<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0" 
    xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
    xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
    xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/"
    xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#"
    xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd">
	<channel>
<title>Indonesia Contemporary Art Network - News Page</title><link>http://canmanage.net/index.html</link><description>Hot News&#x21;</description><dc:language>en</dc:language><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><dc:rights>Copyright 2008-2010 iCAN</dc:rights><dc:date>2010-08-14T16:08:08+07:00</dc:date><admin:generatorAgent rdf:resource="http://www.realmacsoftware.com/" />
<admin:errorReportsTo rdf:resource="mailto:canmanage@gmail.com" /><sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
<sy:updateBase>2000-01-01T12:00+00:00</sy:updateBase>
<lastBuildDate>Sun, 02 Nov 2008 21:38:23 +0700</lastBuildDate><item><title>Tantangan Institusi Penyandang Dana dan Jaringan Asing: Evolusi dan situasi mereka akhir-akhir ini di ranah seni dan kebudayaan Yogyakarta</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Event</category><dc:date>2010-08-14T16:08:08+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/tantangan_institusi_penyandang_dana_dan_jaringan_asing.html#unique-entry-id-152</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/tantangan_institusi_penyandang_dana_dan_jaringan_asing.html#unique-entry-id-152</guid><content:encoded><![CDATA[Djoko Dwiyanto, M.Hum (Kepala Dinas Kebudayaan), Dyan Anggraini (Direktur Taman Budaya Yogyakarta), Anggi Minarni (Direktur Karta Pustaka), Jean-Pascal Elbaz & Marie Le Sourd (Direktur LIP: 1997-2002 & 2006-2010)


...Diskusi, yang menjadi bagian dari acara pameran FrenchConnection.id ini menitikberatkan tujuan untuk menyoroti peranan institusi-institusi dan penyandang-penyandang dana asing dalam mempromosikan budaya lokal dan ekspresi seni di Yogyakarta.


...Apa saja resiko-resiko yang mungkin bisa terjadi dari pergantian peranan insitusi-institusi dan penyandang dana asing dengan sumber-sumber dana lokal (khususnya dalam proyek jangka panjang)?


...Strategi-streategi macam apa yang akan dihadapi institusi atau penyandang dana asing di masa sekarang dan masa depan, terutama pada era revolusi media dan teknologi informasi-komunikasi?
]]></content:encoded></item><item><title>Awal adalah Akhir</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Event</category><dc:date>2010-08-12T16:46:25+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/awal_adalah_akhir.html#unique-entry-id-150</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/awal_adalah_akhir.html#unique-entry-id-150</guid><content:encoded><![CDATA[Diawali pada tahun 2008 dan sekembalinya ke Jawa pada tahun 2009, Holt secara independen meneliti metafisika Jawa dan kognisi, seperti halnya metode tradisional yang memungkinkan manusia untuk mengalami realitas melampaui batasan-batasan persepsi manusia normal.   Menjalani residensi di Cemeti sejak bulan Maret hingga Juli, Holt bekerjasama dengan beberapa artisan lokal menciptakan suatu bentuk karya baru: menggunakan diagram-diagram dan video/patung, menjelajahi bagaimana konsep-konsep tersebut bersilangan dengan visinya sendiri, yang juga terinformasi oleh batasan samar antara teori ilmiah yang ada dan fiksi ilmiah.


...Seniman dan artisan yang memberikan dukungan untuk terselenggaranya pameran ini adalah: Badari Mustaq, Budi 'Iyok' Prakosa, Desiree Aditya, Eko Prawoto, Gunawan Maryanto (Cindil), Hendra 'Blangkon' Priyadhani, Leon De Lorenzo, Maryono, Satria Budi Kurniawan.


* Image: "Hypercube #2", video sculpture, work in progress, 15 cm x 15 cm x 15 cm, polyester resin, 2010, Allison Holt | Artisan:   Badari Mustaq
]]></content:encoded></item><item><title>Strategi Alternatif Membaca Isu Gender dalam Karya Seni Rupa</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Event</category><dc:date>2010-08-12T16:41:05+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/strategi_alternatif_membaca_isu_gender_dalam_karya_seni_rupa.html#unique-entry-id-149</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/strategi_alternatif_membaca_isu_gender_dalam_karya_seni_rupa.html#unique-entry-id-149</guid><content:encoded><![CDATA[Kajian feminisme sendiri telah lama menjadi bidang studi yang dipelajari Wulan, misalnya tercermin dalam proyek kuratorial tahun 2007, Intimate Distance: Tracing Feminism in Indonesian contemporary art di Galeri Nasional, Jakarta, bersamaan dengan peluncuran Buku Indonesian Women Artists: The Curtain Opens.


...Melalui pengalaman tersebut Wulan akan memaparkan refleksinya mengenai kesulitan-kesulitan yang ditemuinya ketika membaca isu gender di dalam dunia seni rupa, khususnya dalam karya seni rupa. ...  Sehingga, ngobrol IVAA kali ini akan sangat strategis untuk menginspirasi dan mengeksplorasi lebih lanjut mengenai strategi-strategi (baru) pembacaan fenomena sosial dari kerangka feminisme. 


Untuk itu kami mengundang anda: aktivis, akademisi, guru, praktisi seni, pelajar/mahasiswa, dan siapapun juga... untuk hadir dalam acara Ngobrol IVAA: Presentasi &ndash; Diskusi Wulan Dirgantoro &ldquo;Strategi Alternati Membaca Isu Gender dalam Karya Seni Rupa&rdquo;.
]]></content:encoded></item><item><title>Pameran tunggal dan peluncuran buku Edhi Sunarso </title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Event</category><dc:date>2010-08-12T16:47:37+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/pameran_tunggal_dan_peluncuran_buku_edhi_sunarso.html#unique-entry-id-148</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/pameran_tunggal_dan_peluncuran_buku_edhi_sunarso.html#unique-entry-id-148</guid><content:encoded><![CDATA[Akan dipajang pula foto-foto proses awal ketika monumen-monumen di ruang publik itu dibangun, yang memperlihatkan antara lain lanskap Jakarta di masa itu dan Bung Karno selaku penggagas proyek tersebut.   Foto-foto dari masa lampau itu diperkaya dengan sepilihan foto masa kini, karya kelompok Liga Merah Putih (Oscar Motuloh, Yori Antar, Syaiful Boen, dan Asfarinal St Rumah Gadang), yang memperlihatkan aktualitas monumen-monumen itu di tengah perubahan kota.


Pameran tunggal seni patung "Monumen" ini akan dibuka pada hari Sabtu, 14 Agustus 2010, pukul 16:00 WIB. ...  Diadakan di Galeri Salihara, pameran ini berlangsung hingga tanggal 28 Agustus 2010, Senin-Sabtu pukul 11:00-20:00 WIB, Minggu & hari libur nasional tutup. 
]]></content:encoded></item><item><title>Instalasi Gerak Bawah Tubuh Seniman Teater</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2010-07-31T15:41:45+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/instalasi_gerak_bawah_tubuh_seniman_teater.html#unique-entry-id-147</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/instalasi_gerak_bawah_tubuh_seniman_teater.html#unique-entry-id-147</guid><content:encoded><![CDATA[Sebuah pertunjukan tari dengan tajuk &ldquo;Selamat Datang Dari Bawah&rdquo;, pada Jum&rsquo;at (30/7) mulai  dipentaskan koreografer Fitri Setyaningsih, salah satu dari lima koreografer tari wanita muda yang memperoleh grand program &ldquo;Empowering Women Artist (EWA) dari Yayasan Kelola. 

...Konsep pertunjukan tari dalam tajuk &ldquo;Selamat Datang Dari Bawah&rdquo; ini menurut Afrizal Malna yang bertindak sebagai dramaturgi pementasan ini adalah pertunjukan yang lebih merupakan instalasi dalam proses terjadinya mutasi-mutasi gerak dan negoisasi tubuh dengan lantai tempatnya berpijak.


...Sejak Februari lalu, penari-penari yang terlibat dalam event &ldquo;Selamat Datang Dari Bawah&rdquo; ini terlibat dalam workshop yang intens untuk mendapatkan keinginan-keinginan maksud dari pementasan yang akan dilakukan, karya-karya organik.


...Satu hal yang istimewa dari gelaran pertunjukan tari &ldquo;Selamat Datang Dari Bawah&rdquo; ini adalah para penari yang terlibat didalamnya sebenarnya bukan para penari asli tapi berasal dari pelaku seni lain bahkan mempunyai pekerjaan tidak sebagai penari.
]]></content:encoded></item><item><title>Ragam Kejutan Dunia Anak</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2010-07-05T15:16:38+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/ragam_kejutan_dunia_anak.html#unique-entry-id-146</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/ragam_kejutan_dunia_anak.html#unique-entry-id-146</guid><content:encoded><![CDATA[Acara yang diselenggarakan secara komunal oleh sejumlah lembaga seperti Save The Children, iCAN, Yayasan Samin, Yayasan Humana, dan sebagainya di Jogja National Museum 1-5 Juli 2010 ini memang memberikan pintu bagi publik guna membaca ulang sejumlah pencapaian aktivitas yang berkaitan dengan pendampingan terhadap anak. 

...Dalam catatan kuratorial yang ditulis oleh Antariksa dan Bambang Ertanto tersimpulkan bahwa pembacaan terhadap arsip gerakan atau aktivitas anak yang ada di Indonesia tidak lepas dari wacana maupun persoalan sosial-politik yang ada di Indonesia. 

...Banyak kenyataan yang terjadi ditunjukkan di dalam pameran ini bahwa ketika berproses ke arah pencapaian jati diri dan perolehan hak anak, perjuangan yang ditempuh anak-anak tidaklah seindah memandang pelangi sore. 

...Tentu saja, yang menjadi catatan penting pasca pembacaan arsip melalui pameran ini adalah sejumlah pekerjaan rumah yang riil menantang di depan mata: bagaimana membuat anak-anak, baik di jalanan maupun di mana pun, mempunyai harapan atas masa depan yang wajar. ]]></content:encoded></item><item><title>Fitri Menari Neruda</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2010-08-08T15:15:47+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/fitri_menari_neruda.html#unique-entry-id-145</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/fitri_menari_neruda.html#unique-entry-id-145</guid><content:encoded><![CDATA[Namun, di panggung Fitri Setyaningsih, pada reportoir Penyusup Dalam Tubuh (Pesan dari Udara), yang dipentaskan di ruang kecil iCAN (Indonesia Contemporary Art Network) di Yogyakarta, Minggu pekan lalu, tak memunculkan adegan yang bisa dengan mudah diraba sebagai adegan yang menyarankan sesuatu. 

...Di panggung yang menjorok ke bawah dan begitu dekat dan intim itu, &ldquo;Bodyscape&rdquo; dari instalasi Titarubi, kerlipnya senantiasa memancar, menjadi satu-satunya penerang di kepengapan persiapan mental penonton. 


...Tiap hitungan lima menit, dua penari yang masing-masing ke luar dari sisi yang berbeda, melalui sisi terluar panggung, melintas begitu saja dan terus dalam posisi duduk bersimpuh, menggeser seluruh massa tubuhnya dengan lutut, dengan pergelangan kaki. 


...Jalan mana yang bisa ditempuh untuk membebaskan diri dari impresi manusia mantel yang terus menerus berusaha menghujamkan tubuhnya ke udara itu, dan sesekali satu di antara mereka meluncur diagonal, licin, dan rapi seperti robot siap dibuka tudung peresmiannya? ]]></content:encoded></item><item><title>Poros Jakarta Dalam Seni Rupa Kita</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2010-07-18T15:13:28+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/poros_jakarta_dalam_seni_rupa_kita.html#unique-entry-id-144</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/poros_jakarta_dalam_seni_rupa_kita.html#unique-entry-id-144</guid><content:encoded><![CDATA[&ldquo;Diksi &lsquo;Jogja&rsquo; kiranya bisa dipahami bukan sebagai makna geografis yang mengikat dan serba terbatas, melainkan sebagai sebuah makna yang lebih pragmatis, yaitu secara kebetulan dilakukan di kota Yogyakarta,&rdquo; katanya dalam pengantar katalog pre-event ART/JOGJA. 

...Istilah ini diterangkan sebagai cara untuk menajamkan pembacaan terhadap tanda-tanda di dalam praktik seni Tanah Air masa kini, seraya sekaligus dijadikan upaya untuk menghimpun sejumlah kecenderungan mutakhir yang dipandang layak untuk diajukan sebagai cikal perkembangan ke depan. 


...Demikianlah, dari Eko hingga Agapetus,dan keseluruhan karya lain yang hadir di sini, Aminudin hendak menyatakan sebuah pembacaan atas karya-karya mutakhir perupa Indonesia, sekaligus, dengan penuh percaya diri, menyisipkan narasi sejarah seni rupa yang menjadi generasi pertama. 


...Yang sama sekali tak pernah dianggap ada, namun nyata bisa dilihat pada generasi hari ini. ini saya sebut sebagai Kubu Jakarta dalam seni rupa Indonesia,&rdquo; jelasnya. ]]></content:encoded></item><item><title>Merentang Eksplorasi Seni 40 Tahun</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2010-07-11T15:12:17+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/merentang_eksplorasi_seni_40_tahun.html#unique-entry-id-143</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/merentang_eksplorasi_seni_40_tahun.html#unique-entry-id-143</guid><content:encoded><![CDATA[Karya Dolorosa, Gregorious dan Wiyoso merupakan tiga dari karya sejumlah tokoh senirupa Tanah Air yang dipajang di ruang Grand Teater Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, selama pameran bertajuk Exploration dari 3-12 Juli. 


Ruang ini, khusus memajang karya sejumlah tokoh atau seniman yang sudah malang melintang menghasilkan karya serta para pengajar senirupa di Institut Kesenian Jakarta. 


...Selain Grand Teater, beberapa karya lainnya ada di Galeri Cipta 2, Galeri Cipta 3, dan Ruang Seni Rupa IKJ. 


...Eksplorasi Seni Dilihat dari secara keseluruhan, pameran ini jelas tidak hanya mengusung karya akbar dari para seniman handal dan pengajar senirupa. 
]]></content:encoded></item><item><title>350 Arsip Anak Dipamerkan</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2010-07-02T15:11:04+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/350_arsip_anak_dipamerkan.html#unique-entry-id-142</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/350_arsip_anak_dipamerkan.html#unique-entry-id-142</guid><content:encoded><![CDATA[Sekitar 350 arsip yang terdiri dari tulisan, gambar, foto, audio, video dan lukisan dipamerkan dalam Refleksi 30 Tahun Gerakan Anak Di Indonesia n di Jogja Nasional Museum (JNM) Yogyakarta.


..."Tema besar dari pameran arsip refleksi 30 tahun gerakan anak di Indonesia ada dua poin besar yaitu hasil program kerja selama satu tahun dari Koalisi Nasional NGO untuk Hak Anak tentang anak Indonesia dan reflektif tentang gerakan anak yang memang dimulai dari tahun 80-an ini," ujar Koordinator Advokasi Yayasan Serikat Anak Merdeka Mandiri (Samin), Fathuddin Muchtar di JNM Yogyakarta, Kamis (1/7).


Fathuddin mengatakan selain Samin, pameran bekerjasama dengan Indonesia Contemporary Art Network (iCan)yang kemudian mengkurasi arsip-arsip yang terdiri dari tulisan, gambar, foto, audio, video dan lukisan karya anak. 

..."Dengan waktu yang sangat pendek ini, kami berusaha mengumpulkan arsip yang melengkapi satu sejarah yang mengungkapkan pemenuhan hak anak dari pemerintah dalam kurun waktu 30 tahun terakhir," ujar kurator pameran dari iCAN, Antariksa.
]]></content:encoded></item><item><title>Ratusan Dokumen Anak-anak Dipamerkan</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2010-07-04T14:45:56+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/5f1fc07bf522186cbec048754bc83791-141.html#unique-entry-id-141</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/5f1fc07bf522186cbec048754bc83791-141.html#unique-entry-id-141</guid><content:encoded><![CDATA[Arsip-arsip yang terdiri dari tulisan, gambar, foto, audio, video dan lukisan karya anak tersebut merupakan rekam jejak gerakan anak yang dilakukan oleh berbagai organisasi dan para aktivis hak anak di Indonesia.


..."Dua poin tersebut adalah hasil program kerja selama satu tahun dari Koalisi Nasional NGO untuk Hak Anak tentang anak Indonesia dan reflektif tentang gerakan anak yang memang dimulai dari tahun 80-an ini," jelasnya.


..."Dengan waktu yang sangat pendek ini, kami berusaha mengumpulkan arsip yang melengkapi satu sejarah yang mengungkapkan pemenuhan hak anak dari pemerintah dalam kurun waktu 30 tahun terakhir," papar Antariksa, kurator pameran dari iCAN. 


...Tahun-tahun awal adalah tahun di mana dimulai adanya isu anak sebagai isu untuk publik, yang merupakan tantangan untuk banyak yayasan yang bergerak di bidang ini termasuk Yayasan Samin. 
]]></content:encoded></item><item><title>Sisi Buram Dunia Anak Indonesia</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2010-07-11T14:42:45+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/sisi_buram_dunia_anak_indonesia.html#unique-entry-id-140</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/sisi_buram_dunia_anak_indonesia.html#unique-entry-id-140</guid><content:encoded><![CDATA[Keterbatasan dan Peluang Seluruh kalimat keterangan di atas, berarti penting, untuk mengerti kenapa semua hal yang berlangsung di luar ruang, di jejalan, entah itu realitas anak-anak jalanan, ataupun sekolah tanpa seragam, tanpa dinding bujur sangkar yang dikelola para aktivis, atau demonstrasi jalanan, tampak begitu mendominasi dinding-dinding ruang pameran. 


...Dalam satu titik, pengunjung seperti tak bisa memisahkan, apakah pameran ini mempresentasikan persoalan anak seperti yang kurator niatkan, atau ini semua adalah pameran mengenai semua hal yang seksi menyangkut persoalan- persoalan anak yang selama ini menjadi lahan garapan gerakan NGO anak di Indonesia? 

...Artinya, tajuk Ruang 4, sesungguhnya adalah sebuah cara pandang yang sedikit banyak, hanya perlu untuk buku-buku, cultural studies yang sangat laku di Shoping Centre Jogjakarta, dan bukan hal yang tepat sebagai sebuah pameran arsip yang hendak mengambil peluang ketiadaan rujukan yang memadai. 


Catatan pameran ini menegaskan, bahwa Guelormo del Torro, dengan anak-anak di sekitar peperangan dan panti asuhan, melakukan jauh lebih baik dengan film-filmnya, daripada apa yang bisa kita saksikan pada keterbelahan antara asumsi dan apa yang dipajang di dinding JNM kali ini.
]]></content:encoded></item><item><title>Pameran Arsip 30 Tahun Gerakan Anak Di Indonesia&#x2c; Rujukan Sejarah Gerakan Anak Indonesia</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2010-07-04T14:39:09+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/rujukan_sejarah_gerakan_anak_indonesia.html#unique-entry-id-139</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/rujukan_sejarah_gerakan_anak_indonesia.html#unique-entry-id-139</guid><content:encoded><![CDATA[Menurut Bambang Ertanto yang juga menjadi kurator pameran ini, ratusan arsip tersebut berisi arsip tentang gerakan mahasiswa 1978, Periode 80: Zaman Normalisasi, Periode 90: Zaman Pendisiplinan serta Periode 2000: Pendekatan Berbasis Hak.


...Pameran Arsip Sejarah 30 Tahun Gerakan Anak di Indonesia ini akhirnya menjadi semacam sikap politik beberapa penyelenggara pameran selain ICAN yaitu National NGO Coalition (for child rights monitoring), SAMIN (Sekretariat Anak Merdeka Indonesia) serta Save the Children.


...Karena pembangkangan itu, rezim orde baru yang dipimpin Soeharto mengeluarkan keputusan NKK/BKK atau Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan yang memberi kekuasaan kepada militer untuk masuk ke kampus melakukan pengepungan, pengrusakan serta penembakan.


...Pameran ini tak lain kami persembahkan untuk anak-anak di Indonesia agar hidup mereka menjadi lebih baik, &ldquo;Hanya dengan cara memastikan hidup anak lebih baik, maka kita mewariskan kepada generasi mendatang suatu masa depan Indonesia yang lebih baik,&rdquo; ujar Fathuddin Muchtar dari Yayasan Samin. ]]></content:encoded></item><item><title>Tiga Eksplorasi Gerak Fitri Setyaningsih</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2010-08-09T08:42:36+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/tiga_eksplorasi_gerak_fitri_setyaningsih.html#unique-entry-id-138</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/tiga_eksplorasi_gerak_fitri_setyaningsih.html#unique-entry-id-138</guid><content:encoded><![CDATA[Ketiga pertunjukan itu adalah Lubang Cahaya Bernapas (Pesan dari Franz Schubert), Dataran yang Terus ke Dasar (Pesan dari Zen), dan Penyusup dalam Tubuh (Pesan dari Udara).


...Sarung tangan itu dipakai para penari sehingga, jika mereka menggerakkan jari-jarinya, benang dan batu akan bergerak seturut koreografi gerak jari tersebut, seperti seorang pianis yang asyik memencet tuts pianonya.


...Hingga akhirnya muncul Jamal dan Qomar, yang berpakaian seragam biru-perak membuat gerakan seperti senam yang aneh dan kaku dengan raut wajah dingin seperti ingin menyela keindahan benang serupa garis pelangi dan batu yang tengah bergerak naik turun di tangan para penari.


...Sebagai penutup pertunjukan, para penari, yang terus bergerak memainkan jari tangannya, perlahan mulai bergerak melepaskan sarung tangan tersebut sehingga benang dan batu pun berjatuhan.
]]></content:encoded></item><item><title>Walikota Bekasi Akan Bongkar Paksa Tugu Tiga Mojang</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Cultural Politics</category><dc:date>2010-05-19T20:39:14+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/walikota_bekasi_akan_bongkar_paksa_tugu_tiga_mojang.html#unique-entry-id-137</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/walikota_bekasi_akan_bongkar_paksa_tugu_tiga_mojang.html#unique-entry-id-137</guid><content:encoded><![CDATA[Pertemuan yang berlangsung di kantor Walikota Bekasi, Senin pagi (17/5/2010) itu juga dihadiri oleh Kajari Bekasi, Komandan Kodim Bekasi, Kapolres Bekasi, Kepala Pengadilan Bekasi dan Wakil Ketua DPRD Bekasi.


...Jika selama tiga pekan pengembang perumahan tidak melakukan pembongkaran, maka pihak Walikota sendiri yang akan membongkar paksa Patung Tiga Mojang.


...Sebelum mengakhiri pertemuan selama 70 menit itu, di hadapan para tokoh dan ormas Islam Bekasi, Walikota Mochtar Mohamad menandatangani surat perihal Pembongkaran Patung Tiga Mojang.   Surat bernomor 300/1118-set/V/2010 tersebut ditujukan kepada pengembang Perumahan Harapan Indah, PT Hasana Damai Putra, berisi perintah untuk membongkar Patung Tiga Mojang selambat-lambatnya satu pekan.
]]></content:encoded></item><item><title>Muslims Protest in Bekasi Over Statue Of Women and Desecration of Koran</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Cultural Politics</category><dc:date>2010-05-15T20:08:49+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/muslims_protest_in_bekasi_over_statue_of_women_and_desecration_of_koran.html#unique-entry-id-136</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/muslims_protest_in_bekasi_over_statue_of_women_and_desecration_of_koran.html#unique-entry-id-136</guid><content:encoded><![CDATA[Three statuesque women carved in steel and an incident involving the Koran have both caused an uproar amongst conservative and hardline Islamic communities in Bekasi, with nearly 1,000 members of Muslim communities staging a demonstration on Friday outside the city&rsquo;s administration office.


&ldquo;They want the statue of the three women, the Tiga Mojang Statue, to be demolished, and they want the case of Abraham Felix to be handled seriously,&rdquo; Bekasi Police chief Sr. ...  Imam was referring to two separate cases, one of which involves Patung Tiga Mojang, or the statue of three Sundanese women, which is located within the Harapan Indah housing complex in Bekasi.


