Koper Tua Sendirian di Taman

Satu koper kulit tua tergeletak sendirian di pojok meja kayu di pinggir taman Erasmus Huis, Kuningan, Jakarta Selatan. Beberapa pengunjung menghampiri. Ada yang mencoba duduk di kursi dekat meja, lantas mengamat-amati benda coklat lusuh itu. Di sisi taman lain, ada satu koper lagi yang ditaruh begitu saja di ujung bangku. Tas itu menganga-menutup, seperti bernapas. Beberapa orang berhenti, melongok-longok, mungkin bergumam penasaran: ada apa dengan koper ini?
Read More...

Yang "Mbentoyong" yang Keren, "Euy"...

Bayangkan jika seniman- kurator Asmudjo J Irianto yang sangat gaul itu tidak pake topi dan lupa berkacamata model anak band masa kini. Maka ia tampak sangat agraris pedalaman dan sama sekali tidak keren. Meski memaksakan diri setiap hari nongkrong di mal. Bayangkan pula jika pelukis kaya raya Nasirun yang pernah kuliah di ISI Yogyakarta tiba-tiba rapi, necis dan wangi serta menyetir sendiri mobil mewahnya. Keren bukan? Bukan seperti yang kita kenal selama ini hitam, dekil, gondrong awut-awutan, dan enggak pernah bisa nyetir. Tentu apabila Nasirun mau, bisa rajin ke salon untuk manicure-pedicure, spa, whitening, dan aneka perawatan lainnya. Bahkan ia bisa membayar kursus privat sekolah kepribadian, sekolah mengemudi, bahasa Inggris dan anger management sekaligus. Maka Nasirun tidak bakal ketahuan karakter agrarisnya meskipun sejatinya ia anak petani pedalaman. Read More...

Yang Keren dan Terkendali

Siapa pun yang rajin nonton pameran seni rupa kontemporer tak akan heran ketika melihat karya seni yang terbuat dari benda sehari-hari seperti kursi, batu bata, lampu kelap-kelip plus efek ini itu, foto-foto, tulisan dan gambar oret-oretan di dinding, barang-barang bekas (asli dan tiruan), atau tayangan video yang berisi potongan-potongan adegan yang diulang-ulang dan sejenisnya. Benda-benda yang dirakit dalam bentuk tertentu itu lazim disebut seni instalasi. Almarhum Profesor Sudjoko punya istilah ”seni pepasang” buat seni semacam itu.
Read More...

Aminuddin TH Siregar: (Bandung) Art now -- or Never

To Aminuddin Tua Hamonangan Siregar -- curator and lecturer at the Bandung Institute of Technology (ITB) -- the time to prepare art students for dealing with the art market and breaking the taboo of introducing the subject in art schools is now. "If nothing is done, the first casualty of the booming art market will be art schools, because the market doesn't appreciate value; trend is the word. So a boom could likely corrode art schools. The impact has happened although my campus hasn't felt it; but I have heard cases where students have given up their studies because their work has given them a windfall," Aminuddin, better known as Ucok, said. Read More...

Mengingatkan Gagasan Driyarkara Lewat Kanvas

Salah satu cara yang ditempuh untuk mengangkat kembali pemikiran Diyarkara adalah dengan menggelar pameran seni rupa di kampus Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Dalam pameran yang bertajuk ”Membaca Kembali Driyarkara: Kemanusiaan, Pendidikan, Kebangsaan”, ada 45 perupa yang dilibatkan dan menggelar ratusan karya yang dipajang di Lantai 3-4 Gedung Administrasi dan lingkungan sekitar (halaman, tempat parkir, dan toilet) Kampus USD, hingga 17 Januari 2009. Read More...

Merupakan Driyarkarya

Kecuali namanya yang diabadikan sebagai nama sekolah tinggi filsafat di Jakarta, mungkin tak banyak orang di Indonesia sekarang yang tahu siapa Driyarkara atau Nicolaus Driyarkara. Baiklah kita kenang ia dalam kata-kata semenjana ini: Ia yang berkalang tanah dalam usia menjelang 54 tahun pada 11 Februari 1967—dan kini terbaring di permakaman Girisonta, Ungaran, Jawa Tengah—adalah sosok manusia yang sederhana, ramah, dan suka humor, sekalipun ia menyandang sejumlah gelar terhormat di bidang agama (Romo Jesuit), pendidikan (Rektor IKIP Sanata Dharma, guru besar luar biasa di Universitas Indonesia dan Hasanuddin), budaya (perintis filsafat di Indonesia), dan politik (anggota MPRS dan DPA). Read More...

Wacana Bangkrut, Kurator Gendut

Lampu terang-benderang menerangi ratusan lukisan dan karya seni yang berjejer rapi di ruang pameran Jogja Nasional Museum. Sedangkan di luar, puluhan banner sponsor menyesaki halaman bekas gedung Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), Gampingan, Yogyakarta. Pameran bertajuk "Highlight" ini adalah pameran yang mencoba merangkum "keberhasilan" Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta sebagai lembaga pendidikan seni tertua di Indonesia dalam melahirkan seniman dan kritikus seni. Pameran ini dilengkapi katalog yang dirancang sedemikian rupa sehingga terlihat mewah: kertasnya mengkilap dan tebal bak bantal. Pembukaan pameran pun sarat dengan pidato dan selingan musik. Semua terkesan rileks dan mewah, tak terasa kita sedang dilanda krisis. Pameran dengan ambisi semacam ini beberapa kali digelar pada 2008. Ada Pameran Manifesto di Galeri Nasional Jakarta pada Mei 2008. Pameran Manifesto itu juga bermaksud membeberkan "kemajuan" atau pencapaian seni rupa Indonesia dengan embel-embel memperingati 100 tahun kebangkitan nasional. Serba besar dan megah, tapi sekaligus kosong dari sisi wacana. Read More...