Biennale, Anti-Barat, Kesadaran Semu

Biennale seni rupa terkadang butuh kenaifan. Pada saat-saat tertentu--seperti yang berlangsung dalam Jogja Biennale X-2009--ia bahkan sebuah kenaifan itu sendiri. Kenaifan itu sudah tentu berkenaan bukan dengan kebijaksanaan menumbuhkembangkan biennale sebagai tradisi kreatif yang berwibawa di jagat seni rupa dalam dan luar negeri, melainkan kebanalan pikiran yang bertendensi menafikan sejarah panjang perhelatan seni rupa dua tahunan ini dengan dalih ''memuliakan seniman'', ''menyapa masyarakat kebanyakan'', dan ''jangan lagi mengandalkan pola pikir Barat atau negeri mana pun''. Sebab, ''Jogja ya Jogja'' yang ''punya karakter'' dan local wisdom sendiri. Read More...

Memetakan Geliat Seni Keramik

Selain menyuguhkan peta terkini perkembangan seni keramik di Indonesia, pameran Contemporary Ceramic Biennale #1 di North Art Space, Pasar Seni Ancol, menegaskan seni bermaterial tanah liat itu telah menjadi bagian pergulatan seni rupa kontemporer. Read More...

Seni Rupa (di Ruang) Publik

Semakin sering kita dengar dan saksikan tentang karya-karya seni rupa yang dihadirkan di ruang publik. Peristiwa ini sering kali memancing beragam respons publik, baik dari masyarakat luas maupun dari mereka yang mengaku sebagai para penghuni atau pengguna ruang-ruang publik itu. Contoh paling aktual adalah sejumlah peristiwa tentang penolakan (oleh aparatus pemerintah dengan mengatasnamakan masyarakat), pembongkaran, dan pemindahan sejumlah karya tiga dimensional yang dipasang di sejumlah sudut kota Yogyakarta. Read More...

Perhatian Kementerian pada Museum Minim

Sejumlah kementerian membangun museum di kawasan Taman Mini Indonesia Indah. Namun, setelah membangun museum, perhatian dan kucuran dana kementerian pada museum-museum tersebut sangat minim. Pengelolaannya pun kurang profesional. Di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, ada 17 museum. Beberapa di antaranya dibangun kementerian. Namun, akibat minimnya kucuran dana dan pengelolaan yang kurang profesional, sebagian museum tersebut dikunjungi sedikit masyarakat. Read More...

'Kudeta' Jogja Biennale X

Perhetalan seni rupa dua tahunan berlabel Jogja Biennale yang kini memasuki bilangan kesepuluh (X) diselenggarakan mulai 10 Desember 2009 hingga 10 Januari 2010. Wahyudin, kurator terpilih melalui audisi yang diadakan Tamun Budaya Yogyakarta (TBY). mengajukan tema Gerakan Arsip Seni Rupa Jogja. Isu itu bertujuan apik memetakan perjalanan historis -bentuk karya (pencapaian artistik) dan gerakan yang pernah digagas (konsep estetik) para perupa Jogja kota utama seni rupa tanah air. Sayang, realisasi narasi gerakan arsip dalam perhelatan dicedari rivalitas yang dipicu ketegangan antara pemegang otoritas artists interpretation (karya yang dipajang dalam gedung pameran) dan public on the move (karya yang dipajang pada ruang publik). Read More...

Antara Penilaian dan Partisipasi Publik

Perhelatan Biennale Jogya kesepuluh, selain berupaya melibatkan publik yang seluas-luasnya, juga mengundang tafsir lain dari para pelakunya. Bagaimana polemik ini berlanjut? Read More...

Museum Berikan Paket Pelajar

Menjelang pencanangan 2010 sebagai tahun museum, 30 museum yang tergabung dalam Badan Musyawarah Musea DIY menyediakan paket khusus bagi pelajar. Paket berbentuk hiburan mendidik merupakan langkah reformasi museum Yogyakarta. Ketua III Badan Musyawarah Musea (Barahmus) DIY RM Donny S Megananda mengatakan, langkah ini dilakukan untuk menghapus citra buram museum yang masih melekat. Read More...

Biennale Jogja X-2009 Terjebak pada Stagnasi

Kehadiran Biennale Jogja sering ditengarai sebagai barometer perkembangan seni rupa Yogyakarta. Perhelatan besar yang digelar setiap dua tahun ini selalu disertai gesekan-gesekan ide dan dinamika kreatif. Upaya merespons ruang luar mewarnai semangat eksperimentasi perupa muda pada BJ X-2009. Read More...

Nggendong Seni, Nggendong Jogja

Sepuluh buruh gendong yang biasa mangkal di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, menggendong 10 seniman mengelilingi keramaian kawasan titik nol Yogyakarta. Dalam gendongan Sukinah (64), ada Djoko Pekik, pelukis senior Yogyakarta. Di depannya ada Mijem (57) yang menggendong perupa Heri Dono. Tentu bukan Djoko Pekik ataupun Heri Dono betulan yang digendong keduanya. Mereka hanya menggendong karung berisi jerami yang permukaannya dilukisi wajah para seniman. Read More...