...The crowd then marched to the Harapan Indah housing complex where they came upon the statue and covered it with white cloth, and raised a flag with the inscription &ldquo;Laillaha Illallah&rdquo; (&ldquo;There is no God but Allah&rdquo;).
]]></content:encoded></item><item><title>Is This Statue So Divisive it Has to Go? In Bekasi&#x2c; Yes</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Cultural Politics</category><dc:date>2010-05-19T19:59:30+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/is_this_statue_so_divisive_it_has_to_go.html#unique-entry-id-135</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/is_this_statue_so_divisive_it_has_to_go.html#unique-entry-id-135</guid><content:encoded><![CDATA[The Bekasi municipal authorities, apparently bowing to pressure from hard-line Muslim groups, have ordered the destruction of an imposing steel statue of three women in a private residential development.


...On Friday, about 1,000 members from 60 hard-line Islamic organizations protested for hours at the site of the statue, and spray-painted it and covered it with white cloth. 

...&ldquo;This was done to avoid conflict among the people of Bekasi and so that security and some peace can be restored,&rdquo; Imam said.


...[But] in fact, one of the requirements for a permit to be issued is to secure approval from locals that the structure can be built.&rdquo;
]]></content:encoded></item><item><title>Kesaksian Edhi Sunarso</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2010-03-14T23:08:48+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/kesaksian_edhi_sunarso.html#unique-entry-id-133</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/kesaksian_edhi_sunarso.html#unique-entry-id-133</guid><content:encoded><![CDATA[Keriuhan lalu lintas dan kesuntukan hidup warga Jakarta membuat mereka tak menaruh perhatian terhadap monumen-monumen, seperti Patung Selamat Datang di Bundaran HI, Patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, dan Patung Dirgantara di Pancoran, Jakarta, apalagi diorama di Monumen Nasional (Monas) yang mulai kusam dan salah urus.


Jarang yang tahu kalau monumen-monumen itu dirancang oleh Edhi Sunarso atas ide Bung Karno pada masa-masa awal penancapan eksistensi negara dan bangsa Indonesia di mata dunia.


...&rdquo;Tahun 1946 saya ditangkap Belanda, ditahan di berbagai markas sampai akhirnya masuk penjara Kebon Baru, Bandung, selama tiga setengah tahun,&rdquo; tutur pematung yang menjadi pelopor penggunaan cor perunggu di Indonesia ini, akhir Januari 2010 di Yogyakarta.


...Di luar itu semua, karya-karya Edhi Sunarso, seperti Patung Selamat Datang, Patung Pembebasan Irian Barat, dan Patung Dirgantara, kini menjadi landmark kota. ]]></content:encoded></item><item><title>Aku Mau Dimadu</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2010-03-01T22:53:51+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/aku_mau_dimadu.html#unique-entry-id-132</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/aku_mau_dimadu.html#unique-entry-id-132</guid><content:encoded><![CDATA[Mereka adalah Arfan Sabran, Ralph K&auml;mena, Ellen Rodenberg, Wimo Ambala Bayang, Maarten Schepers, Urs Pfanenm&uuml;ller, Sigit Bapak, Elizabeth de Vaal, Beatrix H Kaswara, Rosalie Monod de Froideville, Cilia Erens, dan Wiyoga Muhardanto.   Para seniman itu menjadi peserta residensi di Yogyakarta yang diselenggarakan Rumah Seni Cemeti dan Heden, Den Haag, Belanda, selama Februari 2007 sampai Juli 2008.


...&rdquo;Saya ingin memfokuskan diri pada ruang-ruang bunyi di wilayah publik, dan menggali cara baru dalam mempresentasikannya,&rdquo; ujar Cilia Erens dalam katalog.


...&rdquo;Meski tak yakin bisa memberikan jalan keluar, tapi setidaknya seniman bisa menggugah orang untuk memikirkan masalah-masalah sosial,&rdquo; kata Wimo yang mengikuti residensi Mei-Juli 2008.
]]></content:encoded></item><item><title>Menimbang Akar Segala Krisis</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Cultural Politics</category><dc:date>2010-03-01T22:52:10+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/menimbang_akar_segala_krisis.html#unique-entry-id-131</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/menimbang_akar_segala_krisis.html#unique-entry-id-131</guid><content:encoded><![CDATA[Selain menggelar pameran seni rupa, acara yang diprakarsai Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) ini juga menyertakan kegiatan workshop film pendek untuk para santri dan kegiatan sastra serta teater dengan mengundang santri-santri penggiat dari seluruh Jawa. 

...Publikasi ini acap kali memicu timbulnya polemik seperti perdebatan mengenai realisme sosialis dan jargon &rdquo;politik adalah panglima&rdquo; yang menjadi penggerak aktivitas Lekra di satu pihak dan humanisme universal dan semboyan &rdquo;seni untuk seni&rdquo; (l&rsquo;art pour l&rsquo;art), yang menjadi elan vital kelompok Manifes Kebudayaan di pihak lain.


...Berbeda dari Lekra atau kelompok Manifes Kebudayaan, Lesbumi berpandangan bahwa seni mesti mempunyai tujuan dan tujuan itu adalah tujuan dari seluruh rakyat Indonesia: membentuk suatu masyarakat &rdquo;ber-Tuhan&rdquo;, di mana tidak ada kezaliman, di mana keadilan berkuasa, di mana kemakmuran menjadi milik bersama. 

...Dengan demikian, Lesbumi akan dengan tegas menolak seni yang cenderung memisahkan diri dari masyarakat ataupun relativisme historis masyarakatnya serta akan ikut membuka ruang kreativitas dan eksplorasi estetik seluas mungkin bagi para seniman (baik tradisional, modern, dan kontemporer).
]]></content:encoded></item><item><title>Keindahan &#x22;Enggak Keruan&#x22; Berjejal</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2010-03-01T22:49:20+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/keindahan_enggak_keruan_berjejal.html#unique-entry-id-130</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/keindahan_enggak_keruan_berjejal.html#unique-entry-id-130</guid><content:encoded><![CDATA[Setelah satu tahun bertukar ide, acara kumpul-kumpul itu menghasilkan sebuah pameran seni rupa bertajuk &rdquo;The Second God&rdquo; yang digelar di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 21-28 Februari 2010.


...Sugestinya, hari ini kian banyak yang giat memuja tuhan-tuhan palsu itu sambil menyaksikan orang-orang yang kelaparan, kakek dan nenek renta dijebloskan ke penjara, banjir tayangan berita pembunuhan plus mutilasi, anak balita yang dicekik oleh ibunya sendiri, remaja kecanduan chatting dan main BB di antara bisingnya pertengkaran politik tanpa ujung.


...Munculnya komunitas Jakarta Art Movement (JAM) menjadi menarik karena senimannya rata-rata datang dari bermacam profesi dan tempat (Jakarta, Tangerang, Bogor) sehingga sangat mungkin akan memberikan cara pandang yang berbeda dengan kaum seniman kontemporer mapan yang sudah mulai mengalami penjenuhan. 

...Karya mereka yang berjudul Forbidden The Second God itu menampilkan tubuh yang dibalut pakaian dari serpihan ritmis benda-benda metalik dan alur-alur zipper, guntingan bekas cakram data, kumparan kabel, pernik-pernik warna-warni, dan sebagainya untuk mendapatkan efek dramatis tubuh buatan pada posisi tertentu.
]]></content:encoded></item><item><title>Konstatasi Ruang Kota dalam Seni Rupa</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2010-03-01T21:49:20+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/konstatasi_ruang_kota_dalam_seni_rupa.html#unique-entry-id-129</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/konstatasi_ruang_kota_dalam_seni_rupa.html#unique-entry-id-129</guid><content:encoded><![CDATA[Peran yang dibawakan oleh para aktor itu tidak saja bergantung pada kelas sosial, tetapi juga negosiasi terus-menerus para aktor dengan ruang di kota tersebut. 

...Sebanyak 15 karya seni rupa dari 15 kelompok itu menyoal dan menanggapi berbagai fenomena kota dengan masing-masing karya berada menyatu dalam ruang yang spesifik untuk menyatakan ada masalah dengan ruang di kota; ruang adalah bagian yang penting dalam pembentukan sebuah kota.


...Dengan mengecat dinding seluas 8 x 4 meter bergambar barcode dengan diselingi berbagai produk makanan-minuman, pakaian, benda elektronik, karya tersebut memasang benang-benang ke objek-objek hitam peralatan militer yang terbuat dari limbah industri. 

...Jika konstatasi itu tidak dilakukan, sebagaimana terungkap dalam karya Shadow dari kelompok Begoendal, para penghuni kota tak lebih hanyalah objek dari perangkat CCTV yang dipasang di mal, kantor pemerintah, dan jalan-jalan sebagai alat pengawasan. ]]></content:encoded></item><item><title>Kabar Rupa dari Sakato</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2010-02-22T21:43:05+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/kabar_rupa_dari_sakato.html#unique-entry-id-128</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/kabar_rupa_dari_sakato.html#unique-entry-id-128</guid><content:encoded><![CDATA[Lebih dari seratus perupa Minang yang tergabung dalam Komunitas Seni Sakato Jogjakarta, selama 17-23 Februari 2010 bertempat di JNM (Jogja National Museum) dengan tajuk BAKABA memamerkan karya lukis, patung, dan instalasi. 

...Tetapi kemudian, karena itu, Yasraf menarik korelasi bahwa perupa Sakato melakukan transformasi kedua atas format kaba (dari teks ke visual) tentulah layak dikritisi.


...Kita tidak bisa melacak karya atau kelompok karya mana yang merupakan salinan atau bahkan interpretasi atas kisah-kisah kaba: misalnya, Rancak di Labuah, Malin Manandin, atau Malin Deman?


...Setidaknya, isu identitas tidak menjadi masalah bagi mereka seperti yang dialami para perupa Sanggar Dewata (mayoritas juga didikan ISI Jogja) yang berdiri lebih dulu daripada Sakato. ]]></content:encoded></item><item><title>Biennale&#x2c; Anti-Barat&#x2c; Kesadaran Semu </title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2010-01-25T21:28:16+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/biennale_antibarat_kesadaran_semu%20.html#unique-entry-id-127</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/biennale_antibarat_kesadaran_semu%20.html#unique-entry-id-127</guid><content:encoded><![CDATA[Kenaifan itu sudah tentu berkenaan bukan dengan kebijaksanaan menumbuhkembangkan biennale sebagai tradisi kreatif yang berwibawa di jagat seni rupa dalam dan luar negeri, melainkan kebanalan pikiran yang bertendensi menafikan sejarah panjang perhelatan seni rupa dua tahunan ini dengan dalih ''memuliakan seniman'', ''menyapa masyarakat kebanyakan'', dan ''jangan lagi mengandalkan pola pikir Barat atau negeri mana pun''. 

...Atas nama kepentingan publik, khalayak kebanyakan harus diistimewakan -pun wajib memuliakan perupa yang paling bawah sekalipun- tetapi mengabaikan pencapaian-pencapaian artistika dari perupa-perupa terbaik dan terpenting dalam perhelatan ini dengan dalih: semua itu suatu yang relatif, dan tidak akan ada batasnya.


...Dengan menganggap ''Jogja yang punya karakter'' -jangan-jangan itu sekadar klaim buta atas ''politik identitas'' yang terbit dari sikap asal berbeda antara kita dan mereka yang jadi mengeras dalam perhelatan ini karena kita ogah mempertautkan diri untuk tidak mengatakan malu- dengan format dan standar internasional, sementara kita masih punya persoalan dengan apakah itu ''Jogja yang punya karakter.''


...Dengan begitu, sudah seharusnya kita menempatkan biennale sebagai sebuah tradisi kritis yang memberi kita kepastian bahwa perkembangan estetika dan pencapaian artistika para perupa Jogjakarta memang bisa diukur dengan faktor dan kriteria tertentu -dan dengan ini pula kita punya sandaran yang jelas bukan hanya untuk berkomunikasi dengan masyarakat seni rupa internasional, tapi juga untuk menyurat yang silam, menyingkap yang tersembunyi, dan menggurat yang menjelang, dalam praksis berseni rupa di Jogjakarta. ]]></content:encoded></item><item><title>Memetakan Geliat Seni Keramik</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2010-01-10T11:28:47+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/memetakan_geliat_seni_keramik.html#unique-entry-id-126</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/memetakan_geliat_seni_keramik.html#unique-entry-id-126</guid><content:encoded><![CDATA[Selain menyuguhkan peta terkini perkembangan seni keramik di Indonesia, pameran Contemporary Ceramic Biennale #1 di North Art Space, Pasar Seni Ancol, menegaskan seni bermaterial tanah liat itu telah menjadi bagian pergulatan seni rupa kontemporer.


...Jika disederhanakan, sebagaimana dicatat Rifky Effendy, ada tiga kecenderungan seniman memperlakukan karya keramik: sebagai lanjutan tradisi tembikar, sebagai patung, dan bagian dari seni instalasi.


Kecenderungan mengusung keramik sebagai kelanjutan dari tradisi membuat pottery alias tembikar terlihat pada karya AA Ivan WB, Ahadiat Joedawinata, Endros Sungkowo, kelompok Gaya Ceramic Center dari Bali, Hadrian Mendoza, dan Mohd Roslan Ahmad. 

...Menurut Asmudjo dan Rifky, Jakarta Contemporary Ceramic Biennale #1 adalah biennale keramik dengan cakupan peserta dari Indonesia dan mancanegara yang pertama di Asia Tenggara. ]]></content:encoded></item><item><title>Seni Rupa (di Ruang) Publik</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2010-01-10T11:22:57+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/seni_rupa_di_ruang_publik.html#unique-entry-id-125</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/seni_rupa_di_ruang_publik.html#unique-entry-id-125</guid><content:encoded><![CDATA[Contoh paling aktual adalah sejumlah peristiwa tentang penolakan (oleh aparatus pemerintah dengan mengatasnamakan masyarakat), pembongkaran, dan pemindahan sejumlah karya tiga dimensional yang dipasang di sejumlah sudut kota Yogyakarta, terkait dengan peristiwa Biennale Jogja X-2009 (patung &rdquo;Ada Diantaranya&rdquo; karya Yul Hendri yang dipasang di daerah Badran, patung &rdquo;Terbelenggu&rdquo; karya Anjar Warsito dan Daroji yang akan dipasang di bundaran kampus UGM, dan karya kolaborasi Agustioko dan Rony Lampah &rdquo;Like Star on The Sky&rdquo; yang harus dipindah dari perempatan Demangan ke kompleks Jogja National Museum, Gampingan).


Peristiwa itu terjadi, tentu berpangkal dari berbagai kemungkinan; misalnya, perihal adanya kesenjangan apresiasi masyarakat terhadap sejumlah karya seni rupa, atau perihal sikap sewenang-wenang aparatus pemerintah yang merasa terusik oleh &rdquo;benda-benda asing&rdquo; tanpa prosedur birokrasi yang mereka harapkan (baca: harus minta izin), atau kemungkinan lainnya adalah sikap sewenang-wenang sang seniman terkait dengan aksi kreativitasnya, yang mengatasnamakan &rdquo;kebebasan berekspresi&rdquo;.


...Seniman penggeraknya antara lain Roy Lichtenstein, Claes Oldenburg, Robert Morris, Isamu Noguchi (salah satu karyanya yang popular: Horace E Dodge and Son Memorial Fountain, 1978, berbahan baja dengan dasar batu granit, tinggi 7,32 meter, yang dipasang di Philip A Hart Plaza, Detroit), Niki de Saint Phalle, Tony Smith, dan lain-lain. 

...Sejumlah kasus penolakan (oleh aparatus pemerintah), pembongkaran, dan pemindahan karya seni rupa di ruang publik pada peristiwa Biennale Jogja X menunjukkan adanya selip komunikasi dan pengertian di antara para pihak. ]]></content:encoded></item><item><title>Antara Penilaian dan Partisipasi Publik</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2010-01-03T11:18:51+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/antara_penilaian_dan_partisipasi_publik.html#unique-entry-id-124</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/antara_penilaian_dan_partisipasi_publik.html#unique-entry-id-124</guid><content:encoded><![CDATA[&ldquo;Yang saya alami ketika ada di Kuba untuk Havana Biennale, saya protes karena sukarelawan yang membantu pembuatan karya saya nggak bisa masuk pameran ketika pameran dibuka, bahkan masyarakat Kuba sendiri nggak bisa masuk karena harga tiketnya 10-20 dollar Amerika, sedangkan rata-rata gaji penduduk Kuba adalah 10 dollar perbulan. 

...Adalah &ldquo;Jogja On The Move&rdquo;, salah satu dari dua bagian panggung besar Jogja Biennale selain &ldquo;Artists Interpretation&rdquo;, disebut oleh Samuel Indratma selaku kurator bagian tersebut, dalam wawancaranya di bulletin Jogja Jamming sebagai tawaran perspektif baru kepada publik dunia bagaimana sebuah bienalle semestinya dihelat.


...Di mana terdapat dua hal yang terus menerus bersitegang, yakni pada soal apresiasi publik khusus seni rupa yang terus menerus melihat seni rupa sebagai perkembangan dan atau percabangan yang bisa diberi makna secara lebih jelas, dan bagaimana seni rupa seperti cabang kehidupan lainnya bersentuhan dengan publik yang seluas-luasnya.


...Sementara itu, Wahyudin selaku ketua Tim Kurator, mengaku bahwa Tim Public on The Move telah menyeleweng dari bingkai kuratorial yang telah ia buat, yaknin lima semangat zaman yang menaungi praktek artistik di dunia seni rupa Yogyakarta, yaitu humanisme kerakyatan, humanisme universal, perlawanan terhadap estetika mapan, pergolakan antara budaya global dan lokal, serta seni rupa urban.
]]></content:encoded></item><item><title>Perhatian Kementerian pada Museum Minim</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Cultural Politics</category><dc:date>2010-01-09T12:39:51+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/perhatian_kementerian_pada_museum_minim.html#unique-entry-id-123</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/perhatian_kementerian_pada_museum_minim.html#unique-entry-id-123</guid><content:encoded><![CDATA[&rdquo;Pencanangan Gerakan Nasional Cinta Museum mulai 2010 menjadi tonggak untuk meningkatkan pengelolaan museum,&rdquo; kata Direktur Permuseuman Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI Intan Mardiana, di Jakarta, Jumat (8/1).


...Secara terpisah, Koordinator Unit Kerja Departemen, kementerian negara dan BUMN, Badan Pengelola dan Pengembangan TMII Arief Djoko Budiono mengakui perhatian departemen, BUMN, dan kementerian negara terhadap museum-museum di kawasan TMII rata-rata sama. 

...Arief Djoko Budiono mengatakan, rumah-rumah tradisional dari 33 provinsi yang berjumlah sedikitnya 150 unit sebenarnya juga merupakan museum arsitektur rumah tradisional, yang menarik jadi bahan studi dan penelitian.


Selama Tahun Kunjung Museum 2010, pengelola TMII menargetkan pengunjung museum 2,5 juta dan jika digabung dengan pengunjung TMII sebanyak 7 juta orang. ]]></content:encoded></item><item><title>Sulit Bertahan tanpa Sponsor</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2009-12-27T22:21:43+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/sulit_bertahan_tanpa_sponsor.html#unique-entry-id-122</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/sulit_bertahan_tanpa_sponsor.html#unique-entry-id-122</guid><content:encoded><![CDATA[Selama empat tahun itu, Rumah Seni Yaitu (RSY) menyediakan tempat bagi para perupa atau pelaku seni untuk memamerkan karya- karya mereka. 

...Dalam suatu kesempatan, ketika RSY mengadakan diskusi seni rupa yang mendatangkan perupa dari Yogyakarta dan Darwin, Australia, hanya segelintir orang yang hadir. 

...Tubagus pun seperti patah arang ketika upayanya untuk membangkitkan gairah seni rupa di Kota Semarang tidak mendapat sambutan hangat. 

...Pengajar Seni Rupa Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Semarang Aryo Sunaryo mengatakan, tidak mudah bagi sebuah galeri untuk bertahan hanya bermodalkan idealisme. ]]></content:encoded></item><item><title>&#x27;Kudeta&#x27; Jogja Biennale X</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2010-01-04T01:20:29+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/kudeta_jogja_biennale_x.html#unique-entry-id-121</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/kudeta_jogja_biennale_x.html#unique-entry-id-121</guid><content:encoded><![CDATA[Sayang, realisasi narasi gerakan arsip dalam perhelatan dicederai rivalitas yang dipicu ketegangan antara pemegang otoritas artists interpretation (karya yang dipajang dalam gedung pameran) dan public on the move (karya yang dipajang pada ruang publik). 

...Tetapi, pada pintu utama gedung pameran TBY secara mencolok terpajang cuplikan catatan kuratorial yang ditulis oleh tim kurator (Eko Prawoto, Hermanu, Samuel Indratma, dan Wahyudin). 

...Terbukti, pada praktiknya terkesan kuat bahwa karya-karya pada ruang publik (walau semula indoor atau outdoor opsi yang ditawarkan kepada para perupa) diupayakan memenangi liputan media ketimbang yang berada di venue (TBY, JNM, Gedung Bank Indonesia, dan Sangkring Art Space). 

...Tetapi, tidak sedikit publik yang mengira Jogja Jamming adalah suguhan seni rupa yang dapat dinikmati sambil jalan maupun saat berkendaraan pada jam-jam Jogja memang jamming: (pe)macet(an).
]]></content:encoded></item><item><title>Museum Berikan Paket Pelajar</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2010-01-01T16:18:57+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/museum_berikan_paket_pelajar.html#unique-entry-id-120</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/museum_berikan_paket_pelajar.html#unique-entry-id-120</guid><content:encoded><![CDATA[Ketua III Badan Musyawarah Musea (Barahmus) DIY RM Donny S Megananda mengatakan, langkah ini dilakukan untuk menghapus citra buram museum yang masih melekat.


"Masih ada anggapan museum sebagai tempat wisata yang membosankan atau bahkan hanya sebagai gudang tempat menyimpan benda-benda kuno saja," tuturnya di Yogyakarta, Rabu (30/12).


...Untuk memperkenalkan museum pada pelajar, Barahmus DIY bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIY, Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta menyelenggarakan acara jalan-jalan dan diskusi interaktif bersama 90 pelajar SMP, SMA, dan SMK di Yogyakarta. 

...Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta Syamsury mengatakan, pihaknya mengaku telah berusaha meningkatkan minat pelajar berkunjung ke museum dengan mensyaratkan sekolah yang akan mengadakan kunjungan ke luar provinsi wajib terlebih dahulu mengunjungi salah satu museum di Yogyakarta. ]]></content:encoded></item><item><title>Biennale Jogja X-2009 Terjebak pada Stagnasi</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2010-01-01T16:13:52+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/biennale_jogja_terjebak_pada_stagnasi.html#unique-entry-id-119</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/biennale_jogja_terjebak_pada_stagnasi.html#unique-entry-id-119</guid><content:encoded><![CDATA[Catatan ini penting dikemukakan karena dari BEA inilah kemudian terjadi reformasi menjadi BJ seperti yang sekarang berlangsung tidak lagi melulu seni lukis.


Dua tahun berikutnya, TBY menghelat tiga pameran sekaligus dengan titel "Rupa-rupa Seni Rupa", yakni BSLY IV-1994 (khusus seni lukis), Pameran Seni Rupa Kontemporer/Instalasi, dan Pameran Seni Patung Outdoor. 

...Skala internasional BJ X-2009 berlabel "Jogja Jamming" sedang berlangsung di empat venue, yaitu TBY, JNM, SAS, dan Gedung Bank Indonesia, 11 Desember-10 Januari 2010. 

...Tantangan kreatif yang dihadapi seniman bukan cuma persoalan keindahan visual, melainkan ia bersinggungan langsung dengan heterogenitas sosial, lingkungan arsitektural, karakteristik kultural, dimensi ruang terbuka (open space), dan juga keganasan alam (hujan, panas, angin) yang harus direspons dengan baik oleh seniman.
]]></content:encoded></item><item><title>Nggendong Seni&#x2c; Nggendong Jogja</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2010-01-01T16:07:01+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/nggendong_seni_nggendong_jogja.html#unique-entry-id-117</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/nggendong_seni_nggendong_jogja.html#unique-entry-id-117</guid><content:encoded><![CDATA[Memakai kostum ksatria pewayangan Gatotkaca, Hendro mengawal kesepuluh buruh gendong itu melintasi zebra cross di titik nol Yogyakarta menuju depan Istana Gedung Agung.


