Jogja Jamming

Setelah lebih kurang 21 tahun, sesudah sembilan kali perhelatan, Yogyakarta Biennale telah menjadi sebuah tradisi seni rupa yang memungkinkan masyarakat mengapresiasi perkembangan estetis dan pencapaian artistik para pelaku seni rupa di kota ini. Kemungkinan itu merupakan semacam jembatan kesempatan untuk merayakan tradisi ini dengan partisipasi. Tapi sejauh ini partisipasi itu masih dianggap bersifat fragmentaris—dan hal inilah yang kerap memunculkan kritik dari satu perhelatan ke perhelatan lainnya. Read More...

Outside-In: Solo Exhibition of Mie Cornodeus

mie_edit
23 Nov - 10 Dec 2009, MES56 Jl. Nagan Lor 17 Yogyakarta
Kami mengagumi Mie Cornoedus karena pertemanan dan relasi yang dia ciptakan sangat mendukung aktivitas seniman muda Jogja sampai sekarang ini. Alasan yang kuat bisa kita lihat aktivitasnya dengan ViaVia Café yang berdiri sejak 1995 sampai sekarang. Semua eksperimen seni yang baru atau yang sudah dianggap kuno sekalipun selama ini berhasil dipresentasikan dengan baik oleh Mie dan teman-temannya di Jogja. Tempat yang dia kelola berhasil menjadi sharing dan meeting place dari berbagai budaya di segala penjuru dunia dengan cara yang unik. Read More...

Dancing with Light on Canvas

sardono
Sardono W. Kusumo’s first solo painting exhibition is a visual feast. The event is titled “Choreography of Colours” in salutation to the artist’s unique painting methods as well as his celebrated career as dancer and choreographer. Curator Enin Supriyanto selected 15 paintings from over 120 completed works on canvas in Sardono’s home and studio. In selecting what he considers to be the pinnacle of the artists’ many styles, the curator presents the public with a retrospective of Sardono’s four decades of visual exploration. Read More...

Seni dan 'Civil Society' (Dengan Referensi Khusus Kepada Penyair Rendra)

Pidato Kebudayaan 2009 Dewan Kesenian Jakarta oleh Dr. Ignas Kleden | Membicarakan kedudukan seni dalam hubungannya dengan civil society merupakan suatu tantangan yang tidak mudah dijawab, juga pada kesempatan ini. Tantangan ini telah saya terima sebagai sebuah penugasan dari Dewan Kesenian Jakarta, meskipun saya tidak terlalu paham mengapa tema ini dijadikan pokok pidato kebudayaan pada hari ini. Tugas ini telah saya terima semata-mata karena pertimbangan bahwa kesenian sebagai suatu sektor penting dalam kebudayaan, dapat dijadikan contoh soal untuk melihat masalah yang lebih besar yaitu hubungan kebudayaan dan civil society. Read More...

Deer Andry

deerandry
7-19 November 2009, MES 56 Jl. Nagan Lor 17 Yogyakarta
Andry Mochammad adalah salah satu perupa muda yang dikenal luas di berbagai komunitas seni di berbagai kota. Karya-karyanya mewakili kecenderungan praktik seni alternatif. Sosok yang dikenal santun bagi para sahabatnya ini belajar di jurusan Seni Rupa, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung dan pernah bekerja sebagai desainer grafis pada majalah “Ripple”, pusat kebudayaan Perancis (CCF), dan clothing line “Firebolt”. Read More...

Kisah Wajah: Gatot Pujiarto's Solo Exhibition

kisahwajahGatot Pujiarto memiliki ketertarikan untuk merekam pelbagai kisah dalam wajah orang-orang. Wajah kata Gatot meski terlihat, sering ada yang tersembunyi dan disembuyikan. Ambivalensi antara tampak dan sembunyi, diperlihatkan dan ditutupi, antara komedi dan tragedi, menjadi daya tarik tersendiri baginya. Pameran Kisah Wajah adalah jejak dari upaya Gatot untuk menyaksikan ambivalensi wajah serta menuturkan dalam karya rupanya. Read More...

Lewat Mella, Kita Baca Indonesia

mellaApa kaitan pameran Mella, seniman kelahiran Belanda yang tinggal di Yogyakarta, dengan Sumpah Pemuda? Karya-karyanya mengusik perbincangan serius soal identitas dan keberagaman budaya Indonesia, yang masih kerap memicu persoalan di tengah masyarakat. Coba karya instalasi berjudul ”My Name is Michaella Jarawiri”. Ada 150-an koteka asal Papua dalam berbagai bentuk dan bahan dijejer di dinding. Di tengah ruang diputar dua video yang menayangkan cara masyarakat di sana membuat dan mengenakan koteka. Read More...