang-orang yang memiliki dan menerapkan kecakapan dan pengetahuan khusus, yakni seni rupa saja. Para seniman yang juga melakukan dan menekuni pekerjaan “non-seni rupa” seringkali dianggap “bukan seniman”, ataupun “seniman yang tidak serius”, dan oleh karena itu menempati posisi yang inferior di mata kritikus, kurator maupun institusi seni. Read More...
Forbidden Zone. Krisna Murti's Painting/Digital Print/Video
03 Nov 2008 19:14

“Forbidden Zone” Krisna Murti mengekplorasi cara pandang kita akan kenyataan melalui medium landscape. Amanda K. Rath, periset seni rupa, mengatakan “..it is clear that Krisna is constantly evolving artistically, experimenting with and not afraid to enter into risky territory. In his new body of work, he continues to present issues that connect on a universal level, while at the same time articulating his own ambivalence and questions regarding his own position to a particular aspect of Indonesian art history”. Landscape menjadi perangkat investigasi historis dan rekonstruksi atas konstruk identitas. Yaitu sejak Belanda memperkenalkan realitas melalui cara pandang kolonial - “Mooi Indie”- yang eksotik-turistik. Praktik mengadaptasi, mengadopsi dan melintasi wilayah-wilayah artistik yang ditabukan pada ’Mooi Indie’ agaknya justru disadari menjadi proyek seni Krisna Murti kali ini. Yaitu sebuah upaya mengungkap posisi (budaya) Krisna saat ini. Read More...
Happening Kota Komik with Gérald Gorridge
01 Nov 2008 22:36
Pameran dan Workshop Komik | Kedai Kebun Forum, Yogyakarta | 2-28 November 2008
Bulan Oktober, November, dan Desember 2008, Kedai Kebun Forum (KKF) menampilkan secara masif program-program yang mengolah keterampilan teknik menggambar dan bercerita. Sebuah kerja eksplorasi teknik yang “kuno” dan barangkali tidak popular di kalangan seniman muda Yogyakarta saat ini. Pada bulan Oktober lalu, Maryanto (pegrafis) membuat graphic novel berkolaborasi dengan Pitra Ayu sebagai pengolah cerita. Maryanto mengeksplorasi teknik menggambar pada kertas film. Bulan November ini, KKF bekerjasama dengan Lembaga Indonesia Prancis (LIP) Yogyakarta memamerkan komik karya komikus asal Prancis Gérald Gorridge. Read More...
Bulan Oktober, November, dan Desember 2008, Kedai Kebun Forum (KKF) menampilkan secara masif program-program yang mengolah keterampilan teknik menggambar dan bercerita. Sebuah kerja eksplorasi teknik yang “kuno” dan barangkali tidak popular di kalangan seniman muda Yogyakarta saat ini. Pada bulan Oktober lalu, Maryanto (pegrafis) membuat graphic novel berkolaborasi dengan Pitra Ayu sebagai pengolah cerita. Maryanto mengeksplorasi teknik menggambar pada kertas film. Bulan November ini, KKF bekerjasama dengan Lembaga Indonesia Prancis (LIP) Yogyakarta memamerkan komik karya komikus asal Prancis Gérald Gorridge. Read More...
Peluncuran Buku 'Amrus Natalsya dan Bumi Tarung'
24 Oct 2008 23:49
Peluncuran Buku “Amrus Natalsya dan Bumi Tarung” karya Misbach Tamrin, diskusi terbuka, dan pameran Arsip Retro Series IVAA: Realisme Sosial | Minggu, 26 Oktober 2008, 10.00-13.00 WIB | Bentara Budaya Yogyakarta
Sanggar Bumi Tarung (SBT) didirikan oleh bebera paperupa muda di Yogyakarta pada tahun 1961 di tengah situasi sosial politik yang bergelora. Para pendirinya adalah: Amrus Natalsya, Misbach Tamrin, Ng Sembiring, Isa Hasanda, Kuslan Budiman, Djoko Pekik, Sutopo, Adrianus Gumelar,Sabri Djamal, Suharjiyo Pujanadi, Harmani, Haryatno, dan beberapa orang lainnya. Read More...
Sanggar Bumi Tarung (SBT) didirikan oleh bebera paperupa muda di Yogyakarta pada tahun 1961 di tengah situasi sosial politik yang bergelora. Para pendirinya adalah: Amrus Natalsya, Misbach Tamrin, Ng Sembiring, Isa Hasanda, Kuslan Budiman, Djoko Pekik, Sutopo, Adrianus Gumelar,Sabri Djamal, Suharjiyo Pujanadi, Harmani, Haryatno, dan beberapa orang lainnya. Read More...