...Menurut Sukinah, warga Tuksono, Sentolo, Kulon Progo, yang lebih dari 20 tahun menjadi buruh gendong, menggendong seniman ini menjadi pengisi waktu luang yang menyenangkan.   Setelah bekerja mengangkut barang dagangan yang diturunkan dari mobil sejak pukul 02.00 pagi buta, menjelang siang ia dan teman-temannya duduk santai karena mobil yang datang mulai bekurang.


Meski mengaku tak mengenal wajah seniman yang ia gendong, ataupun mahami apa itu biennale, Sukinah mengaku tak keberatan dilibatkan dalam aksi ini. ]]></content:encoded></item><item><title>DPRD &#x26; Pemprov DKI akan Bahas Bersama Patung Obama</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Cultural Politics</category><dc:date>2009-12-29T17:19:40+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/dprd_pemprov_dki_akan_bahas_bersama_patung_obama.html#unique-entry-id-116</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/dprd_pemprov_dki_akan_bahas_bersama_patung_obama.html#unique-entry-id-116</guid><content:encoded><![CDATA[Pro-kontra seputar peletakan Patung Obama ternyata juga menjadi perbincangan di kalangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta.   Dalam waktu dekat DPRD akan melakukan pertemuan dengan Pemprov DKI Jakarta untuk membahas patung semasa kecil Presiden Amerika Serikat yang menuai banyak kritikan tersebut.


...Kemarin kita masih sibuk dengan anggaran," ujar Ketua Komisi A, Ida Mahmumah, usai jumpa pers laporan akhir tahun di Gedung DPRD DKI Jakarta, Jl Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (29/12/2009).


...http://www.detiknews.com/read/2009/12/29/165700/1268006/10/dprd-pemprov-dki-akan-bahas-bersama-patung-obama]]></content:encoded></item><item><title>Menggugat Seni Publik&#x2c; Mengabaikan Publik</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2009-12-29T17:02:41+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/menggugat_seni_publik.html#unique-entry-id-115</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/menggugat_seni_publik.html#unique-entry-id-115</guid><content:encoded><![CDATA[Gugatan atas makna seni publik disampaikan dalam kuliah umum Biennale Jogja X di halaman Gedung Bank Indonesia Yogyakarta, Sabtu (26/12). 

..."Memandang dan merasakan kota ini yang kian penuh warna-warni oleh cahaya tapi bukan lampu warga, kian gemuruh oleh suara produksi industri, dan begitu sulitnya merebahkan diri di suatu sudut kota membuat saya ragu bahwa kota ini konon menjadi pusat kebudayaan dan peradaban dari, oleh, dan untuk rakyat," katanya.


...Bagi Goan Lay, penyelenggaraan Biennale Jogja X bertema "Jogja Jamming" yang ingin mengembalikan seni kepada publik bisa menjadi tes awal bagi bangkitnya seni publik di Yogyakarta. 

..."Harus lihai menyasar ruang dan menggerakkan warga sehingga karya yang muncul bisa menjadi seni publik organik yang menginspirasi warga," ujarnya.
]]></content:encoded></item><item><title>Merayakan Budaya Urban</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2009-12-29T16:58:02+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/merayakan_budaya_urban.html#unique-entry-id-114</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/merayakan_budaya_urban.html#unique-entry-id-114</guid><content:encoded><![CDATA[Berbagai pameran digelar di mal sebagai pusat gaya hidup urban, tema diolah dari problem perkotaan, dan estetika visualnya pun tak jauh dari tampilan budaya pop. 

...Inisiatif Galeri CG yang mengambil ruang pamer di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, sejak bertahun-tahun lalu belakangan diikuti Edwin's Gallery dan O House Gallery. 

...&rdquo;Dengan pameran bersama di mal, kami ingin membuka pangsa pasar baru yang lebih terbuka,&rdquo; kata Chris Dermawan, pemilik Galeri Semarang sekaligus salah satu ketua AGSI.


...Enin berharap, semua stake holder seni rupa&mdash;mencakup seniman, kolektor, pemilik galeri, lembaga pendidikan, pengamat/kurator, dan museum&mdash;menyadari pilihan dan risiko tren seni rupa yang semakin berorientasi kota tadi. ]]></content:encoded></item><item><title>Patung Obama&#x2c; Pahlawan Siapa?</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Cultural Politics</category><dc:date>2009-12-22T14:12:06+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/patung_obama_pahlawan_siapa.html#unique-entry-id-113</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/patung_obama_pahlawan_siapa.html#unique-entry-id-113</guid><content:encoded><![CDATA[Andai kata di depan kaki sang bocah ditambahkan bola, atau tangan sang bocah bukan dihinggapi kupu-kupu tetapi membawa bola sepak, mungkin ini sangat pas. 

...Ketua Foundation Friends of Obama, Roon Muller, yang punya gagasan, beralasan bahwa keberadaan patung itu untuk memberikan motivasi dan inspirasi bagi anak Indonesia. ...  Obama kecil memang pernah tinggal di Menteng, tapi bukan di tempat yang kini dijadikan taman kota itu.


...Jikapun Taman Menteng membutuhkan patung tokoh yang bisa memberikan semangat dan mimpi tentang kejayaan masa depan, tokoh-tokoh Betawi masih layak untuk dirujuk. ]]></content:encoded></item><item><title>Antara Ikut Tren dan Pencapaian Artistik</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2009-12-21T14:09:59+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/antara_ikut_tren_dan_pencapaian_artistik.html#unique-entry-id-111</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/antara_ikut_tren_dan_pencapaian_artistik.html#unique-entry-id-111</guid><content:encoded><![CDATA[Menurut Haryanto, dunia global sudah sangat menghargai karya-karya tiga dimensi, eh kita masih tetap saja memandangnya dengan sebelah mata dan tetap hanya mengagungkan seni lukis, itu pun dari jenis yang menggunakan cat minyak atau akrilik di atas kanvas.


...Memang, dalam beberapa tahun terakhir ini, di kancah seni rupa kontemporer global, karya-karya tiga dimensi dari para artis yang masih hidup memperoleh penghargaan yang tinggi dari dunia seni rupa, baik dari segi &rdquo;symbolic value&rdquo; (art discourse) maupun dari segi &rdquo;economic value&rdquo; (art market).


...Begitu pula seniman kontemporer Jepang terdepan, Takashi Murakami, tak hanya tertulis dengan tinta emas sebagai tokoh penganjur &rdquo;superflat&rdquo; dalam sejarah estetika dunia, tetapi juga tercatat sebagai seniman Jepang yang karyanya (berupa patung- instalasi My Lonesome Cowboy) paling mahal hingga hari-hari ini (13,5 juta dollar AS).


...Altje menampilkan patung-patung manusia dalam wujud realistis, tetapi berukuran kecil (saya ingat tata bahasa paling dasar dalam membuat patung manusia agar eye-catching: buat lebih kecil atau lebih besar dari ukuran normal manusia), terbuat dari resin dan kulit, dalam posisi sedang mengekspresikan sesuatu yang sepele (Pardon dan Yes, Lord, I do). ]]></content:encoded></item><item><title>Biennale Jogja X Membongkar Arsip</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2009-12-20T18:03:16+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/biennale_jogja_x_membongkar_arsip.html#unique-entry-id-110</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/biennale_jogja_x_membongkar_arsip.html#unique-entry-id-110</guid><content:encoded><![CDATA[Biennale kali ini dibagi dalam &rdquo;Kelompok Arsip&rdquo; yang terdiri dari 10 kelompok seniman, &rdquo;Artists Interpretation&rdquo; yang terdiri dari 127 perupa dan &rdquo;Public on The Move&rdquo; yang terdiri dari 190-an kelompok seni dan individu yang memamerkan karyanya di ruang publik.


...Biennale Jogja kali ini berupaya membongkar, membaca, dan menyuratkan kembali arsip dan dokumen dari laku cipta para pelaku seni rupa di Yogyakarta, itulah kerangka dasar dari kuratorial Biennale X. 

...Tercapainya tujuan aktivitas seni rupa tak bisa dilepaskan dari kinerja kurator dalam mengomunikasikan konsep kuratorial, menyambangi dan melihat sendiri karya serta konsep penciptaan. 

...Suatu bukti juga bahwa perhelatan besar yang telah berjalan lebih dari 20 tahun ini belum menjadi bagian dari agenda aktivitas kota atau city event.
]]></content:encoded></item><item><title>Biennale Jogja rejects commercialism</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2009-12-14T16:59:54+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/biennale_jogja_rejects_commercialism.html#unique-entry-id-109</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/biennale_jogja_rejects_commercialism.html#unique-entry-id-109</guid><content:encoded><![CDATA[A music performance by Jaduk Ferianto&rsquo;s Kua Etnika group, a contemporary trance-dance performance jathilan, a Balinese ogoh-ogoh dance and a performing arts performance involving 20 female laborers fromthe Yogyakarta traditional market Beringharjo, was performed at its opening.


...Butet also said it was worth noting this year&rsquo;s biennale included a team tasked with preparing a permanent biennale institution to manage the organization of the Biennale Jogja, with support from the provincial budget and the governor.


&ldquo;This permanent institution will not just organize the Biennale Jogja, but develop strategies, work on finance and strengthen fine art in Yogyakarta,&rdquo; Butet said, adding that the development team was scheduled to finish their task by April next year.


...He added when he was asked by Yudhoyono to be his culture and tourism minister, the President told him that tourism was important as it provided the country with income. ]]></content:encoded></item><item><title>Dancing with Light on Canvas</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2009-11-20T18:36:25+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/dancing_with_light_on_canvas.html#unique-entry-id-108</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/dancing_with_light_on_canvas.html#unique-entry-id-108</guid><content:encoded><![CDATA[The event is titled &ldquo;Choreography of Colours&rdquo; in salutation to the artist&rsquo;s unique painting methods as well as his celebrated career as dancer and choreographer.


...Upon hearing of this collaboration, vivi yip art room approached Sardono to host a preview of his work for his peers in Jakarta. 

...Instead, he relies on his fingers, hands, body, paint-tubes, oil-sticks, palette knife and painting-medium-bottles to apply and spread pigment upon canvas.


...Conversing with the artist while being guided through his South Jakarta studio, it becomes evident that each painting records a unique tango: an intimate dance between the artist and his canvas.
]]></content:encoded></item><item><title>Outside-In: Solo Exhibition of Mie Cornodeus</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Event</category><dc:date>2009-11-21T18:04:58+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/outside_in.html#unique-entry-id-107</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/outside_in.html#unique-entry-id-107</guid><content:encoded><![CDATA[Dalam projek Fotografi Potret yang diberi judul OUTSIDE-IN ini, Mie menunjukkan berbagai potret perempuan yang dikenal sebagai aktivis dan memiliki peranan penting dalam pertumbuhan kebudayaan dan kesenian di Yogyakarta, gagasan mendasar projek foto outside-in ini, Mie ingin menyingkap atau menyibak, bagaimana sebenarnya perempuan-perempuan tersebut bila terlepas dari berbagai atribut atau citraan identitas yang melekat pada diri mereka..   Menurut Mie memang susah untuk mengenali bagaimana sebenarnya perempuan-perempuan yang menjadi subjek fotonya ini, karena atribut dan citra tersebut sudah melekat erat pada diri mereka, untuk itu Mie membuat instalasi menarik dan mengajak penonton berinteraksi dengan dengan cara yang unik dan kreatif.


In this exhibition titled Outside-In, Mie shows portraits of women who are well known and influential in Jogja for their active roles in the social and cultural world. 

...Perempuan-perempuan itu adalah / The women presented in this exhibition are: Ade Tanesia, Anggi Minarni, Arahmaiani, Bernie Lim, Damai Pakpahan, Dian Anggraini, Dian Herdini, Dyah Suminar, Ebby Litz, Elida Tamalagi, Farah Wardani, GRA Nurmalita Sari /GKR Pambayun, Kartika Affandi, Larasati Suliantoro Sulaiman, Laretna Trisnantari Adishakti /Sita, Marice Samud, Marie Le Sourd, Mella Jaarsma, Nuraini Juliastuti /Nuning, Nita Azhar, Noor Sudiyati, Purwani Dyah Prabandari, Ria Papermoon, Siti Sutiyah Sasmintodipuro, Sri Wahyaningsi, Trisni Rahayu dan Yustina Neni 
]]></content:encoded></item><item><title>Jogja Jamming</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2009-11-22T18:02:11+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/jogja_jamming.html#unique-entry-id-106</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/jogja_jamming.html#unique-entry-id-106</guid><content:encoded><![CDATA[Pada titik inilah Yogyakarta Biennale X akan menggelar perhelatannya di dua panggung besar bernama Artists Interpretation di Taman Budaya Yogyakarta, Sangkring Art Space, Gedung Bank Indonesia, dan Jogja National Museum, serta Public on the Move di sejumlah titik strategis kota Yogyakarta pada 10 Desember 2009-10 Januari 2010.


...Karya-karya mereka merupakan interpretasi atas semangat zaman yang menaungi praktik penciptaan seni rupa di Yogyakarta dari era 1940-an sampai periode 2000-an&mdash;di mana sejarah diaktualisasikan dengan bahasa visual mutakhir sebagai sebuah upaya menggurat yang menjelang perkembangan estetika di dunia seni rupa Yogyakarta.


Dari pembacaan bersama antara tim kurator (Eko Prawoto, Hermanu, Samuel Indratma, Wahyudin) dan dewan kurator (Agus Burhan, Ong Hari Wahyu, Sindhunata)&mdash;dengan bantuan koreksi ahli sejarah seni rupa Suwarno Wisetrotomo&mdash;atas sejarah dan praktik seni rupa di Yogyakarta, ditetapkan ada lima semangat zaman yang akan menjadi titik tolak para seni-rupawan untuk melakukan interpretasi.


...Mereka melancarkan pemberontakan dengan mengusung wacana budaya dan kritik sosial-politik sebagai salah satu ikhtiar untuk melihat arti penting keragaman bentuk- bentuk seni rupa sebagai sama derajat, dengan cara memperluas bentuk praktik seni tidak sebatas lukisan, patung, dan grafis, tetapi meliputi seluruh praktik seni yang terjadi dalam berbagai lapisan masyarakat. ]]></content:encoded></item><item><title>Seni dan &#x27;Civil Society&#x27; (Dengan Referensi Khusus Kepada Penyair Rendra)</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Cultural Politics</category><dc:date>2009-11-13T23:53:59+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/seni_dan_civil_society.html#unique-entry-id-105</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/seni_dan_civil_society.html#unique-entry-id-105</guid><content:encoded><![CDATA[Apabila suatu komunitas budaya hendak menyumbangkan seperangkat nilai-nilainya ke dalam kehidupan publik, maka atribut-atribut dan nomenklatur komunal perlu dihilangkan (tanpa menghilangkan substansi nilai yang dikandungnya) agar supaya nilai tersebut dapat dipahami dan diterima oleh kelompok lainnya, karena nilai publik itu telah menjadi suatu nilai bersama meskipun nilai-nilai itu telah lahir dan dikembangkan dalam suatu komunitas budaya tertentu. 

...Apa yang dikemukakan di sini tentang etos kapitan perahu, dapat menjadi ilustrasi bahwa seperangkat nilai yang dikembangkan dalam suatu komunitas terbatas, dan dilegitimasi dengan alasan-alasan budaya dalam komunitas itu, dapat ditransfer dan diterapkan di ruang publik, asal saja segala alasan dan atribut yang bersifat komunal telah ditanggalkan (agar supaya dapat dipahami oleh publik yang lebih luas), sambil tetap dipertahankan substansi nilai yang dapat diterapkan juga di luar komunitas itu.


...Penyair Rendra misalnya dengan tegas mengatakan bahwa sekalipun seni umumnya dan sastra khususnya, harus dikembangkan berdasarkan disiplin artistik, namun dalam pesan yang disampaikannya, seni dapat dan bahkan harus memberi respons kepada masalah keadilan, pemerintahan yang bersih, atau pendidikan nasional yang merupakan sektor-sektor publik. 

...Namun demikin, ketajaman dalam melihat dan merasakan kesenjangan itu ada secara khusus dalam diri para seniman, Ini bukan karena para seniman lebih saleh, lebih sadar hukum, atau lebih berkomitmen terhadap transparansi, tetapi karena dalam menciptakan karya-karya kreatif yang berhasil, para seniman harus memenuhi tuntutan otentisitas pesan yang hendak disampaikan , dan orisinalitas ekspresi dalam pengungkapan pikiran dan perasaan. ]]></content:encoded></item><item><title>Wimo Film and Video Festival</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Event</category><dc:date>2009-10-27T01:09:22+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/wimo_festival.html#unique-entry-id-103</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/wimo_festival.html#unique-entry-id-103</guid><content:encoded><![CDATA[Ketika di tahun 2000-an ia menggunakan medium video pun, itu disebabkan karena situasi dan kondisi yang akan lebih efisien dan ekonomis bagi seorang mahasiswa yang tak kunjung jua lulus di ISI. 

...Namun, berbeda dengan kemunculan televisi di Eropa dan Amerika yang menyebabkan munculnya gerakan seni pop art, fluxus dan video art sebagai kritik terhadap dominasi media, selama berpuluh-puluh tahun TVRI tetap mendominasi dan menciptakan persepsi kekuasan tunggal pada era Orde Baru.   Bahkan pada masa itu, video sempat dianggap sebagai sebuah ancaman bagi kestabilan nasional karena efeknya yang dianggap mampu merusak moral bangsa dan menimbulkan konsumerisme (lebih lanjut lihat penelitian Forum Lenteng dalam VIDEOBASE, 2009.) 

...Dengan demikian meski di awal tulisan ini saya katakan agak terlambat untuk mengadakan Wimo Film and Video Festival, video-video yang diproduksi Wimo tentu masih sangat kontekstual untuk dibicarakan. ]]></content:encoded></item><item><title>Deer Andry</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Event</category><dc:date>2009-11-05T19:30:54+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/deer_andry.html#unique-entry-id-101</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/deer_andry.html#unique-entry-id-101</guid><content:encoded><![CDATA[Pameran &ldquo;Deer Andry&rdquo; akan menampilkan kelompok band &ldquo;seek six sick&rdquo; dan &ldquo;Black Ribbon&rdquo;, band-band dari Jogja bergenre noise yang notabene juga akan menginagurasi spirit genre noise band Andry bernama &ldquo;A&nbsp; Stone A&rdquo; yang juga akan tampil pada pembukaan pameran. ...  &nbsp; Pameran ini menampilkan ratusan karya dari berbagai kalangan perupa Bandung, Jakarta dan Yogyakarta yang menafsir simbol &ldquo;rusa&rdquo; (Deer), salah satu simbol personal Andry yang diniatkannya sebagai gagasan pameran tunggalnya, namun Tuhan telah memanggilnya sebelum niat pameran tunggalnya itu terlaksana. 

...Peserta pameran:  Agung Hujatnika Jennong, Agus Suwage, Agus Zimo, Laksmi Rahayu Husin, Anang Saptoto, Andang Iskandar, Andi Dwi Tjahyono, Anggiat Tornado, Angki Purbandono, Ardiyanto, Agra Satria, Albert Yonathan, Arin Dwihartanto, Armand Jamparing, Arya Pandjalu, Bagus Mortal Combatt, Bambang Toko, Beng Rahadian, Anto  GS a.k.a Bofag, Bossta a.k.a  jenius fatboy, cyka, Dadang Ide Darmawan, Danny Supriyatna, Decky Leos, Deddy Hermawan, DendyDarman (347),  Diah Puspa Dewi,  Edwin Dolly, Eko Didyk &lsquo;Codit&rsquo; Sukowati, Eko Nugroho, Endang Lestari, Erfianto gurit, Fathurahman &lsquo;indun&rsquo;, Fery Oktanio, Frino Bariarcianur, GAS, Gde Krisna, Gustaff H.Iskandar, Hendra Blankon, Hendra Hehe, Isa Perkasa, Isse Parking Project, Iwan Effendi, Iyok Prayoga, Izmet, janu satmoko, Jim Allen Abel, Jimmy Mahardika, Jiyoe feat.   Yuli prayitno, Krisna Murti, Mella Jaarsma, Mizuho Matsunaga, Achmad Yasin, mulyana, Nindityo Adipurnomo, Nurhidayat, Ori Riantori, Purnomo, R.E  Hartanto, R.M Sonny Irawan, Rennie Emonk, Ria Effendi, Rizki Lazuardi, Rudi abdallah, Santi Indieguerillas, Sari Handayani, Satrio Nur Bambang (SatNB), Sri Maryanto, Sujud Dartanto, S. ]]></content:encoded></item><item><title>Kisah Wajah: Gatot Pujiarto&#x27;s Solo Exhibition</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Event</category><dc:date>2009-11-03T15:05:07+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/kisah_wajah.html#unique-entry-id-100</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/kisah_wajah.html#unique-entry-id-100</guid><content:encoded><![CDATA[Ada yang secara khusus melukis potret diri, merekam wajahnya yang tampak muda dan bergairah hingga sampai wajah itu jadi logro dan penuh garis-garis, semua dengan suka cita mereka rekam. 

...Teknis ini juga yang menyebabkan karyanya tidak tampil halus, manis tertib dan hal ini juga mejadi pembeda dengan para rekan seprofesinya di Malang yang pada umumnya halus, teknis pencitraan yang realistik.   Bangunan simbol dalam beberapa karya memang telah lama dikenal dalam masyarakat seperti hitam dan putih untuk baik dan buruk, serta bentuk binatang (KDRT), untuk menunjukkan prilaku manusia yang buas dan brutal  serta bentuk kepala buaya (Lelanange Jagad) sebagai simbol perayu. ...  Disini kita bisa melihat dalam teks yang dibangun oleh Gatot tidak hanya merujuk pada referensi atau peristiwa atau kejadian-kejadian yang menjadi acuan, namun penggayaan dalam teks karya Gatot membuka kemungkinan terbentangnya sebuah horison dari dunia baru yang dibangunnya sendiri.
]]></content:encoded></item><item><title>Respons Terhadap Kengawuran</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2009-07-23T17:47:10+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/respons_terhadap_kengawuran.html#unique-entry-id-99</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/respons_terhadap_kengawuran.html#unique-entry-id-99</guid><content:encoded><![CDATA[Dalam lukisan realis berjudul The Error of Pieneman's Perspective itu, Heri Dono membuat latar penangkapan Soeharto persis seperti adegan penangkapan Pangeran Diponegoro di Magelang. 

...Sebelas di antaranya adalah karya dua dimensi, delapan karya tiga dimensi, satu video art dan satu performance art berjudul Tari Traktor Jogja yang dimainkan di alun-alun utara Keraton Yogya saat pembukaan pameran.


...Tak cukup dengan karya dua dimensi, ia juga menghadirkan 20 sosok seniman dunia (tiga di antaranya seniman Indonesia, yakni Chairil Anwar, Affandi, dan Raden Saleh) dalam bentuk karya tiga dimensi berjudul Agent of Change II. 

...Sedangkan posisi jongkok pada Agent of Change II, menurut Heri Dono, sebagai gerak simbolik saat para seniman sedang merenung untuk menghasilkan karya untuk mengubah dunia, meski yang tampak adalah luncuran tinja.
]]></content:encoded></item><item><title>Lukisan Masriadi Berkibar di ArtSingapore Fair</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2009-10-14T17:45:29+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/lukisan_masriadi_berkibar_di_artsingapore_fair.html#unique-entry-id-98</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/lukisan_masriadi_berkibar_di_artsingapore_fair.html#unique-entry-id-98</guid><content:encoded><![CDATA[Sebuah lukisan Masriadi dengan judul &ldquo;Book Lover&rdquo; terjual S$588.000 atau sekitar Rp 3,5 miliar, merupakan nilai tertinggi di antara lukisan yang rata-rata laku S$200.000. ...  Sementara Lukisan Masriadi lainnya, melalui Balai Lelang Sotheby yang berjudul &ldquo;The Man from Bantul (The Final Round)&rdquo;, tahun lalu laku di Hong Kong senilai HK$ 7,8 juta atau sekitar Rp 9,5 miliar.


...&ldquo;Tahun lalu, di Bulan Oktober kami kehilangan uang sekarang kita bisa mengumpulkan uang lagi,&rdquo; ujar John Andreas, pendiri Balai Lelang Borobudur. 

...Dua hari lalu, 33 barang seni yang dilelang milik galery Linda Ma terjual S$4.41 juta dalam tajuk Seni Modern dan Kontemporer Asia. ]]></content:encoded></item><item><title>Deklarasikan Hari Kebudayaan&#x2c; Para Seniman Akan Kumpul di Bandung</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2009-10-28T17:43:23+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/deklarasikan_hari_kebudayaan.html#unique-entry-id-97</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/deklarasikan_hari_kebudayaan.html#unique-entry-id-97</guid><content:encoded><![CDATA[Sejumlah seniman bakal mendeklarasikan Hari Kebudayaan Nusantara 7 November mendatang di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung. 

...Menurut dia, deklarasi itu sekaligus usulan ke pemerintah agar menetapkan 7 November sebagai Hari Kebudayaan Nusantara. 

...Usulan itu tercetus dari hasil diskusi dengan sejumlah seniman Bandung dan Jakarta saat mempersiapkan acara setelah Rendra wafat 6 Agustus lalu. 

...Dalam rancangan deklarasi antara lain disebutkan, Hari Kebudayaan Nusantara adalah saat untuk menghargai tokoh-tokoh seni/ kebudayaan; baik yang telah wafat atau yang masih aktif berjuang. ]]></content:encoded></item><item><title>Menyatukan Rupa dan Kata</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2009-10-29T17:41:56+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/menyatukan_rupa_dan_kata.html#unique-entry-id-96</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/menyatukan_rupa_dan_kata.html#unique-entry-id-96</guid><content:encoded><![CDATA[Sebuah seri lukisan yang mengisahkan perjalanan jiwa dalam ungkapan gerak yang profan, dinamis  dan bahkan  sensual, hingga pada suatu sat  dia berbalik arah  menuju  sebuah cahaya benderang. 

..."Kita hanya merasakan keriangan dan semangat layaknya anak-anak yang  mendapat mainan baru," ujar Jhon yang kumpulan puisinya Soul Sound Bite diterbitkan tahun lalu.


Gairah anak-anak itu jelas terlihat antara lain dalam karya  digital  print yang menggabungkan separo wajah Gus Indra dan setengahnya lagi adalah wajah Jhon. 

..."Bagaimana pun akan selalu ada kompromi-kompromi dalam proses yang melibatkan dua seniman," ujar dosen jurusan seni rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar itu.
]]></content:encoded></item><item><title>Are sports more valuable than the arts?</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Cultural Politics</category><dc:date>2008-08-20T17:28:10+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/are_sports_more_valuable_than_the_arts.html#unique-entry-id-95</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/are_sports_more_valuable_than_the_arts.html#unique-entry-id-95</guid><content:encoded><![CDATA[The tax bill provides tax exemption only for non-profit organizations in the fields of education and research and developments, and tax deduction for philanthropic donors in the fields of education, social infrastructures and, this is what hurts them most, sport.


...While the artists said they were never asked for their input during the deliberation process, or worse had their aspirations somehow ignored by the lawmakers, Drajat questioned why the artists had only begun to voice their concerns now.


...Ery Nugroho from the Center for Legal and Policy Studies (PSHK), in defense of the artists, said the lawmakers should have been more proactive in asking for input from the public, not the other way around.


...Hamid Abidin from PIRAC said that the value of philanthropic donations in Indonesia increased significantly in the past few years from Rp 65,000 (US$7.02) per person per year in 2000 to Rp 375,000 per person per year in 2007.
]]></content:encoded></item><item><title>Eddi Prabandono: A hidden story told in clay</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2009-08-07T14:35:11+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/eddi_prabandono_a_hidden_story_told_in_clay.html#unique-entry-id-94</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/eddi_prabandono_a_hidden_story_told_in_clay.html#unique-entry-id-94</guid><content:encoded><![CDATA[Eddi Prabandono, a 39-year-old artist from Yogyakarta has a very special relationship with his daughter Luz (now 4 years old), a relationship that has played a unique role in his development as an artist and has influenced his art in a way that perhaps he could never have imagined.


...A graduate of the Indonesian Institute of the Arts in Yogyakarta, Eddi was part of the early movement of Indonesian contemporary visual arts in the 1990s, where he had his debut solo exhibition at the most prestigious gallery of the time, Cemeti Contemporary Art Gallery (now called Cemeti Art House). 

...The installation at the 2007 Biennale Jogja, which was the first time Eddi presented a large clay sculpture to the public, focused on the essence of the material - clay - and made its presentation extreme by way of scale.


...This is truly a meaningful comeback by an artist, where he is not only redefining himself and his whole aesthetic vision, but is also telling a beautiful story that marks an important shift in his identity as human being, from free individual to father. 
]]></content:encoded></item><item><title>Think twice before passing the pornography bill</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Cultural Politics</category><dc:date>2008-09-23T14:32:02+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/before_passing_the_pornography_bill.html#unique-entry-id-93</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/before_passing_the_pornography_bill.html#unique-entry-id-93</guid><content:encoded><![CDATA[Just as observers were commending the Prosperous Justice Party (PKS) for distancing itself from the exclusive Islamism it is often associated with, the disappointing news that the party's faction in parliament is pushing for the controversial pornography bill to be passed, emerges (The Jakarta Post, Sept. 

...As the main evidence of Indonesia's moral decadence must be the rampant corruption in respectable institutions such as the Parliament, the Attorney General's office and the banking system, it is difficult to understand how a pornography bill will improve our nation's morals, especially where improvement is desperately needed.


...The Soho area of London's West End is famous for its sex joints, but an observation of the customers of sleaze there will show that most customers are tourists, many from religious countries where sexuality is repressed.


...While the supporters of the pornography bill do not seem to care that the bill defines porn in such dangerously vague terms, its critics are justifiably concerned that the bill will bring more harm than good.
]]></content:encoded></item><item><title>&#x2018;Beyond the Dutch&#x2019; opens in Utrecht</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2009-10-16T14:03:20+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/beyond_the_dutch.html#unique-entry-id-92</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/beyond_the_dutch.html#unique-entry-id-92</guid><content:encoded><![CDATA[Every period is represented by a selection of works, amounting to 40 artists, including Raden Saleh, Abdullah Suriosubroto, Jan Toorop, Isaac Israels, Affandi, Hendra Gunawan, Sudjojoni, Piet Ouborg, Charles Sayers, Heri Dono, Agus Suwage, Mella Jaarsma, Eko Nugroho, Jompet, Prilla Tania, Tintin Wulia and many more.


...Meta Knol further explained that, just as Dutch artists in Indonesia in the 1900s were strongly influenced by an Orientalism that was inextricably tied to the prevailing colonial viewpoint, Indonesian visual art around the 1950s was largely informed by independence and the subsequent development of a nationalist cultural policy.


...This space has been allocated to Mella Jaarsma, the Dutch-born, Yogyakarta-residing artist who, together with her husband Nindityo Adipurnomo, has played an important mediating role in the relations and interactions between Dutch and Indonesian artists, and in bringing Indonesian artists to the attention of the Dutch and vice versa.


...It will be interesting to see how such artists &mdash; Miriam Burer, Hadassah Emmerich, Tiong Ang, Fiona Tan and others &mdash; differ or show similarities with Indonesian contemporary artists such as Heri Dono, Eko Nugroho or any of the other Indonesian participants. ]]></content:encoded></item><item><title>Visual artists go on a second odyssey</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2009-10-17T11:48:54+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/visual_artists_go_on_a_second_odyssey.html#unique-entry-id-91</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/visual_artists_go_on_a_second_odyssey.html#unique-entry-id-91</guid><content:encoded><![CDATA[The "Second Odyssey" exhibition at Sri Sasanti Gallery Yogyakarta has a double meaning, marking both the journey of the gallery, which is celebrating its second anniversary, and an effort to challenge participating artists to showcase their second artistic development.


..."This exhibition, however, is obviously not the end of their creativity but this level *of the process* might be seen as a *pause' from their ongoing creativity and artistic processes," Fery said.


...In this case, as curator, Fery did not "direct" all the works to be displayed but rather acted as the "conductor", allowing each artist to maintain his or her own characteristics but in a single harmonious presentation.


...The renowned artist, who has long conducted research into Indonesian art and history, admitted that Kapten Tag was about various paintings by other artists, mostly in glass paintings. ]]></content:encoded></item><item><title>Tinggal Menunggu Kolektor</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2009-10-19T10:42:09+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/tinggal_menunggu_kolektor.html#unique-entry-id-90</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/tinggal_menunggu_kolektor.html#unique-entry-id-90</guid><content:encoded><![CDATA[Ketika sebuah karya seni rupa cat air tak membuat kita berpikir bahwa karya ini bisa lebih baik dibuat dengan cat minyak, ketika karya seni grafis cetak saring tak mengingatkan sebaiknya karya ini dibuat dengan cukil lino, bisa dibilang seniman tersebut memilih media yang pas buat dirinya.


...Karya Anggara dan Septa Adi sekadar contoh untuk menyatakan, lewat pameran karya peserta Trienal Seni Grafis ini kita mendapat gambaran bahwa dunia seni grafis kita tak mengalami inflasi. ...  Para peserta, meski belum mencerminkan banyak dan beragamnya seni grafis kita sebagaimana tampak pada dua pameran seni grafis yang lalu (pada 2000 pameran setengah abad seni grafis dan 2002 pameran seni grafis penjelajahan media dan gagasan), tidaklah &rdquo;miskin&rdquo; amat. 

...Tampaknya usaha Bentara Budaya mengangkat seni grafis kita yang dimulai dengan pameran setengah abad seni grafis Indonesia pada 2000 lalu menjadi batu loncatan pertama melajunya seni grafis kita. ]]></content:encoded></item><item><title>Agar Kesenian Tidak Terbelenggu</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2009-10-19T10:37:38+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/agar_kesenian_tak_tebelenggu.html#unique-entry-id-89</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/agar_kesenian_tak_tebelenggu.html#unique-entry-id-89</guid><content:encoded><![CDATA[Harus disebut terlebih dahulu, secara teknis&mdash;ini belum mempersoalkan gagasan meski bentuk dan gagasan sebetulnya tidak selalu bisa dipisahkan&mdash;muncul beberapa karya yang terbilang menarik. ...  Dengan itu ia hendak menggambarkan, posisi yang seperti anak tangga ini melukiskan betapa perempuan tak lebih adalah &rdquo;panjatan&rdquo; (bagi lawan jenis untuk naik ke posisi lebih tinggi).


Dalam deretan gagasan mengenai relasi perempuan-lelaki seperti itu berikut berbagai variannya, muncul representasi karya-karya menarik lainnya, seperti Dita Gambiro dengan &rdquo;Badong&rdquo; (semacam &rdquo;G-string&rdquo; pelindung alat vital perempuan), atau kursi yang dibuat dari rambut panjang berjudul &rdquo;I Try to be Honest&rdquo; (Saya mencoba untuk jujur).


...Tak ketinggalan, patung berukuran &rdquo;raksasa&rdquo; setinggi sekitar 12 meter karya Titarubi&mdash;yang pasti menarik perhatian mereka yang berminat pada psikologi Freudian untuk mempertanyakan, ada apa sih di balik kecenderungan ingin serba besar itu? ]]></content:encoded></item><item><title>Lewat Mella&#x2c; Kita Baca Indonesia</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2009-11-01T10:25:31+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/lewat_mella_kita_baca_indonesia.html#unique-entry-id-88</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/lewat_mella_kita_baca_indonesia.html#unique-entry-id-88</guid><content:encoded><![CDATA[Pertanyaan itu mengiang-ngiang saat menyaksikan pameran Mella Jaarsma (49) bertajuk &rdquo;The Fitting Room&rdquo; di Galeri B-C, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 27 Oktober-8 November ini. 

...Karya-karyanya mengusik perbincangan serius soal identitas dan keberagaman budaya Indonesia, yang masih kerap memicu persoalan di tengah masyarakat.


...Pada satu sisi Indonesia dikaruniai kekayaan tradisi, katakanlah seperti Papua punya koteka, Jawa dengan belangkon, atau Bali memiliki pemahaman spiritual soal sekala dan niskala. 

...Dia memilih idiom kostum dalam beragam bentuk karena media ini dianggap lebih akrab dengan siapa pun, mudah memancing interaksi, dan bisa mencerminkan pergulatan identitas. ]]></content:encoded></item><item><title>Mengubah Citra Mesti Mengubah Cara Pikir</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Cultural Politics</category><dc:date>2009-05-06T07:32:36+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/mengubah_citra_mesti_mengubah_cara_pikir.html#unique-entry-id-87</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/mengubah_citra_mesti_mengubah_cara_pikir.html#unique-entry-id-87</guid><content:encoded><![CDATA[Tampil sebagai narasumber adalah Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala Depbudpar Hari Untoro Dradjat, Direktur Museum Intan Mardiana, pengamat museum Victor Chandrawira, kurator dan dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Mike Susanto, guru besar Universitas Indonesia Nurhadi Magetsari, dan kurator museum di AS, Martha Balckwelder. 

...Junus yang menemukan banyak persoalan dari hasil penelitiannya mengatakan, kelemahan museum selama ini karena tidak punya kurator dan 80 persen kepala museum tidak punya latar belakang kebudayaan dan 100 persen tak punya latar belakang pendidikan museum.


...Hari juga menegaskan agar pemerintah pusat dan daerah bekerja sama mendukung proses peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) museum, baik melalui jenjang S-1 maupun S-2, bahkan S-3.


...Dihadiri sekitar 200 peserta dari seluruh kepala museum pemerintah dan swasta di Indonesia, Asosiasi Museum Indonesia, tokoh dan pengamat kebudayaan, pemerhati dan pakar permuseuman, serta akademis, Diskusi dan Komunikasi Museum Indonesia dibuka Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin, Senin (4/5) malam.
]]></content:encoded></item><item><title>Giving: Pameran Tunggal Pras</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Event</category><dc:date>2009-05-02T10:28:09+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/giving_pameran_tunggal_pras.html#unique-entry-id-86</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/giving_pameran_tunggal_pras.html#unique-entry-id-86</guid><content:encoded><![CDATA[Hardiman, kurator pameran ini, mengklasifikasikan 14 lukisan terbaru Pras ke dalam tiga subtema yakni: Mengkritisi Eksploitasi, Mencatat Proses-Menjadi, dan Menghidupkan Sang Waktu.   Persoalan alam yang digarap Pras dilihatnya sebagai sang pemberi yang karena proses konstruksi budaya, alam bisa dieksploitasi atas kepentingan manusia.   Alam juga dilihat sebagai media pencatatan proses-menjadi, dan alam juga bisa menggugah Pras dalam cara menghidupkan waktu.


...Lukisan Pras yang subjek-subjeknya bersumber dari alam dapat diklasifikasikan ke dalam tiga subtema, yaitu: Mengkritisi Eksploitasi, Mencatat Proses-Menjadi, dan Menghidupkan Sang Waktu. ]]></content:encoded></item><item><title>Wajah-wajah Karat ala Teguh</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2009-04-26T13:33:54+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/wajah_wajah_karat_ala_teguh.html#unique-entry-id-85</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/wajah_wajah_karat_ala_teguh.html#unique-entry-id-85</guid><content:encoded><![CDATA[Bangkai-bangkai mesin milik Nikko Steel oleh Teguh Ostenrik digunakan sebagai materi patung yang berbicara mengenai ekspresi manusia--dipamerkan di Gedung Arsip Nasional, yang preview-nya mulai hari ini.


...Yang disajikan tentu bukan ekspresi harfiah wajah Rahwana seperti dalam wayang, tapi ada suatu bentuk "kuda-kudaan" dengan lengkungan lempeng-lempeng yang menghadap segala arah, mengandaikan banyak wajah dari segala sisi. 

...Bila kita berkunjung ke lokasinya di Cikupa, Tangerang, begitu memasuki area pabrik, kita akan melihat banyak gulungan besar bahan baku kawat-kawat dari Krakatau Steel. 

...Secara garis besar, mula-mula kawat dari gelondongan itu ditarik oleh mesin drawing, yang membuat kawat itu lurus, kemudian dimasukkan mesin cutting untuk dipotong kecil-kecil. ]]></content:encoded></item><item><title>Nashar&#x2c; Irama Jiwa&#x2c; dan Kolektor</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2009-04-23T13:32:25+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/nashar_irama_jiwa_dan_kolektor.html#unique-entry-id-84</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/nashar_irama_jiwa_dan_kolektor.html#unique-entry-id-84</guid><content:encoded><![CDATA[Pameran besar lukisan Nashar di Galeri Nasional ini adalah sebuah kesempatan untuk meresapi karya-karya abstraknya--yang bagi banyak orang mungkin membingungkan, tapi bagi banyak orang lagi sebuah pencapaian luar biasa. 

...Di larut malam, saat Nashar sendirian berhadapan dengan kanvasnya, ia mungkin mempersembahkan lukisan-lukisannya kepada kawan imajinernya itu--kawan yang bisa menghargai pilihan hidupnya.   Bukan pula kepada kritikus, kolektor, atau seniornya, seperti Sudjojono (1913-1986), yang pernah memvonisnya tak berbakat melukis dan menyarankan ia bekerja kantoran atau menjadi polisi perkebunan saja.


...Banyaknya kolektor yang mendatangi pembukaan pameran bertajuk "Elegi Artistik" pada malam tersebut adalah bukti penghargaan itu--juga suatu malam yang ironis bagi Nashar (almarhum). ]]></content:encoded></item><item><title>Yogya&#x2019;s Women Artists on the Move</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2009-04-26T13:02:31+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/yogyas_women_artists_on_the_move.html#unique-entry-id-83</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/yogyas_women_artists_on_the_move.html#unique-entry-id-83</guid><content:encoded><![CDATA[Sitting on bamboo mats and sipping tea, they listened to fellow artist Theresia (Tere) Augustina Sitompul, present pictures of her latest solo exhibition, &ldquo;Confessions of an Artist as a Young Mum&rdquo;, at the Vivi Yip Art Room in Jakarta last March.


...Even more annoyed is a 36-year-old mother of two,&rdquo; Some people stop being interested in my work the moment they learn I am married and have children, because they think I don&rsquo;t have time to be productive anymore. 

...&ldquo;Although we didn&rsquo;t plan this as a female project, women will be naturally dominating, since it&rsquo;s much easier for them to get the trust of the sex workers&rdquo;, Lashita said. 

...&ldquo;We really need to support each other to achieve new standards,&rdquo;says Diah, &ldquo;this group will only work, if we are all absolutely honest: if we stick together instead of bashing each other as competitors, we can change something in the system.&rdquo; 
]]></content:encoded></item><item><title>Proses Kerja: Seperti Menemukan Surga</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2009-04-26T12:54:21+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/proses_kerja_seperti_menemukan_surga.html#unique-entry-id-82</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/proses_kerja_seperti_menemukan_surga.html#unique-entry-id-82</guid><content:encoded><![CDATA[Tertarik pada gagasan patung dari besi bekas, Hadi mempersilakan Teguh memanfaatkan bahan rongsokan dan mesin bekas yang terhampar di tanah lapang dekat pabrik di Cikupa, Tangerang, Banten. 

...Setelah jadi, ternyata patung-patung itu besar dan berat, bahkan ada yang mencapai 600-an kg.   Kalau rata-rata berat setiap patung 200-an kg saja, total berat 50-an patung dalam pameran mencapai 10-an ton.


Semua karya itu diangkut dari Cikupa ke Gedung Arsip Nasional, Jakarta, dengan tiga truk besar dan tiga truk box. ]]></content:encoded></item><item><title>Wajah Kita Pada Besi Tua</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2009-04-26T12:55:16+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/wajah_kita_pada_besi_tua.html#unique-entry-id-81</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/wajah_kita_pada_besi_tua.html#unique-entry-id-81</guid><content:encoded><![CDATA[Gerombolan kawat itu mirip rambut riap-riap seorang perempuan; lubang menyerupai mulut; dan tempelan gir serta potongan besi mungil itu bak dua mata yang melotot.


...Sebagaimana dua patung tadi, puluhan patung lain juga memperlihatkan berbagai raut wajah dari rakitan potongan-potongan besi tua. 

...Kurator pameran, Wicaksono Adi, menilai, lapisan-lapisan ekspresi wajah dalam patung itu membuka ruang bagi kita untuk keluar-masuk dan terus bergerak bebas. ...  Patung-patung ini mewakili momen-momen personal dan impersonal manusia saat melihat keunikan ekspresi wajah yang menampakkan sesuatu yang tersurat sekaligus menyimpan yang tersirat.
]]></content:encoded></item><item><title>Membaca Elegi Artistik Nashar</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2009-04-26T12:52:15+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/membaca_elegi_artistik_nashar.html#unique-entry-id-80</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/membaca_elegi_artistik_nashar.html#unique-entry-id-80</guid><content:encoded><![CDATA[Kalau menyimak karya-karya Nashar sambil mengenang kembali kehidupan perupa itu, akan merasa bahwa betapa unik beberapa simpul dalam perkembangan seni rupa Indonesia. 

...Buku itu menampilkan (kembali) tulisan-tulisan yang pernah terbit di sejumlah media dari para penulis, untuk menyebut beberapa nama saja, Goenawan Mohamad, Putu Wijaya, Maruli Tobing, Ray Rizal, Efix Mulyadi, dan Bambang Bujono.


...Dijembreng dalam pameran seperti itu, yang terasa adalah karya-karya tersebut lahir dari jiwa yang terus mengalun, tak pernah henti berada dalam percumbuan dengan krida estetik. 

...Tidakkah diperlukan close reading, pembacaan amat dekat, bagaimana karya-karya Nashar yang oleh Darga Gallery dulu pernah disandingkan dengan karya pelukis surealis Spanyol, Joan Miro, bisa lahir di bumi sini? ]]></content:encoded></item><item><title>Art and the City</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2009-04-26T12:48:36+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/art_and_the_city.html#unique-entry-id-79</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/art_and_the_city.html#unique-entry-id-79</guid><content:encoded><![CDATA[Acara yang berlangsung tanggal 23-26 April 2009 ini didukung oleh majalah C-Arts, Singapore Art Museum, Asosiasi Galeri Senirupa Indonesia (AGSI), dan Asosiasi Pencinta Seni (Aspi).


...Meski beberapa galeri di sini berusia cukup lama&mdash;untuk menyebut beberapa adalah Edwin&rsquo;s Gallery dan Mon Decor sendiri&mdash;tapi baru dua tahun lalu galeri-galeri itu membentuk asosiasi untuk memajukan kepentingan bersama.


...Hanya saja, dalam hal ini khusus untuk dunia seni rupa, banyak pendapat bahwa pasar boleh jadi menyurut, tapi tidak ambruk (majalah Newsweek menyoroti secara khusus hal itu dalam edisinya pada bulan April).


Patricia Chen, pengamat pasar seni Asia, dalam forum ini mengatakan, &rdquo;Pasar seni rupa punya logika sendiri yang tak selalu seiring dengan pasar saham atau krisis finansial.&rdquo;
]]></content:encoded></item><item><title>Seni Rupa Kontemporer: Lebih Segar&#x2c; Lebih Kritis</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2009-04-26T12:45:22+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/seni_rupa_kontemporer_lebih_segar_lebih_kritis.html#unique-entry-id-78</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/seni_rupa_kontemporer_lebih_segar_lebih_kritis.html#unique-entry-id-78</guid><content:encoded><![CDATA[Di hajatan seni rupa di mana saja, baik di Amerika, Eropa, Asia, mudah ditemui kalangan atas masyarakat berikut simbol konsumsinya yang wah dari pakaian, tas, sepatu, berikut kasak-kusuk dan gosipnya. ...  Dalam hajatan seni rupa semacam art fair ataupun biennale, yang muncul adalah para konsumen dari dunia konsumsi yang digelar di fashion show maupun butik-butik terkemuka.


...Di kediaman perancang terkenal, Edward Hutabarat (50), di bilangan Cilandak, Jakarta, bisa dilihat karya-karya pelukis kontemporer seperti Galam Zulkifli, Yayat Surya, Didik Nurhadi, Dipo Andi, dan Diyanto. 

...Di antara beberapa karya perupa masa kini yang terpajang di dindingnya, antara lain karya Diyanto, Dipo Andi, Saiful, Teguh Ostenrik, dan lain-lain, ia mengaku yang sangat disukainya adalah karya Dipo Andi yang berjudul &rdquo;Peta Indonesia Baru&rdquo;. ]]></content:encoded></item><item><title>Romance Comics of the 60s: A Short Lived Love Story</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2009-04-06T19:45:52+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/romance_comics_of_the_60s.html#unique-entry-id-77</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/romance_comics_of_the_60s.html#unique-entry-id-77</guid><content:encoded><![CDATA[The comic is just one from the era&rsquo;s romance genre, which were avidly consumed by women and men alike, at a time when youth culture was swamped by feelings tenderness, love and heartbreak.


Although Tertiup Bersama Angin seems to take place in a highly developed city like New York, Paris or London, its creator, Jan Mintaraga, says the setting was Jakarta in the late 1960s, just after the fall of the anti-West president Sukarno and the rise of the pro-West president Soeharto.


...Scenes in which characters read books and newspapers are something of a must for the comics, even though most people at that time were illiterate and love for books was something found only within the small circle of the upper class.


...By the early 1970s, however, the mostly male readership had had enough of reading about the love and heartache that entangled the lives of these beautiful city people and abandoned them as soon as the first martial art comic Si Buta dari Goa Hantu was published by Ganes TH.
]]></content:encoded></item><item><title>Dosa Lama Jangan Dilupakan</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2009-04-13T13:10:05+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/dosa_lama_jangan_dilupakan.html#unique-entry-id-76</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/dosa_lama_jangan_dilupakan.html#unique-entry-id-76</guid><content:encoded><![CDATA[Biar mereka lebih paham, apa itu pemilu, cermat memilih, dan bisa menuntut janji dari wakil rakyat atau pemimpin terpilih nanti,&rdquo; tutur Ucup yang menunggu studio Taring Padi di Dusun Sembungan, Kelurahan Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Bantul.


...Masyarakat perlu diingatkan akan hak-haknya dalam pemilu, termasuk hak untuk menggugat politisi terpilih yang ingkar janji,&rdquo; kata Baja Panggabean, penggiat Atap Alis.


...Bagi pengamat seni rupa dari ISI Yogyakarta, Suwarno Wisetrotomo, poster-poster produksi Taring Padi dan Atap Alis telah mengembalikan fungsi seni sebagai media pencerahan bagi masyarakat.   Karya-karya itu membuktikan, seniman bisa ambil bagian dalam proses pendidikan politik dengan memberikan kesaksian, imbauan, penerangan, dan pandangan kritis tentang pemilu. ]]></content:encoded></item><item><title>Menghidupkan Ancol</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2009-04-20T15:07:55+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/menghidupkan_ancol.html#unique-entry-id-75</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/menghidupkan_ancol.html#unique-entry-id-75</guid><content:encoded><![CDATA[Selain dihadiri beberapa pejabat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, pimpinan PT Pembangunan Jaya Ancol, serta pengurus Pasar Seni Ancol, tampak juga sejumlah seniman, kolektor, pengelola galeri, dan masyarakat pemerhati seni rupa.


...Direktur PT Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya Sumadi mengungkapkan, sesuai program Ancol Creative City, kawasan itu dikembangkan sebagai panggung bagi komunitas kreatif, termasuk kalangan seni rupa.


...Sebagai bandingan, mungkin kita bisa menyebut 798 Art District di Ta Sen Tse, Beijing, yang dinilai turut mendongkrak pasar seni rupa China beberapa tahun belakangan. 

...&rdquo;Kita mungkin saja membangun Ancol jadi semacam art district jika semua kalangan, seperti seniman, pengusaha, galeri, dan pemerintah berkomitmen memajukan seni rupa di Indonesia,&rdquo; kata Teguh Ostenrik, pelukis dan pematung, yang hadir di Ancol malam itu.
]]></content:encoded></item><item><title>Dimensi Mekanis Sebuah Resleting</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2009-03-08T17:33:31+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/dimensi_mekanis_sebuah_resleting.html#unique-entry-id-74</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/dimensi_mekanis_sebuah_resleting.html#unique-entry-id-74</guid><content:encoded><![CDATA[Berkat kerja sama S-14 dengan Magister FSRD ITB dan galeri Soemardja, Mella Jaarsma &rdquo;berbuka&rdquo; pengalaman proses kekaryaannya dalam bentuk workshop dan kuliah umum pada tanggal 4-5 Februari 2009. 

...Maka, pengalaman membuka dan menutup retsleting merupakan perilaku yang dipinjam Mella untuk mengantarkan para pengunjung pada batas-batas kesangsian dan keyakinan, sekaligus mempertanyakan makna ataupun nilai di sekitar tubuh dan atribut-atributnya.


...Cara kerja dan pendekatan berkarya merupakan hal yang menarik untuk ditelusuri dalam karya-karya seni rupa kontemporer yang acapkali berada di luar konvensi dan tata cara ungkap yang konvensional. 

...Meminjam kerja dan fungsi mekanis sebuah retsleting yang dapat membuka dan menutup secara temporer, mungkinkah praktik dan perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia menjadi &rdquo;ruang yang terbuka dan memiliki kritik yang hidup&rdquo;?
]]></content:encoded></item><item><title>Art Fair 2009 Still Seeing a Rosy Picture</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2009-02-23T17:52:36+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/art_fair_2009_still_seeing_a_rosy_picture.html#unique-entry-id-73</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/art_fair_2009_still_seeing_a_rosy_picture.html#unique-entry-id-73</guid><content:encoded><![CDATA[I know people who love art as a hobby and an investment and they will go for it even at times when a lot of people say it's a bad time to buy."


Besides, she says, like the flipside of a coin, even in a crisis there are people who still can take advantage of the soaring US dollar rate.


...For now, in one gallery nearly 100 percent of the art works are sold, at other gallery only 1 percent and another its 50 percent," said Christiana who owns CG Artspace which is located at Plaza Indonesia.


...They may not be art collectors, but if they have money and go mall ratting one afternoon, then look around the gallery, they may decide to take one or two paintings as a future investment. ]]></content:encoded></item><item><title>Mengenali Buah dari Pohonnya</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2009-03-04T16:31:54+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/mengenali_buah_dari_pohonnya.html#unique-entry-id-72</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/mengenali_buah_dari_pohonnya.html#unique-entry-id-72</guid><content:encoded><![CDATA[Dilihat dari sudut pandang sistem, kedudukan, nilai dan harga suatu karya dalam pasar seni rupa akan bergantung pada variabel (tak terbatas) hasil kesepakatan (yang berubah-ubah) dari berbagai elemen utamanya, yakni otoritas dalam art world, seperti museum, galeri, akademi, media massa seni, seniman top, art dealer, balai lelang, kolektor, kritikus, peneliti, sejarawan seni, dan para kurator. 

...Jika pada sistem mekanis proses konsumsi seni cenderung berlangsung secara anonim sebagaimana benda-benda industri atau produk massal lainnya, maka pada sistem organis proses tersebut akan bermuara pada personalisasi komoditas karena di situ terdapat tuntutan untuk menyusun berbagai referensi yang relevan dengan konteks perkembangan seni itu sendiri secara khusus maupun yang berkaitan dengan interes sosial-ekonomi secara luas, termasuk kode-kode dan kaidah pertukaran entitas simbolik menuju modal kapital dalam proses reifikasi (pembentukan harga) yang ditentukan oleh berbagai acuan nilai (estetik) yang tak selalu kongruen dengan nilai intrinsiknya.


...Mekanis dalam arti bahwa proses pertukaran dan konsumsi karya cenderung berlangsung secara anonim (seperti produk industri) dan terbuka dalam arti di medan itu tak terdapat konstanta-konstanta nyata dan hubungan invarian dari berbagai acuan yang membentuk konstanta-konstanta tersebut dengan cara yang tidak dapat ditentukan secara pasti. 

...Tentu, institusi itu bukan badan tunggal dan baku, tetapi sejenis jaringan (kolaborasi berbagai lembaga seni-budaya) yang bergerak dalam spektrum yang luas sehingga dengan sekali &rdquo;klik&rdquo; siapa pun bisa mendapatkan berbagai informasi akurat yang dapat dipakai untuk membaca peta seni rupa kita maupun untuk menyusun referensi otoritatif guna mematangkan konstanta-konstanta atau ukuran umum yang menentukan nilai karya.
]]></content:encoded></item><item><title>Memori yang Samar-samar</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2009-03-04T16:29:44+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/memori_yang_samar_samar.html#unique-entry-id-71</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/memori_yang_samar_samar.html#unique-entry-id-71</guid><content:encoded><![CDATA[Semua lukisan, cetakan digital, atau cetakan di atas stainless steel itu menyajikan gambar wajah-wajah seseorang&mdash;katakanlah someone, bukan somebody. 

...&rdquo;Lukisan Pauh (sapaan akrab Erik Pauhrizi) menghasilkan kesan seperti sekuen wajah dengan tampilan misterius dan tidak nyata, atau bisa disebut sebagai phantasmagoria,&rdquo; kata Asmudjo.


...Warna berat dan kontras itu segera menarik kita sejenak dari kenyataan sehari-hari yang merayakan warna-warni yang enteng, seperti yang kita jumpai di kota-kota besar. 

...Seperti diungkap filsuf Perancis, Jean Paul Sartre, jika seseorang tidak ada di hadapan kita, kita bakal kesulitan membayangkan atau menggambarkan secara rinci bagaimana bentuk hidung, pipi, mata, atau telinga orang yang dikenal itu dengan jelas. ]]></content:encoded></item><item><title>Love: Pameran Tunggal Made Wianta</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Event</category><dc:date>2009-03-04T15:45:55+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/love_pameran_tunggal_made_wianta.html#unique-entry-id-70</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/love_pameran_tunggal_made_wianta.html#unique-entry-id-70</guid><content:encoded><![CDATA[Bagi seorang yang kerap disebut sebagai kritikus seni rupa&mdash;sebagaimana julukan yang dengan pongah saya sandang ini&mdash;pikiran yang seketika mengemuka, sekaligus merupakan simpulan penilaian atas karya baru yang kali pertama disaksikan itu, yakni perihal idiom &lsquo;kuku-kuku nan kotor&rsquo;, tentulah ini sebuah tantangan tersendiri, sebuah paradoks yang minta diusut lebih jauh lagi. 

...Di satu pihak, yang mengemuka ialah suatu wujud kreasi nan ter-eksteriorisasi, dan seakan meluap secara spontan, terutama tercermin dalam karya visual sketsa dan belakangan seri kaligrafinya, di mana garis grafis atau sapuan warna yang memenuhi ruang seolah-olah menyiratkan suatu pencarian makna figuratif. 

...Pelajaran yang dipetik oleh Wianta dari Jung ialah bahwa ia sebagai perupa hendaknya kuasa &lsquo;melampaui&rsquo; wujud-wujud naratif permukaan guna menggali dan mengekspresikan, lapis demi lapis, arketip-arketip formal yang melatarbelakangi tampilnya aneka wujud rupa tersebut; mulai dari arketip khas kultural Bali hingga ke arketip umum dari manusia, sebelum akhirnya mencapai&mdash;sebagaimana yang diharapkan&mdash;ke arketip esensi dirinya yang paling mempribadi. 

...Disimak dari sudut perspektif yang berbeda, upaya Wianta ini merupakan suatu fenomena modern, menandakan adanya peralihan dari situasi di mana sang seniman berperan selaku &lsquo;penyambung lidah&rsquo; lingkungan masyarakat tradisinya ke tataran pencapaian tertentu di mana ia menjadi sosok kreator yang lebih bebas namun juga lebih individual serta terasing, dan tentu saja kian &lsquo;tersisih&rsquo; dari komunitas sosialnya&mdash;lepas bebas dalam kemerdekaan kreasinya sekaligus terbuang dari &lsquo;Firdaus&rsquo; warisan kulturnya. ]]></content:encoded></item><item><title>The Jakarta Biennale XIII: A Visionary Breakthrough</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2009-02-14T15:43:11+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/the_jakarta_biennale-xiii_a_visionary_breakthrough.html#unique-entry-id-69</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/the_jakarta_biennale-xiii_a_visionary_breakthrough.html#unique-entry-id-69</guid><content:encoded><![CDATA[Ramlee, whose writings are now forbidden in Malaysia because of some frank depictions of social and sexual mores of the local community at the time, Ming Wong re-enacts precisely such depictions, in Malay, a language that he has not mastered. 

...Utterly telling is an installation of tiny white toy soldiers, titled A Day in the Life of the Other, by Lyra Garcellano, which is set beside Cul de Sac, another work by the same artist that features dozens of digital prints of sorrowful or weeping women. 

...The somber installation of five single-channel video installations including a table with dozens of photographs of dolls, titled The Meeting, by the Singapore-born Donna Ong in the lower level of Grand Indonesia&rsquo;s shopping mall creates the feel of an eerie, dark room of anxiety, but in fact refers to a doll project meant as an act of friendship between Japan and the United States in the 20th century.


...27, 2009 | The National Gallery Jakarta and Grand Indonesia Shopping Mall, East Side | Further information: The Jakarta Biennale at The Jakarta Art Council Tel. +62 21 319 37639, 3162780, 39899634, or Iwan +62 8159213952 Email: jakarta.biennale.09@dkj.or.id or visit www.jakartabiennale09.com
]]></content:encoded></item><item><title>Billboard Art Adds Reflection to the City&#x27;s Celestial Clutter</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2009-02-09T15:39:45+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/billboard_art_adds_reflection_to_the_citys_celestial_clutter.html#unique-entry-id-68</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/billboard_art_adds_reflection_to_the_citys_celestial_clutter.html#unique-entry-id-68</guid><content:encoded><![CDATA[Taking advantage of a rare opportunity, artists are transforming Jakarta billboards from their traditional function as commercial advertisements to art that provokes viewers to think twice about their surroundings.


Instead of being bombarded by messages pushing them to spend money, people passing the now-historic first modern mall in Indonesia -Sarinah Department Store on Jl. 

...The billboard art is part of the ongoing art festival ARENA: Jakarta Biennale 2009, Billboard project curator Irwan Ahmett said the idea was to bring art to public spaces.


...His billboard, also in front of the Pondok Indah Mosque, informs people of an 80 percent discount at the opening of a fake fashion house dubbed Fakery London.
]]></content:encoded></item><item><title>Spirit Kekinian</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2009-02-09T15:34:13+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/spirit_kekinian.html#unique-entry-id-67</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/spirit_kekinian.html#unique-entry-id-67</guid><content:encoded><![CDATA[Merujuk pengantar pameran Jakarta Biennale (JB) 2006 dan pengantar katalog JB 2009 (tulisan Direktur Eksekutif JB M Firman Ichsan), biennale pertama kali diselenggarakan tahun 1974. 

...Pada tahun 2006 digelar Jakarta Biennale XII di lima tempat terpisah: Taman Ismail Marzuki, Galeri Nasional, Museum Seni Rupa dan Keramik, Galeri Lontar, dan Galeri Cemara 6. 

...Terpilihlah proposal Agung Hujatnikajennong sebagai kurator utama untuk &rdquo;Zona Cair&rdquo; yang menggelar pameran berskala internasional di Galeri Nasional dan Grand Indonesia Shopping Town. 

...Di tengah kejenuhan pada dominasi lukisan yang mengacu pasar, biennale ini menampilkan karya-karya yang kita cari: baru, muda, bersemangat perubahan, dan berorientasi internasional,&rdquo; kata Rizki A Zaelani, pengamat seni rupa dari ITB Bandung. (iam)
]]></content:encoded></item><item><title>The Voice of Artists is Vox Dei</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2009-02-09T15:30:44+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/the_voice_of_artists.html#unique-entry-id-66</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/the_voice_of_artists.html#unique-entry-id-66</guid><content:encoded><![CDATA[In general, there is an air of festivity, a scent of hope for a better tomorrow, but it remains a mystery whether the people think it's merely entertaining to watch the raucous race, or if it's a serious advertisement to convince them to vote. 

...Hosted by Bentara Budaya Jakarta, nine top-notch artists showcase their works at an exhibition titled "Vox Populi", borrowing from the old proverb Vox populi, vox dei (the voice of the people *is* the voice of God). 

...Interesting works are shown by the artists participating in the exhibition because they introduce a way of seeing mushrooming new parties and how the candidates sell themselves to win people's vote. 

...So while many political parties and their (demanding) candidates have largely failed to deliver on their main duty of educating the public, the artists, through such an exhibition, can contribute to enlightening the public, making fun the bitter reality that the public must face. ]]></content:encoded></item><item><title>Restu Toying with Bubble Wrap</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2009-02-09T15:28:56+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/restu_toying_with_bubble_wrap.html#unique-entry-id-65</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/restu_toying_with_bubble_wrap.html#unique-entry-id-65</guid><content:encoded><![CDATA[Inspired by Indonesian artist Eko Nugroho and Yogyakarta-based Hendra "Hehe" Harsono, Restu's art has been described as comic surrealism, with dreamlike figures conveying a complex of meanings. ...  Her works show the influence of Eko Nugroho's work particularly in the way his creations burst with colorful patterns and pairs of eyes that seem to stare out from unexpected places. 

...Everything has become closer because of the Internet and television, I can see what people are doing in Japan, I can see what people are making in Russia." 

...She says even though Jakarta can claim to have many art galleries, they are mostly filled with works by Yogyakarta artists. ]]></content:encoded></item><item><title>&#x27;Jaipong&#x27; Dance Becomes Latest Victim of Pornography Law</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Cultural Politics</category><dc:date>2009-02-08T15:34:51+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/jaipong_dance_becomes_latest_victim_of_pornography_law.html#unique-entry-id-64</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/jaipong_dance_becomes_latest_victim_of_pornography_law.html#unique-entry-id-64</guid><content:encoded><![CDATA[The controversial pornography law has been blasted for targeting cultural heritage, after West Java Governor Ahmad Heryawan used it as a legal basis to forbid Jaipong dancers from wearing "sexy" costumes and executing "provocative" dance moves.


The West Java administration's ban has prompted severe criticism from artists and legislators who blast it as a move to curb the traditional arts and culture of local people.


Bandung-born singer and dancer Dewi Gita said she did not see the need for the administration to delve into the matter when there were so many other problems affecting the province, including floods, poverty and expensive education.


...Dewi, who traveled the world performing Jaipong in the 1990s, said that in the pre-reform era, she could travel abroad five times a year to perform, and always won huge praise from overseas audiences. ]]></content:encoded></item><item><title>Koper Tua Sendirian di Taman</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2009-01-18T12:32:04+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/koper_tua_sendirian_di_taman.html#unique-entry-id-63</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/koper_tua_sendirian_di_taman.html#unique-entry-id-63</guid><content:encoded><![CDATA[Ada 11 pematung lain dari Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta yang turut serta: AB Soetikno, Abdi Setiawan, Ade Arti, Amalia Radjab, Anusapati, Awan Simatupang, Budi Santoso, Innes Indreswari, Taufan AP, Titarubi, dan Yani MS. 

...Ada patung rumah kayu karya Anusapati; perempuan duduk di taman bersama anjing (Budi Santoso); patung perempuan membaca di jendela (Budi Santoso); atau perempuan melayang di bawah gerbang (Amalia Radjab). 

...Pelukis Ugo Untoro, misalnya, pernah habis-habisan mengeksplorasi biografi visual kuda dengan pendekatan cair&mdash;termasuk meminjam bentuk seni patung&mdash;dalam pameran The Poem of Blood tahun 2007.

...Karya-karyanya mudah menggugah persepsi orang, seperti bola dunia besar dari kaca, rumah kayu berbentuk keong yang melingkar-lingkar, atau sumur yang digali di lantai dasar galeri.
]]></content:encoded></item><item><title>Yang &#x22;Mbentoyong&#x22; yang Keren&#x2c; &#x22;Euy&#x22;...</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2009-01-18T12:30:09+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/yang%20_mbentoyong_yang_keren_euy.html#unique-entry-id-62</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/yang%20_mbentoyong_yang_keren_euy.html#unique-entry-id-62</guid><content:encoded><![CDATA[Karena ia tinggal di Jogja&ndash;tidak mungkin mahasiswa ISI Yogyakarta menetap di Bandung dan atau kota besar Jakarta, namun bisa setiap hari masuk kuliah, kecuali ia mampu menyewa pesawat terbang atau helikopter setiap harinya&mdash;maka sosiologi, geografi, demografi, adat budaya, dan apa pun tentang Yogyakarta pasti memberi pengaruh terhadap sikap hidup dan berkeseniannya. 

...Jujur, harus diakui situasi dan kecenderungan mbentoyong, yang diterjemahkan secara berlebihan sebagai terbungkuk- bungkuk memanggul beban estetik tertentu, adalah produk khas Jogja atau premis kedua di tulisan ini. 

...Lebih parah lagi semua hal itu dilakukan oleh pemuda agraris yang silau dengan gemerlap kota dan kepincut untuk memikat dan atau menjadi bagian yang sesungguhnya artifisial belaka. 

...Sebaliknya, Samuel Indratma yang pemuda asli Gombong kemudian kuliah tanpa pernah lulus di Jogja membuat mural (aktivitas seni yang sama sekali tidak agraris, justru sangat urban) di tembok-tembok kota. ]]></content:encoded></item><item><title>Yang Keren dan Terkendali</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2009-01-13T10:16:20+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/yang_keren_dan_terkendali.html#unique-entry-id-61</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/yang_keren_dan_terkendali.html#unique-entry-id-61</guid><content:encoded><![CDATA[Siapa pun yang rajin nonton pameran seni rupa kontemporer tak akan heran ketika melihat karya seni yang terbuat dari benda sehari-hari seperti kursi, batu bata, lampu kelap-kelip plus efek ini itu, foto-foto, tulisan dan gambar oret-oretan di dinding, barang-barang bekas (asli dan tiruan), atau tayangan video yang berisi potongan-potongan adegan yang diulang-ulang dan sejenisnya.

...Di kampus ITB para kurator dan dosen muda ini membawa suasana gaul ke ruang kelas, asyik berbaur dengan para mahasiswi yang mirip cover girl seperti Syagini Ratnawulan (yang juga sangat akrab dengan pemikiran mutakhir model filsafat posmo dan buku-buku seni terpenting). 

...Kita menyaksikan Faisal Habibie dan Syagini yang enjoy mendistorsi bentuk, evidensi, dan fungsi kursi, Yusuf Ismail dengan video &rdquo;Ketik REG Spasi&rdquo;&mdash;bagi siapa saja yang pengin jadi seniman kaya&mdash;sebagai sarkasme terhadap maraknya jasa paranormal atau konsultasi ini itu lewat SMS di televisi (dengan model kurator Rifky Effendi sebagai si paranormal). 

...Tapi yang lebih menarik adalah ketika melihat bagaimana para seniman muda Bandung itu berusaha melakukan &rdquo;kontrol&rdquo; terhadap kerumitan batas-batas representasi dari realitas yang campur aduk, terpecah-pecah, dan menyebar seperti fragmen-fragmen yang saling bertentangan dan kadang saling berkelindan menuju penyesuaian dan keseimbangan tertentu tapi pada saat lain menggumpal tak tertembus. ]]></content:encoded></item><item><title>Aminuddin TH Siregar: (Bandung) Art now -- or Never</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2009-01-12T10:53:33+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/aminuddin_th_siregar_bandung_art_now_or_never.html#unique-entry-id-60</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/aminuddin_th_siregar_bandung_art_now_or_never.html#unique-entry-id-60</guid><content:encoded><![CDATA["The impact has happened although my campus hasn't felt it; but I have heard cases where students have given up their studies because their work has given them a windfall," Aminuddin, better known as Ucok, said.

...For his program, Ucok invites gallery owners to his class to share their "world" with the students, so that they might gain a sense of the art market and how it works.

...Sporting the style of a rocker with a rugged T-shirt and jeans -- he used to sing Rolling Stones songs in a campus band -- Ucok is in Jakarta for an exhibition, Bandung Art Now, for which he is the curator. 

...After the meeting with Deddy, Ucok said he was challenged and decided to hold an exhibition called "New Painting", aimed at "mapping fine art in Bandung and the emerging young artists in town." ]]></content:encoded></item><item><title>Mengingatkan Gagasan Driyarkara Lewat Kanvas</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2009-01-07T15:17:35+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/mengingatkan_gagasan_driyarkara_lewat_kanvas.html#unique-entry-id-58</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/mengingatkan_gagasan_driyarkara_lewat_kanvas.html#unique-entry-id-58</guid><content:encoded><![CDATA[Padahal, Driyarkara &ndash; meninggal 11 Februari 1967 dan dimakankan di Girisonta, Ungaran, Jawa Tengah - yang menyandang sejumlah atribut seperti seorang pastor, perintis filsafat di Indonesia dan bahkan pernah menduduki jabatan politik sebagai anggota MPRS, dikenal sangat brilian dalam gagasan-gagasannya di bidang kemanusiaan, pendidikan dan kebangsaan.


...Tak tanggung-tanggung pula, dalam pameran yang bertajuk &rdquo;Membaca Kembali Driyarkara: Kemanusiaan, Pendidikan, Kebangsaan&rdquo;, ada 45 perupa yang dilibatkan dan menggelar ratusan karya yang dipajang di Lantai 3-4 Gedung Administrasi dan lingkungan sekitar (halaman, tempat parkir, dan toilet) Kampus USD, hingga 17 Januari 2009.


...Dengan demikian, menurut Romo Banar, membaca kembali Driyarkara bisa dilihat sebagai sebuah upaya untuk melihat ke dalam diri sendiri, ke dalam gagasan-gagasan yang dimiliki oleh bangsa ini secara kritis, dan menempatkannya dalam segala perubahan kekinian.


...Pekik di sini mencoba mengingatkan pula pendapat Driyarkara yang mengatakan masih banyak orang Indonesia yang kurang memperlihatkan rasa tanggung jawab, irasional, mementingkan diri sendiri tanpa menyadari bahaya atau kerugian yang diakibatkan bagi orang lain.
]]></content:encoded></item><item><title>Merupakan Driyarkarya</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2009-01-05T10:22:48+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/merupakan_driyarkara.html#unique-entry-id-57</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/merupakan_driyarkara.html#unique-entry-id-57</guid><content:encoded><![CDATA[Baiklah kita kenang ia dalam kata-kata semenjana ini: Ia yang berkalang tanah dalam usia menjelang 54 tahun pada 11 Februari 1967&mdash;dan kini terbaring di permakaman Girisonta, Ungaran, Jawa Tengah&mdash;adalah sosok manusia yang sederhana, ramah, dan suka humor, sekalipun ia menyandang sejumlah gelar terhormat di bidang agama (Romo Jesuit), pendidikan (Rektor IKIP Sanata Dharma, guru besar luar biasa di Universitas Indonesia dan Hasanuddin), budaya (perintis filsafat di Indonesia), dan politik (anggota MPRS dan DPA).

...Risalah-risalah tersebut bersama sejumlah tulisan lain Driyarkara yang pernah dimuat di sejumlah media cetak dikumpulkan dan disunting kembali oleh A Sudiarja, G Budi Subanar, St Sunardi, dan T Sarkim&mdash;dan diterbitkan atas kerja sama PT Gramedia Pustaka Utama, PT Kompas Media Nusantara, Penerbit- Percetakan Kanisius, dan Ordo Sarikat Jesus Provinsi Indonesia, menjadi sebuah buku setebal lii + 1.501 halaman berjudul Karya Lengkap Driyarkara: Esai-esai Filsafat Pemikir yang Terlibat Penuh dalam Perjuangan Bangsanya (2006).

Buku seharga Rp 250.000 itu seharusnya menjadi rujukan utama bagi 45 perupa yang terlibat dalam pameran seni rupa bertajuk &rdquo;Membaca Kembali Driyarkara: Kemanusiaan, Pendidikan, Kebangsaan&rdquo; yang diselenggarakan Universitas Sanata Dharma (USD), Yogyakarta, dan Indonesia Contemporary Art Network, di Lantai 3-4 Gedung Administrasi dan lingkungan sekitar (halaman, tempat parkir, dan toilet) Kampus USD, 17 Desember 2008-17 Januari 2009.

...Pada hemat saya, sekalipun harus berjalan memutar dengan menghela kasus-kasus kemanusiaan kiwari sebagai kiasannya, itulah contoh karya&mdash;seperti halnya lukisan cat minyak Hari Budiono &rdquo;Trilogi Pensil Merah Hitam: Guru Miskin Kita Prihatin, Guru Kaya Kita Bertanya&rdquo; (95 x 135 cm, 3 panel, 2008) dan lukisan pensil Bambang Heras &rdquo;Mencari Ki Hajar Dewantara&rdquo; (2008)&mdash;yang lucu, cerdas, dan mengena, dalam pameran ini&mdash;yang rasanya tak akan kalah sedap sekiranya digelar pula di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.]]></content:encoded></item><item><title>Driyarkara dalam Sebuah Karya</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2008-12-20T10:17:31+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/driyarkara_dalam_sebuah_karya.html#unique-entry-id-56</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/driyarkara_dalam_sebuah_karya.html#unique-entry-id-56</guid><content:encoded><![CDATA[Trilogi Pensil Hitam adalah salah satu karya yang dipamerkan di kampus Universitas Sanata Dharma, Mrican, Jogja yang mengangkat tema Gelar Perupa Pendidik, Membaca Kembali Driyarkara: Kemanusiaan, Pendidikan, Kebangsaan.

...Budi Subanar, Ketua Panitia mengatakan, pameran ini ingin mengajak para perupa Indonesia khususnya Jogja secara khusus untuk membaca kembali secara kritis dan mengeksplorasi secara visual gagasan-gagasan Driyarkara dalam bidang kemanusiaan. 

...&ldquo;Kami percaya melalui acara semacam ini dunia pendidikan dan seni rupa akan lebih berkembang dalam menemukan cara penelaahan kritis terhadap karya seni, baik dalam proses penciptaan, bentuk maupun gagasan yang ada di baliknya,&rdquo; ungkap pria yang akrab disapa Romo Banar itu.

...&ldquo;Pengunjung sebenarnya punya interpretasi sendiri terhadap karya si perupa tapi untuk membantu memudahkannya, dalam karya dipasang konsep yang ingin digali perupa sehingga perupa bisa mempertanggungjawabkan secara eksplisit gagasan hatinya, namun ini hanya sebagai alternatif agar konsep Driyarkara tetap terbaca,&rdquo; imbuhnya.]]></content:encoded></item><item><title>Seniman Juga Perlu Kenal Filsuf</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2008-12-23T10:14:28+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/seniman_juga_perlu_kenal_filsuf.html#unique-entry-id-55</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/seniman_juga_perlu_kenal_filsuf.html#unique-entry-id-55</guid><content:encoded><![CDATA[&ldquo;Cara seperti ini sangat baik untuk memvisualisasikan ide, karena selama ini kita terjebak dalam verbalisme yang hanya menyampaikan gagasan melalui kata,&rdquo; ujarnya.


Sementara itu, kurator seni dan pengajar pada Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Mike Susanto mengatakan beberapa karya belum mengungkapkan secara jelas gagasan Driyarkara. 

...Sementara, Direktur Indonesia Contemporary Art Network (ICAN), Antariksa, yang menjadi moderator diskusi itu menjelaskan, belum terungkapnya pemikiran Driyarkara dan adanya sejumlah karya yang seolah tidak nyambung dengan pikiran Driyarkara karena terbatasnya waktu persiapan pameran.   Selain itu, sosok dan ide Driyarkara yang mungkin masih asing di kalangan seniman memberikan jarak antara karya seni dalam pameran itu dan pemikiran Driyarkara.
]]></content:encoded></item><item><title>Wacana Bangkrut&#x2c; Kurator Gendut</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2009-01-03T11:28:55+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/wacana_bangkrut_kurator_gendut.html#unique-entry-id-54</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/wacana_bangkrut_kurator_gendut.html#unique-entry-id-54</guid><content:encoded><![CDATA[Pameran bertajuk "Highlight" ini adalah pameran yang mencoba merangkum "keberhasilan" Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta sebagai lembaga pendidikan seni tertua di Indonesia dalam melahirkan seniman dan kritikus seni. 

...Selain miskin gagasan baru, 2008 juga ditandai dengan munculnya gaya melukis yang menjadi arus besar, yakni gaya juxtapoz dan new painting Eropa. 

...Hanya beberapa pameran penting non art fair di luar negeri yang diikuti seniman Indonesia dengan sponsor lembaga terpandang di Eropa dan Asia. 

...Minimnya proyek internasional bergengsi yang mengangkat isu penting dalam acara seni rupa di dunia menandakan juga di level internasional pun art fair-lah yang mendominasi. ]]></content:encoded></item><item><title>Apa yang Dihasilkan Pasar?</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2008-12-29T20:11:56+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/apa_yang_dihasilkan_pasar.html#unique-entry-id-53</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/apa_yang_dihasilkan_pasar.html#unique-entry-id-53</guid><content:encoded><![CDATA[Jika dulu ke mana-mana jalan kaki atau naik angkutan, sekarang mereka bermobil mewah, rumah bagus-bagus,&rdquo; kata Heri Pemad, penggiat pameran seni rupa di Yogyakarta, mengomentari perubahan kehidupan pelukis saat booming.

...&rdquo;Semua orang di dunia seni rupa kecebur dan basah dalam gelimang pasar,&rdquo; ujar Aminuddin TH Siregar, pengamat seni rupa dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

...Dengan semangat macam itu, pasar tak sempat dimanfaatkan untuk mengonsolidasikan semua stakeholder seni rupa demi membangun infrastruktur bersama yang lebih langgeng, seperti museum, galeri nasional, atau lembaga pendidikan seni. 

...Jika di musik ada istilah easy listening dan di sastra ada easy reading, di seni rupa tumbuh gejala easy looking: Karya yang menonjolkan pesona visual yang enak dipandang mata, tetapi tak punya kedalaman. ]]></content:encoded></item><item><title>Art and the Artless in 2008</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2008-12-23T13:11:51+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/art_and_the_artless_in_2008.html#unique-entry-id-52</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/art_and_the_artless_in_2008.html#unique-entry-id-52</guid><content:encoded><![CDATA[The panel of judges, led by Enin, spotted what they called "pervasive epigonism" in the local art scene, saying that novelty was a rarity, especially in paintings -- only one painting was among the finalists, even though the entries were predominantly on canvas.

...More than 300 of the best Indonesian artworks from the past 30 years -- paintings, sculptures, installations, photography and video arts -- were on display, but it was useless to expect "Manifesto" to give a clear picture of what Indonesian art is, or is like.

"The idea of seni (art) and seni rupa (fine art) in Indonesian art remains in the unconscious so it is hard to define, talk about or discuss," art critic Bambang Bujono said in an essay, underlining the prevailing confusion in determining whether Indonesian fine arts could be discussed according to Western categories.

Yusuf said that in the second half of the year the fine art communities had begun to feel the pinch of the global economic downturn with galleries canceling planned exhibitions and several artists failing to sell their artworks at the desired prices.]]></content:encoded></item><item><title>Dari Ruang Pamer hingga Tempat Diskusi Para Seniman</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2008-12-21T00:30:38+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/dari_ruang_pamer_hingga_tempat_diskusi_para_seniman.html#unique-entry-id-51</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/dari_ruang_pamer_hingga_tempat_diskusi_para_seniman.html#unique-entry-id-51</guid><content:encoded><![CDATA[Tujuan utama keberadaan galeri dan juga rumah seni adalah menjadi ruang presentasi dan apresiasi seni bagi seorang perupa yang memamerkan karyanya kepada masyarakat. 

...Selain menyediakan ruang pamer untuk seniman, Tubagus Svarajati mendirikan Rumah Seni Yaitu juga untuk tempat diskusi para seniman muda. 

..."Rumah Seni Yaitu tidak sekadar memamerkan karya seni, tetapi tempat ini juga harus menjadi tempat bagi para seniman untuk berproses," ujarnya.


...Menurut pemilik Kampung Seni Lerep, Handoko, pengelola galeri harus berani bermain di ranah "kering" untuk menampilkan karya para seniman yang belum terkenal, tetapi memiliki potensi. ]]></content:encoded></item><item><title>Membuka Galeri&#x2c; Bangkitkan Seni</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2008-12-21T00:27:24+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/membuka_galeri_bangkitkan_seni.html#unique-entry-id-50</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/membuka_galeri_bangkitkan_seni.html#unique-entry-id-50</guid><content:encoded><![CDATA[Saat ini, paling tidak ada lima galeri dan rumah seni di Semarang dan sekitarnya, yaitu Galeri Semarang (2001), Rumah Seni Yaitu (2005), Galeri Dahara (2005), Galeri Bu Atie (2007), dan Kampung Seni Lerep di Ungaran (2008). 

...Kehidupan seni rupa di Semarang mulai hidup ketika Chris Dharmawan mendirikan Galeri Semarang pada tahun 2001. 

...Menurut kurator seni rupa yang juga pengajar Institut Seni Indonesia Yogyakarta Kuss Indarto, bertumbuhnya galeri-galeri seni tersebut mulai menghidupkan geliat seni rupa di Semarang dan sekitarnya. 

...Selain tumbuhnya galeri seni, kata Kuss, tumbuhnya geliat seni di Semarang dan sekitarnya juga dipengaruhi adanya kolektor seni rupa yang banyak tinggal di Jawa Tengah. ]]></content:encoded></item><item><title>&#x27;Sagacity&#x27; Leads to Politics in Indonesian Art</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2008-12-20T12:59:56+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/sagacity_leads_to_politics_in_indonesian_art.html#unique-entry-id-49</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/sagacity_leads_to_politics_in_indonesian_art.html#unique-entry-id-49</guid><content:encoded><![CDATA[Defying the modern essentialist notions, artists were actively involved in the struggle for independence during the first decades of the 20th century, producing artwork that served as pamphlets calling for liberation, if not weapons to assault colonialism.

..."There has not yet been a significant change in artists' perception of art from the early 20th century until today," Jim said, arguing that the politically charged art pieces produced today were still voicing the same virtues as those Sudjojono expressed when politicians and artists were still on the same wagon.

He said the recent exhibition at Komunitas Salihara titled "Dari Penjara ke Pigura" (From Prison to Painting), for which 30 artists were asked to produce an artwork based on highly inspiring quotes by the country's heroes, proved that Indonesian artists were still inclined toward virtue, or driven by what Jim called "sagacity".

...He further explained that while the word "art" in English refers to "artistic objects", the Indonesian word "seni" was an abstraction of what he called "sense perception", which was formless and could only be seen when it was transformed into an "expression of art".]]></content:encoded></item><item><title>Pameran Tunggal Nindityo Adipurnomo: WWW dot JAVA</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Event</category><dc:date>2008-12-20T12:40:52+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/pameran_tunggal_nindityo_adipurnomo_www_dot_java.html#unique-entry-id-48</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/pameran_tunggal_nindityo_adipurnomo_www_dot_java.html#unique-entry-id-48</guid><content:encoded><![CDATA[Pameran Tunggal Nindityo Adipurnomo: WWW dot JAVA | 21 Desember 2008 - 14 Februari 2009 | Rumah Seni Yaitu

...Singkatnya, karya-karyanya adalah permainan&mdash;dan dengan demikian penundaan&mdash;terhadap kepastian berbagai makna yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari,&rdquo; ungkap Donny Danardono, pengajar di PMLP dan FH Unika Soegijapranata Semarang.

Dalam pameran tunggalnya&mdash;tajuk &ldquo;WWW dot JAVA&rdquo;&mdash;yang pertama di Semarang, Nindityo Adipurnomo (lahir di Semarang, 1961) akan menampilkan 3 (tiga) karya instalasi, 3 (tiga) object art, 3 (tiga) karya foto, dan 3 (tiga) lukisan. 

...Dalam masa pameran akan diadakan beberapa acara pendukung, seperti ceramah, diskusi, dan program edukasi publik yang melibatkan komunitas seni, kalangan pelajar-mahasiswa, dan masyarakat secara luas. ]]></content:encoded></item><item><title>Window Display: A Solo Exhibition of Wiyoga Muhardanto</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Event</category><dc:date>2008-12-18T09:28:44+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/window_display_a_solo_exhibition_of_wiyoga_muhardanto.html#unique-entry-id-47</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/window_display_a_solo_exhibition_of_wiyoga_muhardanto.html#unique-entry-id-47</guid><content:encoded><![CDATA[Window Display: A Solo Exhibition of Wiyoga Muhardanto | December 19, 2008 - January 19, 2009 | Curator: Agung Hujatnikajennong | Selasar Sunaryo Art Space


Inspired by display systems in shop windows and supermalls, the sculptural works of  Wiyoga Muhardanto (born in Jakarta in 1984),  comments on Indonesia&rsquo;s growing love affair with luxury, consumer goods and &lsquo;conspicuous consumption&rsquo;: A most-awaited solo debut by Indonesia's talented emerging artist.]]></content:encoded></item><item><title>Pameran Tunggal Aprilia Apsari: Rayuan Pulau Kelapa</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Event</category><dc:date>2008-12-12T09:06:34+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/pameran_tunggal_aprillia_apsari.html#unique-entry-id-46</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/pameran_tunggal_aprillia_apsari.html#unique-entry-id-46</guid><content:encoded><![CDATA[Ketika semua hal tidak lagi bisa menjadi baru, atau yang 'baru' kemudian menjadi 'basi', mungkin sekarang adalah saatnya, bahwa kata-kata seperti 'retro', 'vintage', atau 'jadul' menjadi suatu yang 'seksi'.   Apakah itu karena kebosanan kita akan segala hal yang kekinian, atau dipaksakan menjadi kini, sehingga akhirnya semua orang pun menjadi pemulung semua yang berbau masa lalu, yang selalu tinggal dalam memori, dan dengan waktu pada akhirnya menjadi berarti?


Aprilia Apsari, atau biasa dipanggil Sari, seniman muda lulusan Desain Grafis IKJ ini selain melukis dan menggambar serta aktif berpameran, juga dikenal sebagai vokalis White Shoes & The Couples Company mungkin tidak berniat berpretensi menjawab itu, karena ia pun pada akhirnya juga sering mempertanyakan mewabahnya ikon-ikon 'retro' dan 'vintage' sebagai kampanye tren atribut identitas baru.   Seperti layaknya seorang pemulung, ia hanya bermaksud mengumpulkan gagasan-gagasan dan citraan-citraan visual (dan juga suara) yang lekat dengan pembentukan dirinya sebagai seniman, baik Sari sebagai perupa mau pun musisi, yang kemudian ia olah lagi menjadi sesuatu yang tersendiri. ]]></content:encoded></item><item><title>Nafas: Screenings and Dialogues in Malaysia&#x2c; Indonesia&#x2c; Singapore</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Event</category><dc:date>2008-12-01T16:54:25+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/nafas_screenings_and_dialogues_in_malaysia_indonesia_singapore.html#unique-entry-id-45</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/nafas_screenings_and_dialogues_in_malaysia_indonesia_singapore.html#unique-entry-id-45</guid><content:encoded><![CDATA[Pat Binder and Gerhard Haupt, editors of Nafas and publishers of Universes in Universe - Worlds of Art, will present the Nafas Art Magazine, published by the German Institute for Foreign Cultural Relations (ifa), and the Nafas exhibition project of the ifa at the following places:


...One primary task of Nafas is to confront the widespread homogeneous view of countries and regions in which Muslims are a majority of the population with a wide variety of individual artistic positions, behind which extremely divergent personal, cultural, religious, social, and other contexts become visible. 

...They will introduce interesting developments in several countries and regions, for example: art and ecology initiatives in Morocco, the committed alternative art scene in Egypt, international exhibitions and workshops in the Middle East and in Central Asia, the gigantic cultural projects and museums planned in Dubai and Abu Dhabi.


Explaining some mechanisms of the international art system, specially Biennials, Haupt and Binder will refer to working strategies and effects of Universes in Universe since almost 12 years, and in particular of the Nafas Art Magazine since early 2003.
]]></content:encoded></item><item><title>New Tembi House Program Aims to Assist Young Artist</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2008-11-22T15:03:27+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/new_tembi_house_program_aims_to_assist_young_artist.html#unique-entry-id-44</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/new_tembi_house_program_aims_to_assist_young_artist.html#unique-entry-id-44</guid><content:encoded><![CDATA[In addition to all these activities, Tembi has begun a new project geared toward young, ambitious and creative artists under the age of 25 -- it's Artist in Residence program.

...The program aims to encourage young artists to follow their dreams and goals, and not become discouraged by comments made by curators, collectors or other people closely related to the art market and commercial art.

...Idris is currently studying at the Fine Arts University ISI, Yogyakarta, but now he has been working for three months at a small studio provided by Tembi and equipped with the necessary materials. 

...There is just one criterion the artist must fulfill, that is to produce enough pieces for two solo exhibitions -- one at Tembi Yogyakarta and one at Tembi Jakarta.]]></content:encoded></item><item><title>The Journey: Pameran Tunggal Karya Keramik Ahadiat Joedawinata</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Event</category><dc:date>2008-11-19T18:25:50+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/the_journey_pameran_tunggal_ahadiat_joedawinata.html#unique-entry-id-43</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/the_journey_pameran_tunggal_ahadiat_joedawinata.html#unique-entry-id-43</guid><content:encoded><![CDATA[Pameran ini merupakan pameran tunggal ketiga Ahadiat Joedawinata, perupa yang juga pengajar Ilmu Seni Rupa dan Desain, di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. ...  Dalam pameran ini dia menampilkan karya-karya dengan kecenderungan karya yang menggunakan tanah stoneware dengan sejumlah eksperimentasi glasir yang menghasilkan berbagai warna dan tekstur. 

...Intensi pemilihan kuratorial ini mendasarkan diri pada tiga hal: pertama, pada variasi ukuran, yaitu kita bisa melihat dimensi ukuran dari skala kecil hingga skala lanjut.   Kedua, pada variasi bentuk, yaitu dari bentuk wadah dengan kecenderungan-kecenderungan yang keluar dari pakem fungsional ke bentuk yang kian memadatkan substansi gagasan. ]]></content:encoded></item><item><title>100 x FRANCE: Fotografi Prancis Cikal Bakal Masa Kini</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Event</category><dc:date>2008-11-19T15:55:07+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/100xfrance_fotografi_prancis_cikal_bakal_masa_kini.html#unique-entry-id-42</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/100xfrance_fotografi_prancis_cikal_bakal_masa_kini.html#unique-entry-id-42</guid><content:encoded><![CDATA[Sejak diciptakan pada tahun 1980 oleh Rumah Fotografi Eropa, Bulan Fotografi telah memberikan kontribusi besar menjadikan Paris sebagai salah satu pusat fotografi terbesar. 

...Pada tahun 2004, untuk pertama kalinya Bulan Fotografi mengembangkan dimensi Eropa melalui Bulan Foto Eropa, sebuah acara yang lahir dari keinginan untuk menciptakan sebuah jaringan pertukaran Eropa dan kolaborasi yang inovatif bagi fotografi. ...  Konsep bulan fotografi juga diekspor ke dunia sejak beberapa tahun belakangan dan di Asia, Bangkok, Singapura&hellip; dan sekarang dalam bulan foto 2008 Yogyakarta mendapatkan kehormatan untuk memerkan pameran 100 x FRANCE yang pertama kali di Indonesia.


...Fotografer-fotografer yang tergabung dalam pameran 100 X France: Bernard Plossu, Frank Horvat, Nicephore Niepce, Agnes Varda, Bertrand Lavier, Meurisse, Gilles Caron, Denise Colomb, Auguste-Hippolyte Collard, Maurice Guibert, Achille Quinet, Comte Olympe Aguado De Las Marismas, Gustave Le Gray, Eugene Durieu, Etienne-Jules Marey, Comte Robert De Montesquiou-Fezensac, Alphonse-Justin Liebert, Felix-Jacques-Antoine Moulin, Charles Aubry, Paul Berthier, Edgar Degas, Andree Kertesz, Martine Franck, Raymond Depardon, Henri Cartier-Bresson, Albert Peignot, Janine Niepce, Rene Jacques, Adrien Tournachon & Felix Nadar, Louis Adolphe Humbert De Molard, Etienne Clementel, Louis Philippe - Duc D&rsquo;Orleans, Charles Negre, Constant Puyo, Henry Fr&egrave;res, Constantin Brancusi, Marcel Duchamp, Dora Maar, Claude Cahun, Eli Lotar, Lucien Lorelle, Raoul Ubac, Hippolyte Bayard, Felix Nadar, Pierre Louis Pierson, Theophile Feau, Pierre Bonnard, Bernard Faucon, Jacques-Henri Lartigue, Jean-Marc Bustamante, Neurdein Fr&egrave;res, Seeberger Fr&egrave;res, Eugene Cuvelier, Louis Camille D&rsquo;olivier, Louis-Auguste & Auguste-Rosalie Bisson, Louis Jean Delton, Louis-Adolphe-Eugene Disderi, Pierre-Ambroise Richebourg, Andre Garban, Etienne Neurdein & Louis Antonin Neurdein, Auguste-Hippolyte Collard, Eugene Atget, Charles Marville, Delmaet Et Durandelle, Adolphe Braun, Man Ray, Constant Famin, Maurice Tabard, Florence  Henri, Maurice Guibert, Jean-Loup Sieff, Georges Rousse, Patrick Tosani, Robert Doisneau, Valerie Belin, Valerie Jouve, Guillaume Duchenne De Boulogne, Leopold-Ernest Mayer & Pierre Louis Pierson, Philippe Regnier, Duc De Massa, Alexandre Ferrier, Adolphe Braun, Alphonse Bertillon, Rene Barthelemy, Frank Perrin, Brassa&iuml;, Sabine Weiss, Dr G. ]]></content:encoded></item><item><title>Pameran Fotografi: POTRET</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Event</category><dc:date>2008-11-16T17:23:57+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/pameran_fotografi_potret.html#unique-entry-id-41</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/pameran_fotografi_potret.html#unique-entry-id-41</guid><content:encoded><![CDATA[Padahal sekitar tahun 1980-an masyarakat masih kesulitan untuk dapat mengambil gambar foto yang baik (tidak kabur) dengan kamera  SLR yang masih manual dengan menggunakan film seluloit, apalagi 100 tahun yang lalu di masa kejayaan Kasihan Chepas  seorang fotografer kenamaan bangsa Indonesia yang mengawali dunia fotografi di tanah air.

...Bagaimana susahnya menghasilkan foto yang baik dan bermutu  di kala peralatan fotografi masih amat sederhana bahkan klisenya masih mengunakan kaca, tukang potret harus menguasai rumus obat-obatan untuk mencuci foto, dan lain sebagainya.   Pameran ini kami harapkan memberikan pengetahuan  bagaimana susahnya perjuangan para fotografer dalam  mengejar  cita-cita mereka, sebagai contoh bagaimana susahnya Kasihan Chepas memotret relief Karma Wibangga  yang tertutup di kaki Candi Borobudur.   Dia harus membongkar susunan batu yang menutupi kaki Candi Borobudur yang jumlahnya mencapai ribuan  dan membutuhkan waktu yang lama untuk bongkar pasang batu candi ini sehingga dia dapat mengabadikan  Karma Wibangga dalam potret.]]></content:encoded></item><item><title>Bali Tuntut Judicial Review UU Pornografi atau Otonomi Khusus</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Cultural Politics</category><dc:date>2008-11-15T18:16:53+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/bali_tuntut_judicial_review_uu_pornografi_atau_otonomi_khusus.html#unique-entry-id-40</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/bali_tuntut_judicial_review_uu_pornografi_atau_otonomi_khusus.html#unique-entry-id-40</guid><content:encoded><![CDATA[Tuntutan tersebut disampaikan pada aksi damai menolak UU Pornografi yang diikuti sekitar 1.000 masyarakat yang tergabung dalam Komponen Masyarakat Bali.   Massa berkeliling kota Denpasar dengan menyusuri ruas jalan di Denpasar seperti Jalan Kapten Japa, Jalan Cok Agung Tresan, Jalan Hayam Wuruk kemudian berakhir di depan Kantor Gubernur Bali, jalan Basuki Rahmat, Denpasar, Sabtu (15/11/2008).

Dalam aksinya, massa membentangkan spanduk dan poster yang menuntut dimenangkannya judicial review UU Pornografi, seperti 'Menangkan Judicial Review UU Pornografi! 

...http://www.detiknews.com/read/2008/11/15/180220/1037491/10/bali-tuntut-judicial-review-uu-pornografi-atau-otonomi-khusus]]></content:encoded></item><item><title>Putu Sutawijaya: Legacy of Sagacity</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Event</category><dc:date>2008-11-15T16:58:57+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/legacy_of_sagacity.html#unique-entry-id-39</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/legacy_of_sagacity.html#unique-entry-id-39</guid><content:encoded><![CDATA[Instalasi-instalasi terbarunya Menggapai (2008), Tau Diri (2008) dan, Tidak Mengenal Berhenti (2008) menampilkan tubuh-tubuh memanjat, melayang,  bergoyang dalam ruang menunjukkan gerak acak dinamis yang memperlihatkan tanda disorde. 

...Alam gaib dihuni pula oleh roh-roh jahat yang punya kekuatan merusak, yaitu roh-roh binatang dan roh-roh manusia yang ngabennya tidak sempurna. 

...Gerak tubuh pada karya-karya Putu&mdash;lukisan, patung dan instalsi&mdash; adalah gerak tubuh Tari Sanghyang  dimana penarinya berada dalam keadaan trance. ...  Tubuh ini terkesan tidak berdaya&mdash;seperti halnya manusia dalam kehidupan ketika menghadapi kekuatan-kekuatan dari alam gaib&mdash;namun Putu percaya, pada akhirnya tubuh-tubuh ini juga yang harus menampilkan tanda kekuatan mana yang menang.]]></content:encoded></item><item><title>MEMENTO: Privatization Room. A Solo Exhibition by Restu Ratnaningtyas</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Event</category><dc:date>2008-11-15T15:42:43+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/memento_privatization_room.html#unique-entry-id-38</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/memento_privatization_room.html#unique-entry-id-38</guid><content:encoded><![CDATA[Sejarah ini tersimpan yang terkadang tidak pernah dengan sadar keluar sebagai kode-kode yang mengarahkan sebuah peristiwa-peristiwa dan memori personal.


...Ruang-ruang ini meberikan kepercayaan diri dan memberi &ldquo;kuasa&rdquo; kepadanya untuk mengontrol peristiwa-peristiwa sosial di sekitarnya.


Dari pameran ini Restu mencoba membongkar kepingan-kepingan memorinya selama ini, yang pasti dilihat dengan perspektif saat ini.   Karena kehadiran benda-benda yang membentuk ruang yang saya sebutkan juga menghadirkan kode-kode visual kontemporer yang memang tidak bisa lepas dari dunia anak muda jaman sekarang.
]]></content:encoded></item><item><title>A Sculptor&#x27;s &#x27;Black Dreams&#x27; of an Anti-Porn Nation</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2008-11-15T14:22:17+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/a_sculptors_black_dreams_of_an_antiporn_nation.html#unique-entry-id-37</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/a_sculptors_black_dreams_of_an_antiporn_nation.html#unique-entry-id-37</guid><content:encoded><![CDATA[Through his artworks which are on display at Taman Ismail Marzuki arts center's Galeri Cipta II, from Nov. 12 to 20, sculptor Ibnu Nurwanto aims to break the politico-religious discourse on sexuality by disturbingly exposing a center of sexuality: the phallus.


...Born in Yogyakarta in 1957, the eccentric artist is one of only a handful of Indonesian artists who have the talent and willingness to labor with three dimensional artwork -- arguably the most difficult artform, combining resourceful artistic imagination and prodigious craftsmanship.


"He is still consistent with three-dimensional art, while many contemporary artists have been drawn to combining different media in their work," said art critic Sri Wahyu Wahono who has known Ibnu since they were students at Jakarta Art Institute (formerly LPKJ).


...He thus decided to title the exhibition "Black Dream", which may refer to different kinds of dreams; his own dreams as an artist, the dreams of the poor or the dreams of corrupt leaders who will do anything to materialize their worldly dreams.
]]></content:encoded></item><item><title>Indonesian Contemporary Art Still Unnoticed in Global Art Discourses</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2008-06-15T19:26:03+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/indonesian_contemporary_art_still_unnoticed_global_art_discourses.html#unique-entry-id-36</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/indonesian_contemporary_art_still_unnoticed_global_art_discourses.html#unique-entry-id-36</guid><content:encoded><![CDATA[When Friedhelm Huette, the global head of art at Deutsche Bank who manages hundreds of fine art events, came to Jakarta to open "Expose *1", an exhibition of Indonesian contemporary art held by the bank and Nadi Gallery at the Four Seasons Hotel recently, he was virtually speechless over the art works on display.

..."Among the questions asked to me during the symposium was: Why is the contemporary art of Indonesia, one of the biggest countries with the biggest numbers of citizens in Southeast Asia, not often present in significant international art forums relative to its Chinese, Indian or South Korean counterparts?"

...The condition is alarming, Enin argued, because the boom of Indonesian arts in the Asian market is happening without "critical reference", putting it in "a fragile position in the face of market speculation that might turn ridiculous".

...Huette said contemporary art was the art of today, thus it is a form of fine art that the Deutsche bank company should go for because it fits its philosophy: Innovative and going for new ideas.]]></content:encoded></item><item><title>Contemporary Art Events Get Asia buzzing</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2008-09-07T19:23:54+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/contemporary_art_events_get_asia_buzzing.html#unique-entry-id-35</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/contemporary_art_events_get_asia_buzzing.html#unique-entry-id-35</guid><content:encoded><![CDATA[This week, East Asian biennials, triennials and art fairs will see a stream of art lovers and observers visit Asia cities like Gwanju, Busan, Shanghai, Singapore, Taipei, Nanjing and Yokohama, making East Asia a major destination on the international art circuit.

...Themed "Annual Report: A Year in Exhibition", the biennial will have three inter-connected components: "On the Road", featuring recent exhibitions from 2007 to 2008; "Position Papers" dedicated to initiatives of five emerging curators; and "Insertions", featuring new works specifically commissioned for the biennial.

..."Expenditure" will comprise a contemporary art exhibition that will feature 103 works from 25 countries and will be held at the Busan Museum of Modern Art and the Busan Yachting Center.

...Featuring more than 50 artists and art collectives from more than 36 countries and regions, including Singapore, the exhibition will showcase an illustrious list of established and emerging artists from Asia, the Middle East, Europe and the Americas, whose works engender wonder about the world we live in.]]></content:encoded></item><item><title>Arafura Craft Exchange Remembrance of Things Past</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2008-09-15T19:16:37+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/arafura_craft_exchange_remembrance_things_past.html#unique-entry-id-34</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/arafura_craft_exchange_remembrance_things_past.html#unique-entry-id-34</guid><content:encoded><![CDATA[There is a long history of trade between the North -- the Top End of Australia's Northern Territory, as it is called -- and Indonesia. 

...Evidence of their presence remains today, in the banyan trees they planted which still stand on Darwin's streets and in Yolngu words (bapa and rupiah, for father and money just two examples) borrowed from Macassarese.

...Fast forward to 2005, and the advent of the Arafura Craft Exchange, a project initiated by The Museum and Art Gallery of the Northern Territory and championed by the Indonesian consulate in Darwin, a program which has effectively resurrected these natural links, now in the realm of the arts and culture.

...Yet often in this exhibition, works are guided more by a sense of where things have been and revolve around the point where collective and individual memory meet.]]></content:encoded></item><item><title>Artists Summoned Over Communist Symbol Exhibition</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Cultural Politics</category><dc:date>2008-10-21T19:14:51+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/artists_summoned_over_communist_symbol_exhibition.html#unique-entry-id-33</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/artists_summoned_over_communist_symbol_exhibition.html#unique-entry-id-33</guid><content:encoded><![CDATA[An art exhibition dubbed the G-30-S (30 artists' movement) was organized from Sept. 16 to 30 at the Denpasar Art Centre featuring contemporary art pieces that tried to redefine the meaning of some symbols, including communist symbols like the hammer and sickle.

...The decree was made after Indonesians experienced the so-called failed coup on Sept. 30, 1965, an attempt that took the lives of six army generals and one army lieutenant.

...The two -Gusti Putu Hardana Putra and Made Sudiadanaacknowledged that the use of some communist symbols at the art exhibition represented the artist's intention to impute new meaning into the symbols.

...Swesnawa's artworks are now stored at the East Denpasar Police office after they were confiscated by soldiers of the Udayana Military Command from the art gallery.]]></content:encoded></item><item><title>Groups Push for Action in Overturning Anti-Porn Law</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Cultural Politics</category><dc:date>2008-11-06T19:05:35+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/groups_push_for_action_in_overturning_antiporn_law.html#unique-entry-id-32</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/groups_push_for_action_in_overturning_antiporn_law.html#unique-entry-id-32</guid><content:encoded><![CDATA[Women&rsquo;s groups, NGOs and lawyers said Wednesday they might file for a judicial review of the newly passed anti-pornography law, while activists called for public education campaigns, research and rallies to be held to have the law repealed.

...Activists from Turkey and Malaysia, where women have campaigned intensively against laws considered detrimental to women and minorities, said the continuous mobilization of people would be needed to stop the law from taking effect.

Pinar Ilkkaracan of Turkey&rsquo;s Women for Women&rsquo;s Human Rights-New Ways, said the campaign against attempts to revise the Constitution to eliminate state responsibility in ensuring equality between men and women &ldquo;was very loud and very tiring&rdquo;.

...Madu Mehra of the Asian Pacific Women, Law and Development Network&rsquo;s Women&rsquo;s Human Rights Working Group, said a more effective law would be one on hate crimes, one that &ldquo;controls  violence and nonconsensual behavior&rdquo;, rather than one that obscured the differences between pornography and consensual and nonconsensual sexual behavior. 
]]></content:encoded></item><item><title>Pidato Kebudayaan: I Gusti Agung Ayu Ratih&#x2c; &#x27;Kita&#x2c; Sejarah&#x2c; Kebhinekaan&#x27;</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Event</category><dc:date>2008-11-06T04:02:21+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/pidato_kebudayaan_i_gusti_agung_ayu_ratih.html#unique-entry-id-31</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/pidato_kebudayaan_i_gusti_agung_ayu_ratih.html#unique-entry-id-31</guid><content:encoded><![CDATA[Pidato Kebudayaan: I Gusti Agung Ayu Ratih, &ldquo;Kita, Sejarah, Kebhinekaan&rdquo; | Senin, 10 November 2008, 20.00-22.00 WIB | Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki,  Jl. 

...Oleh sebab itu, segala upaya untuk menyeragamkan langgam, memangkas imajinasi tentang bagaimana kita harus berbangsa, dan mengasingkan kelompok atau golongan yang lakunya tidak (atau belum) saling bersesuaian adalah pengingkaran terhadap alasan keberadaan (raison d'etre) negeri-bangsa ini sendiri. ...  Adalah suatu lompatan luar biasa untuk mengubah kesadaran dan loyalitas primordial menjadi kesadaran akan kebangsaan, terutama karena tradisi keindonesiaan itu sangat baru dan tak punya rumusan baku, apalagi jika dibandingkan dengan tradisi-tradisi lain yang berusia ratusan tahun dan didukung oleh kitab-kitab sakral para begawan dan nabi.

...Setelah menamatkan S1 di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris IKIP Malang (1989), ia melanjutkan studi di bidang sejarah dan sastra perbandingan di Program Studi Asia Tenggara, University of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat dan memperoleh gelar Master of Arts. ]]></content:encoded></item><item><title>Pigura di Luar Penjara</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2008-11-05T12:29:21+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/pigura_di_luar_penjara.html#unique-entry-id-30</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/pigura_di_luar_penjara.html#unique-entry-id-30</guid><content:encoded><![CDATA[Inilah pameran &rdquo;Dari Penjara ke Pigura&rdquo;, yang diikuti 30 perupa (Jakarta, Bandung, Yogya, dan Bali), untuk menandai pembukaan Galeri Salihara di Jakarta (17 Oktober-6 Desember 2008).


...Menurut tim kurator, para perupa &rdquo;memiliki cara yang lebih tak terbayangkan lagi dalam menerjemahkan teks pilihan mereka&rdquo;. ...  Yang jelas, di tangan perupa, nukilan teks sejarah masih perlu dikembangluaskan atau digali lebih dalam, tak cukup hanya dialihrupakan, apalagi sekadar dikutip.


...&rdquo;Cara tak terbayangkan&rdquo; dalam menerjemahkan nukilan teks tentunya mungkin, sekiranya terpaut dengan penemuan &rdquo;pengetahuan visual&rdquo; yang baru di sekitar tokoh, dan menggubah kembali khazanah multidimensi semacam itu ke dalam perspektif karya.
]]></content:encoded></item><item><title>Seniman Minta Insentif Pajak</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Cultural Politics</category><dc:date>2008-08-22T00:12:07+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/seniman_minta_insentif_pajak.html#unique-entry-id-29</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/seniman_minta_insentif_pajak.html#unique-entry-id-29</guid><content:encoded><![CDATA[Dalam draft RUU PPh disebutkan, yang akan diberikan insentif pajak berupa pengecualian dari objek adalah sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan.


...Yang dikecualikan dari objek pajak adalah sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan pengembangan, yang terdaftar pada instansi yang membidanginya, yang ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangannya, dalam jangka waktu paling lama empat tahun sejak diperolehnya sisa tersebut yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.


...Badan nirlaba yang mendapatkan insentif pajak pengecualian dari objek pajak (tax exemption) sangat terbatas, hanya yang bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan pengembangan.


...Yang dikecualikan dari objek pajak adalah: sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang bergerak dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengembangan, seni dan budaya, pemuda dan olahraga, kesehatan, lingkungan hidup, kesejahteraan sosial, keagamaan, kemanusiaan, hukum dan hak asasi manusia, yang telah terdaftar pada instansi yang membidanginya, yang ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan prasarana kegiatan dan/atau penelitian dan pengembangannya, dalam jangka waktu paling lama empat tahun sejak diperolehnya sisa tersebut yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.
]]></content:encoded></item><item><title>Seniman Tuntut Insentif Pajak</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Cultural Politics</category><dc:date>2008-08-16T10:04:41+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/seniman_tuntut_insentif_pajak.html#unique-entry-id-28</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/seniman_tuntut_insentif_pajak.html#unique-entry-id-28</guid><content:encoded><![CDATA[Kalangan seniman mempertanyakan kebijakan tidak dimasukkannya bidang seni ke kelompok nirlaba yang mendapatkan insentif pajak berupa pengecualian sebagai obyek pajak pada draf Rancangan Undang-Undang Pajak Penghasilan.


...Konferensi pers itu juga dihadiri Ratna Riantiarno (Teater Koma), Amna Kusumo (Yayasan Kelola), Goenawan Mohamad (Yayasan Utan Kayu), Lalu Roisamri (Jiffest), Nungki Kusumastuti (Indonesian Dance Festival), dan lainnya.


..."Patut dipertanyakan, bagaimana mengenakan pajak terhadap pemain ludruk atau dalang yang dibayar dengan ikan dan ayam," ujar guru besar yang juga Rektor IKJ ini.


Menurut hasil penelitian Public Interest Research Advocacy Centre (PIRAC), tax deduction (bagi pemberi sumbangan) dan tax exemption (penerima) lazim di negara lainnya sebagai bentuk apresiasi negara terhadap peran masyarakat yang menggerakkan bidang seni. ]]></content:encoded></item><item><title>Commentary: Anti-Pornography Bill Could Deepen Religious Divide</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Cultural Politics</category><dc:date>2008-11-04T13:58:28+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/antipornography_bill_could_deepen_religious_divide.html#unique-entry-id-27</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/antipornography_bill_could_deepen_religious_divide.html#unique-entry-id-27</guid><content:encoded><![CDATA[The fact the porn law has always been religiously hyped, promoted by Islamic parties with the zealous support of Islamist groups, gives credence to the suspicion that the legislation is part of the &ldquo;Islamization&rdquo; of Indonesian politics.


...&ldquo;There are many more urgent issues for the House of Representatives to address than the porn bill, which is opposed to by many for good reason,&rdquo; the KWI said in its Sept. 17 press statement.


...In a 2006 interview with The Jakarta Post, Hasyim Muzadi, chairman of Nahdlatul Ulama (NU) &mdash; the country&rsquo;s largest moderate Islamic organization, and on that has long rejected the formalization of Islam in state politics &mdash; said many mostly Muslim regencies were anxiously awaiting the porn law.


...Now that the porn bill is here to stay, love it or hate it, let&rsquo;s hope the religious fanatics will not take to the streets and attack anything they deem &ldquo;pornographic&rdquo; on their way, although the new law does ask &ldquo;members of the public&rdquo;to participate in enforcing the law.
]]></content:encoded></item><item><title>Mengagumi Manekin dalam Ruang Kaca</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2008-06-24T10:49:44+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/mengagumi_manekin_dalam_ruang_kaca.html#unique-entry-id-26</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/mengagumi_manekin_dalam_ruang_kaca.html#unique-entry-id-26</guid><content:encoded><![CDATA[Lebih dari itu, pameran seni rupa yang tak tanggung-tanggung melibatkan 200-an lebih seniman itu, dengan terus terang disiapkan sebagai bursa karya, artinya mengutamakan jual-beli atau merebut pasar.


...Sementara art fair yang digelar untuk pertama kalinya di Yogyakarta ini, kendati mengutamakan bursa jual-beli, tidaklah selalu mengacu pada artefak kesenian yang bisa diproduksi secara massal. 

...Bahwa sepotong roti kita beli tidak lagi karena rasanya yang amat gurih, tetapi dari siapa saja yang membelinya dan kita rela antre untuk itu).


...Dengan sangat mudah bisa ditebak kemudian, menurut informasi panitia, lebih dari 30 persen karya sudah terjual, bahwa karya-karya yang laku notabene karya-karya yang menjadi epigon di pasar seni rupa masa kini. ]]></content:encoded></item><item><title>Revolusi Belum Selesai&#x21;</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2008-06-30T07:47:28+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/revolusi_belum_selesai.html#unique-entry-id-25</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/revolusi_belum_selesai.html#unique-entry-id-25</guid><content:encoded><![CDATA[Karya seni macam apa yang ditampilkan Sanggar Bumi Tarung dalam pameran ke-2 di Galeri Nasional, Jakarta, 19-29 Juni?


...Secara visual, ke-11 seniman peserta pameran yang lahir tahun 1930-an dan 1940-an itu masih membawa jalan kesenian yang tak jauh dari gaya realisme lama.


...Sebagian besar karya seniman ini belum beranjak dari jejak realisme sosial tahun 1960-an. 

...Dalam sisa waktu yang berkejaran dengan usia yang sudah 71 tahun, dia bakal terus melukis dan mengungkap ketidakadilan yang menimpa wong cilik itu.
]]></content:encoded></item><item><title>Forbidden Zone. Krisna Murti&#x27;s Painting/Digital Print/Video </title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Event</category><dc:date>2008-11-03T19:14:45+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/forbidden_zone.html#unique-entry-id-23</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/forbidden_zone.html#unique-entry-id-23</guid><content:encoded><![CDATA[In his new body of work, he continues to present issues that connect on a universal level, while at the same time articulating his own ambivalence and questions regarding his own position to a particular aspect of Indonesian art history&rdquo;. 

...&ldquo;Forbidden Zone&rdquo; tidak menunjuk pada pelarangan melanggar kewilayahan artistik tetapi justru menegaskannya dalam bentuk pertanyaan ulang, demistifikasi dan menguji kembali batas-batas &ldquo;konsensus&rdquo;estetika pada medium lukisan, fotografi digital dan video. ...  Meshing the three habitually autonomous forms into single work, he establishes a discomfort that is responsible for low-voltage tension that disturbs the viewer as he begins to decode Forbidden Zone&rsquo;s deeper iconographical significance.   But far from divorced from the work&rsquo;s conceptual aim, Murti&rsquo;s deliberate challenge to conventional associations- the clich&eacute; of painting as traditional medium, video as contemporary, and photography situated somewhere in between the first and the second-, leads his audience into the piece&rsquo;s multi-tiered vision.&rdquo;]]></content:encoded></item><item><title>Multicrisis is Delicious. A Solo Show by Eko Nugroho</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Event</category><dc:date>2008-11-04T18:20:37+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/multicrisis_is_delicious.html#unique-entry-id-21</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/multicrisis_is_delicious.html#unique-entry-id-21</guid><content:encoded><![CDATA[Manusia-manusia dalam sirkus bisa melakukan hal-hal yang berbahaya penuh resiko dalam sebuah panggung. ...  Kita bisa saksikan bagaimana sebuah krisis menjadi santapan, makanan empuk bagi media massa dan kita menikmati tayangan itu di layar televisi, gambar-gambar sensional di halaman surat kabar atau cerita-cerita dimajalah. ...  Atau drama ketika angka-angka dipanel monitor raksasa dalam ruang bursa saham terus turun naik dan akhirnya anjlok. 

...Sirkus kemudian menjadi metafor bagi Eko, menjadi bahasa yang hendak mengungkap hasrat manusia yang paling dasar dalam situasi sebuah krisis.]]></content:encoded></item><item><title>Porn Law a &#x27;Dead Document&#x27;</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Cultural Politics</category><dc:date>2008-11-04T12:52:14+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/porn_law_a_dead_document.html#unique-entry-id-20</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/porn_law_a_dead_document.html#unique-entry-id-20</guid><content:encoded><![CDATA[It is unlikely the recently passed anti-pornography bill will be enacted in several provinces as top officials there have announced they will not enforce it, legal experts say.

...At least four provinces -- Bali, North Sulawesi, Yogyakarta and West Papua -- have rejected the porn bill, with the predominantly Hindu island of Bali and the Christian province of North Sulawesi officially rejecting it.

..."Hereby, we announce that we reject the bill on pornography because it will harm our pluralism," Filep Mayor, secretary of the group representing 40 church communions in the mainly Christian province, said after meeting with House speaker Agung Laksono.

...Responding to the protest, Agung promised to follow up on the demands and urged the government to immediately offer clarity on some of the law's articles, which have been criticized as vague and misleading.]]></content:encoded></item><item><title>Ingar-bingar Mencari yang Kontemporer</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2008-05-26T01:05:51+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/ingar_bingar_mencari_yang_kontemporer.html#unique-entry-id-19</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/ingar_bingar_mencari_yang_kontemporer.html#unique-entry-id-19</guid><content:encoded><![CDATA[Selain ingar-bingar dari sebuah perhelatan yang melibatkan 354 seniman di Tanah Air, pergelaran ini mungkin cukup mencerminkan, bagaimana para seniman bergairah untuk terus mencari bahasa visual yang paling mewakili semangat kontemporer zaman ini.

...Para seniman, kolektor, masyarakat umum, dan peminat seni budaya turut berdesakan melihat ratusan karya yang dipajang di ruang utama di tengah serta ruang-ruang lain di bagian kiri, kanan, dan belakang. 

...Lepas dari keramaian itu, karena diselenggarakan bertepatan dengan 100 tahun Kebangkitan Nasional Indonesia, wajar jika pameran ini akhirnya juga menyeret perbincangan: sejauh mana pencapaian seni rupa kita setelah 100 tahun kebangkitan? 

...Pada sisi lain, di tengah kecamuk arus informasi global yang menggiring keseragaman, para seniman semakin ditantang untuk menemukan ruang personal yang membebaskannya dari berbagai kungkungan. ]]></content:encoded></item><item><title>Seni&#x2c; Seni Rupa&#x2c; &#x27;Art&#x27;?</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2008-05-26T01:03:28+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/seni_seni_rupa_art.html#unique-entry-id-18</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/seni_seni_rupa_art.html#unique-entry-id-18</guid><content:encoded><![CDATA[Jim Supangkat, salah satu dari empat kurator pameran, mempertegas, perhelatan besar ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa praktik &rdquo;seni rupa&rdquo; di Indonesia berbeda dengan &rdquo;art&rdquo; yang berkembang di Barat. 

...&rdquo;Di Indonesia, seni menyatu dengan senimannya sebagai naluri, kepekaan, atau rasa yang merefleksikan kearifan, cara berpikir, dan moralitas,&rdquo; kata Jim di sela-sela diskusi &rdquo;Menimbang Kembali Seni&rdquo; di Galeri Nasional, Kamis (22/5) siang lalu.

...Setiap seniman diminta untuk menentukan dan menyerahkan karyanya sendiri, sesuai dengan pemahaman yang dibaca dalam pengantar kurator dalam undangan itu. 

...Dalam ruang pamer, kita juga bisa mengamati karya-karya yang dibuat beberapa tahun sebelum 2008 ini, bahkan pernah sudah dipamerkan di tempat lain. ]]></content:encoded></item><item><title>An Asian Art Moment: Indonesia&#x2019;s Contemporary Painters Ride a Market Bubble</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2008-04-03T00:27:18+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/an_asian_art_moment.html#unique-entry-id-17</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/an_asian_art_moment.html#unique-entry-id-17</guid><content:encoded><![CDATA[The first of the auctions was actually in April, at Sotheby&rsquo;s in Singapore, where a painting by a young artist named Putu Sutawijaya sold for close to $60,000, 10 times the estimated price. 

...Throughout the year, prices rose higher and higher, some works selling for hundreds of thousands of dollars, though that is still far less than the millions paid for some Chinese art.

...One auction house sent a truck to Yogyakarta, a center of Indonesian art, to collect paintings from young unknown artists, said Eddy Soetriyono, chief editor of C-Arts, a magazine of Asian contemporary art and culture. 

...Oei said, is Pop Art with hyperrealistic techniques, paintings by people like Nyoman Masriadi, who he said is one of the young artists commanding the highest prices.]]></content:encoded></item><item><title>Peluncuran Buku &#x27;Amrus Natalsya dan Bumi Tarung&#x27;</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Event</category><dc:date>2008-10-24T23:49:45+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/peluncuran_buku_amrus_natalsya_dan_bumi_tarung%20.html#unique-entry-id-14</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/peluncuran_buku_amrus_natalsya_dan_bumi_tarung%20.html#unique-entry-id-14</guid><content:encoded><![CDATA[Peluncuran Buku &ldquo;Amrus Natalsya dan Bumi Tarung&rdquo; karya Misbach Tamrin, diskusi terbuka, dan pameran Arsip Retro Series IVAA: Realisme Sosial | Minggu, 26 Oktober 2008, 10.00-13.00 WIB | Bentara Budaya Yogyakarta

Sanggar Bumi Tarung (SBT) didirikan oleh bebera paperupa muda di Yogyakarta pada tahun 1961 di tengah situasi sosial politik yang bergelora. 

...Buku yang diluncurkan bersama Pameran Sanggar BumiTarung II di Galeri Nasional ini, menjadi sumber primer tentang keberadaan SBT dan melengkapi catatan sejarah perjalanan seni rupa Indonesia. 

...Pameran Arsip &ldquo;Retro Series IVAA: Realisme Sosial&rdquo; akan menampilkan koleksi data yang dimiliki IVAA berupa kliping, foto dan rekaman audio visual yang berkaitan dengan aktivisme sosial yang dilakukan secara aktif oleh seniman, terutama senirupawan Indonesia. ]]></content:encoded></item><item><title>Untitled</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Event</category><dc:date>2008-11-03T19:53:18+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/untitled.html#unique-entry-id-13</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/untitled.html#unique-entry-id-13</guid><content:encoded><![CDATA[Para seniman yang juga melakukan dan menekuni pekerjaan &ldquo;non-seni rupa&rdquo; seringkali dianggap &ldquo;bukan seniman&rdquo;, ataupun &ldquo;seniman yang tidak serius&rdquo;, dan oleh karena itu menempati posisi yang inferior di mata kritikus, kurator maupun institusi seni. 


Hari-hari ini istilah &ldquo;seniman&rdquo; (artist) atau &ldquo;perupa&rdquo; (visual artist) di Indonesia menjadi semakin bergengsi karena perkembangan aspek-aspek ekonomi seni di era kapitalisme mutakhir yang turut membentuk persepsi umum tentang seniman sebagai kategori keprofesian yang khusus dan mapan. 

...Pameran ini menampilkan karya-karya para seniman &ldquo;paruh-waktu&rdquo;&mdash;desainer fesyen dan interior, musisi, kritikus musik, editor majalah&mdash;yang kali ini berupaya menjelajahi berbagai kemungkinan ekspresi personal untuk keluar dari rutinitas dunia industri. ...  Karya-karya yang tampil memperlihatkan pendekatan terhadap praktik seni yang cenderung tidak berjarak dengan kehidupan sehari-hari, sekaligus merepresentasikan gambaran kehidupan &lsquo;seniman-seniman urban&rsquo; yang mempraktikkan seni secara santai dan bebas, tanpa beban. ]]></content:encoded></item><item><title>Local Restorers Have Yet to Gain Credibility</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2008-09-11T19:59:46+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/local_restorers_have_yet_to_gain_credibility.html#unique-entry-id-12</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/local_restorers_have_yet_to_gain_credibility.html#unique-entry-id-12</guid><content:encoded><![CDATA["Honestly, I have never heard of or seen their work," said private collector Hauw Ming, who has collected antiques since 1999: furniture, paintings, books, World War II-era enamel advertisement placards, and Chinese-Indonesian artifacts, just to name a few.

..."It would be hard to entrust the conservation of a painting worth Rp 3 billion (US$320,000) to people or an institution without strong backgrounds and qualifications," said Antariksa, who established his commercial organization for the visual arts in January 2008.

The city's Conservation Institute, whose offices are located just a stone's throw from the Jakarta History Museum in Central Jakarta, has been involved in the restoration of Indonesia's first red-and-white flag in 2003, the 200-year-old portrait of an East Indies Company governor general by Raden Saleh last year, and the 3-by-10-meter oil painting by the late S. 

...If I knew someone here, I wouldn't look abroad," said Hauw Ming, adding there were probably only 10 local experts in the country, none of whom had formal education in conservation and restoration.]]></content:encoded></item><item><title>Happening Kota Komik with G&#xe9;rald Gorridge</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Event</category><dc:date>2008-11-01T22:36:43+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/happening_kota_komik_with_gerald_gorridge.html#unique-entry-id-11</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/happening_kota_komik_with_gerald_gorridge.html#unique-entry-id-11</guid><content:encoded><![CDATA[Bulan Oktober, November, dan Desember 2008, Kedai Kebun Forum (KKF) menampilkan secara masif program-program yang mengolah keterampilan teknik menggambar dan bercerita. ...  Bulan November ini, KKF bekerjasama dengan Lembaga Indonesia Prancis (LIP) Yogyakarta memamerkan komik karya komikus asal Prancis G&eacute;rald Gorridge. 


...Beberapa kali kedatangannya ke ibukota Vietnam ini telah memberinya materi untuk albumnya yang berjudul Les Fant&ocirc;mes de Hano&iuml; &ndash; Hantu-hantu Hanoi &ndash; yang diterbitkan tahun 2006.


...Workshop ini tidak hanya mengolah ketrampilan ahli gambar tetapi juga melibatkan tukang cerita yang akan bekerja dengan tema horor (ketakutan) di (kota) Yogyakarta. ]]></content:encoded></item><item><title>Helena Spanjaard: Highlighting Hidden Masterpieces</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2008-10-31T11:34:18+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/helena_spanjaard_highlighting_hidden_masterpieces.html#unique-entry-id-10</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/helena_spanjaard_highlighting_hidden_masterpieces.html#unique-entry-id-10</guid><content:encoded><![CDATA[And while it is a blessing that the nation's private collectors are ensuring some of the most important paintings of the past century remain on Indonesian soil -- and have generously allowed them to be housed in the book -- these are works that should be seen by the public.


...Journeying through the pages of Spanjaard's book, the viewer is inclined to weep at the power and beauty of works illustrated, and also weep because these masterpieces of Indonesian art -- works that poignantly, joyously, tragically and often humorously portray Indonesia's 100-year march from crushing colonialism, war and revolution toward a modern democratic state -- are, for the most part, confined to the walls of private collections.


The invisibility of these masterpieces also keeps the importance and talents of Indonesian modern and contemporary artists away from the world stage, and cancels out a certainty that modern Indonesian art would otherwise take up its rightful position alongside the world's most renowned painters of the 20th century.


...Spanjaard points out that most art museums around the world are built on gifted or loaned art works from private collections and an Indonesian museum of modern art could give an opportunity to "future generations to be educated, to see their own national heritage in the field of painting and history of Indonesia's development through the different periods in the country's journey.
]]></content:encoded></item><item><title>Porn Bill Passed Despite Protests</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Cultural Politics</category><dc:date>2008-10-31T11:31:55+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/porn_bill_passed_despite_protests.html#unique-entry-id-9</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/porn_bill_passed_despite_protests.html#unique-entry-id-9</guid><content:encoded><![CDATA[Two of 10 factions in the House, the Indonesian Democratic Party of Struggle (PDI-P) and the Prosperous Peace Party (PDS), boycotted a plenary session to endorse the modified bill that criminalizes all works and acts deemed obscene and capable of breaching public morality.


...Women in Muslim attire cheer shortly after members of the House of Representatives vote by an overwhelming majority to pass the anti-pornography bill during a plenary session in Jakarta on Thursday. ...  Berto Wedhatama)Women in Muslim attire cheer shortly after members of the House of Representatives vote by an overwhelming majority to pass the anti-pornography bill during a plenary session in Jakarta on Thursday. 

...Pornography is drawings, sketches, illustrations, photographs, texts, voices, sound, moving pictures, animations, cartoons, poetry, conversations, gestures, or other forms of communicative messages through various kinds of media; and/or performances in front of the public, which may incite obscenity, sexual exploitation and/or violate moral ethics in the community.
]]></content:encoded></item><item><title>UU Pornografi: Meski Telah Disepakati&#x2c; Tetap Picu Kontroversi</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Cultural Politics</category><dc:date>2008-10-31T09:28:44+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/uu_pornografi__meski_telah_disepakati_tetap_picu_kontroversi.html#unique-entry-id-8</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/uu_pornografi__meski_telah_disepakati_tetap_picu_kontroversi.html#unique-entry-id-8</guid><content:encoded><![CDATA[Meski demikian, dua fraksi, yaitu Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Fraksi Partai Damai Sejahtera, menyatakan menolak dan tak bertanggung jawab atas putusan tersebut. 

...Dalam pernyataannya, sesaat setelah rapat paripurna dibuka oleh Ketua DPR Agung Laksono, Ketua Fraksi PDI-P Tjahjo Kumolo mengatakan, secara prosedural dan substansi, RUU tersebut cacat.


Secara prosedural, pemerintah belum memanggil kepala daerah yang menolak RUU tersebut sebagaimana diamanatkan oleh Rapat Bamus, 23 Oktober 2008. 

...Tanggapan senada dikatakan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Farida Hatta dan Menteri Agama Maftuh Basyuni yang menilai kehadiran UU itu perlu untuk melindungi perempuan dan anak-anak. ]]></content:encoded></item><item><title>DPR Sahkan UU Pornografi</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Cultural Politics</category><dc:date>2008-10-31T11:24:41+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/dpr_sahkan_uu_pornografi.html#unique-entry-id-7</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/dpr_sahkan_uu_pornografi.html#unique-entry-id-7</guid><content:encoded><![CDATA["Dengan disetujuinya RUU ini oleh frakis-fraksi yang ada di DPR minus Fraksi PDIP dan PDS, maka RUU Pornografi resmi disahkan menjadi undang-undang," kata Agung.


...Ketua Fraksi PDIP Tjahjo Kumolo menyatakan fraksinya menolak bertanggung jawab terhadap pelaksanaan Undang-Undang Pornografi karena tidak terlibat dalam proses pembahasan dan pengambilan keputusan.


Menurutnya, PDIP merasa prihatin dengan kondisi masyarakat dan daerah yang masih terpecah mengenai RUU Pornografi, dan belum adanya penjelasan dari panitia khusus dan pemerintah tentang hal-hal yang lebih baik dari kondisi saat ini.


...Ketua Fraksi PDS Carol Daniel Kadang menyatakan menolak pemberlakuan Undang-Undang Pornografi karena definisi dan uraian tentang pornografi dalam undang-undang ini masih kabur dan memungkinkan terjadinya multitafsir.
]]></content:encoded></item><item><title>Citra Kayu pada Logam</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2008-10-27T22:21:07+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/citra_kayu_pada_logam.html#unique-entry-id-6</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/citra_kayu_pada_logam.html#unique-entry-id-6</guid><content:encoded><![CDATA[Pematung kontemporer Anusapati yang karya-karyanya mengisi ruang pamer antara era 80-90-an kini tampil kembali dalam pameran tunggal di Galeri Mon Decor, Jakarta, berlangsung pada 18-26 Oktober 2008. 

...Di banding pematung yang muncul belakangan, seperti Rudi Mantofani, Yusra Martunus, Yuli Prayitno, Hedi Heriyanto, dan Awan Simatupang, Anusapati terhitung jarang memamerkan karyanya, kecuali sekali atau dua pameran bersama-sama anggota Asosiasi Pematung Indonesia yang kini dipimpinnya. 

...Bidang pada patung bronze yang menjulang itu tak dibiarkan kosong berbicara atas sesuatu yang sederhana atau minimalis, misalnya, Anusapati terus mendesaknya, mengisinya dengan citra reranting pada sebagian bentuknya sehingga kita dihadapkan pada bentuk yang mendua. 

...Lalu, bergesernya dari kayu ke logam, dari teknik pahat yang sederhana ke teknik cetak-mencetak yang berselit belit, sembari tetap mempertahankan citra kayu ke dalam karya-karyanya, menimbulkan pelbagai pertanyaan. ]]></content:encoded></item><item><title>Remembering Salim: Sept. 3&#x2c; 1908 - Oct. 13&#x2c; 2008</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2008-10-20T10:18:58+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/remembering_salim.html#unique-entry-id-5</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/remembering_salim.html#unique-entry-id-5</guid><content:encoded><![CDATA["Well, my Indonesian is a bit rusty, but alright I have so much to say... the younger generation there (in Indonesia) should realize the importance in the struggle for independence!" 

...So I caught the metro to Neuilly where he lived in an art nouveau building, and took the elevator to his spacious flat on the top floor.


...Occasionally, Salim could be very obstinate, but on the other hand he staunchly defended his principles of social justice and according to others was very courageous.


...I have so many other questions to ask him still, and had plenty of chances, but even now I can hear Salim's voice saying, "Well, you should have asked me before!" 
]]></content:encoded></item><item><title>Plastik dalam Olahan Dolorosa</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>Review</category><dc:date>2008-10-20T19:17:13+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/plastik_dalam_olahan_dolorosa.html#unique-entry-id-4</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/plastik_dalam_olahan_dolorosa.html#unique-entry-id-4</guid><content:encoded><![CDATA[Karena itu, Dolo membuat perempuan yang menari dalam posisi rebah (Dance to The Moonlight, fiberglass), perempuan dan lelaki yang berbagi cinta (Berciuman, fiberglass; Touch of Love, perunggu; Sampai Tua Bersama, fiberglass), perempuan yang menikmati ruang pribadinya saat menjelang tidur malam (Rites of The Nite, fiberglass), atau perempuan yang gemerlap di panggung pergelaran busana (Catwalk, fiberglass).


Namun, kita juga masih melihat perempuan yang harus berteriak untuk mempertahankan haknya (Stand Up for Your Rights, perunggu dan besi nir karat) perempuan yang berjuang mempertahankan hidupnya karena lumpur Lapindo (Semburan Lumpur Itu Tidak Akan Berhenti..., fiberglass). 

...Ini pula yang memungkinkan Dolo menampilkan patung-patung yang memberi kesan megah sekaligus halus dan lembut seperti pada The Lady (fiberglass) atau menggoda pada Rites of The Nite.


Dengan perubahan materi yang memberi peluang ekspresi lebih kaya itu wajar bila ada harapan terjadi pula perubahan pada cara Dolo mengekspresikan ide, pikiran, dan perasaannya. ]]></content:encoded></item><item><title>A Decade of Selasar Sunaryo: Questioning Art(ist)</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2008-09-05T11:10:53+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/a_decade_of_selasar_sunaryo.html#unique-entry-id-3</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/a_decade_of_selasar_sunaryo.html#unique-entry-id-3</guid><content:encoded><![CDATA[SSAS celebrated with an exhibition, "Redefining Art", involving 33 artists and two artist groups as well as the launching of an accompanying monograph, A Decade of Dedication: Ten Years Revisited.


...During the opening ceremony, Sunaryo covered all his works set out for display at the gallery, symbolizing his concern for the country's plight, and literally washed his hands as a symbol of his attempts to detach himself from the misery his compatriots faced.


...With new art exploiting digital media, Yusuf, if he is consistent and loyal to what he has been doing, can compensate for the scarcity of artists specializing in this media.   While his peers are busy pleasing the art market with their use of conventional media, Yusuf takes new media art seriously and is willing to go the extra mile to explore its beauty.
]]></content:encoded></item><item><title>Masa Depan Seni Rupa Kontemporer di Asia</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2008-08-31T18:08:15+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/masa_depan_seni_rupa_kontemporer_di_asia.html#unique-entry-id-2</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/masa_depan_seni_rupa_kontemporer_di_asia.html#unique-entry-id-2</guid><content:encoded><![CDATA[Itu dikemukakan Lorenzo Rudolf, Fair Director Shanghai Contemporary, dalam pertemuan dengan kalangan seni rupa Indonesia yang terdiri dari para seniman, kolektor, para pemilik galeri, dan pencinta seni. ...  Dalam pertemuan yang diselenggarakan oleh ASPI (Asosiasi Pencinta Seni Indonesia) itu, Lorenzo menegaskan bahwa masa depan ada di sini, di Asia.


...Dalam kesempatan itu, Oei Hong Djien, yang juga berbicara sebagai salah satu kolektor terkemuka di Indonesia, menyatakan bahwa dirinya sekarang bukanlah satu-satunya kolektor besar. 

...Perupa FX Harsono, yang dikenal sebagai salah satu eksponen Gerakan Seni Rupa Baru di tahun 1970-an, angkat bicara mengomentari perkembangan pasar seni rupa dewasa ini. ]]></content:encoded></item><item><title>Seni Media di Negeri Makmur</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2008-08-24T15:03:33+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/seni_di_negeri_makmur.html#unique-entry-id-1</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/seni_di_negeri_makmur.html#unique-entry-id-1</guid><content:encoded><![CDATA[Hajatan seni ini menggelar puluhan karya berbasis teknologi media (baru), yang tersebar di sejumlah venue, seperti Museum Nasional, Substation, dan sekolah seni La Salle yang berarsitektur megah serupa lampion raksasa. 

...Koleksi senyuman dari sejumlah penduduk Singapura ini menarik karena tidak saja mampu memvisualisasikan perbedaan senyum &rsquo;asli&rsquo; dan dibuat-buat seseorang, tetapi bisa mengungkap rekayasa sosial senyuman sebagaimana desain kostum atau pakaian seragam. 

...Sebuah kombinasi teknologi &rsquo;tradisional&rsquo; pendulum pelacak air dengan teknologi GPS dan sensor gerak yang mampu memetakan sumber air di bumi (Singapura) lebih akurat sekaligus menarik secara visual!


...Dari sisi optimistis, perkawinan seni dan teknologi ini sebetulnya justru menjadi penanda bahwa media baru sedang kembali ke &rsquo;khitah&rsquo;-nya sebagai &rsquo;techne&rsquo; (keterampilan yang berguna) dalam terminologi Yunani kuno.
]]></content:encoded></item><item><title>Indonesia Art Award 2008 Bagi Seniman Muda</title><dc:creator>canmanage@gmail.com</dc:creator><category>General</category><dc:date>2008-07-07T21:59:52+07:00</dc:date><link>http://canmanage.net/news/files/indonesia_art_award_2008_bagi_seniman_muda.html#unique-entry-id-0</link><guid isPermaLink="true">http://canmanage.net/news/files/indonesia_art_award_2008_bagi_seniman_muda.html#unique-entry-id-0</guid><content:encoded><![CDATA[Sebanyak lima seniman muda Indonesia di Jakarta, Minggu (6/07) meraih penghargaan "Indonesia Art Award 2008" atas karya seni kontemporer mereka yang orisinal, menggunakan media penciptaan yang baru, memiliki berbagai kelebihan di berbagai sisi, dan tidak meninggalkan kaidah seni rupa.


Kelima pemenang Indonesia Art Award 2008 adalah Banung Grahita (25) dengan karya instalasi video "Seeing The Paradise", Faisal Habibi (24) dalam karya patung instalasi "Coangulation 1", Gatot Indrajati (28) dalam lukisan instalasi "War for Fun", Johan Ies Wahyudi (29) dalam karya fotografi kolase berjudul "Kirab Budaya", dan Maulana M Pasha (25) dengan karya video art "Jalan Tak Ada Ujung".


Banung Grahita Faisal Habibi adalah mahasiswa Seni Rupa dan Disain ITB , Gatot Indrajati adalah seniman muda asal Yogyakarta, Johans Ies Wahyudi dari ISI Yogyakarta, dan Maulana M Pasha adalah mahasiswa Institut Ilmu sosial dan Politik (IISIP) Jakarta.


..."Hampir secara keseluruhan dari para finalis dan pemenang penghargaan karya terbaik semuanya didominasi nama-nama baru dengan banyak kelebihan di berbagai sisi," kata Ketua Dewan Juri Indonesia Art Award 2008, Enin Supriyanto.
]]></content:encoded></item></channel>
</rss>