Dec 2008
Apa yang Dihasilkan Pasar?
29 Dec 2008 20:11 Filed in: General
Apa yang dihasilkan ”booming” pasar seni rupa kontemporer di Indonesia dua tahun belakangan? Pameran bertubi-tubi, transaksi marak, dan para perupa serta pengelola galeri tambah sejahtera. Namun, ternyata pasar tak lebih jauh melahirkan infrastruktur seni rupa yang berorientasi lebih panjang, termasuk membangun infrastruktur pasar itu sendiri. Read More...
Art and the Artless in 2008
23 Dec 2008 13:11 Filed in: Review
The classic question asked -- perhaps for the zillionth time -- by Indonesian art critics in 2008 was: What is art? Certainly no one can give a succinct answer to such an open enquiry. To quote New Left thinker Theodor W. Adorno, "it is self-evident that nothing concerning art is self-evident anymore, not its inner life, not its relation to the world, not even its right to exist". The aim of the question here is to acknowledge the importance of art criticism in developing Indonesian contemporary fine arts in the face of a market bubble triggered by the soaring prices of Chinese artworks from 2007 to mid-2008. Read More...
Seniman Juga Perlu Kenal Filsuf
23 Dec 2008 10:14 Filed in: General
Tidak semua gagasan Driyarkara mampu ditafsirkan oleh setiap orang, termasuk seniman. Banyak perupa yang belum mampu mengungkapkan gagasan Driyarkara dengan jelas dan menuangkannya dalam karya seni. Hal itu yang tertangkap di diskusi Membaca Driyarkara Lewat Rupa di Universitas Sanata Dharma (USD) pada Sabtu (20/12). Hadir sebagai narasumber St Sunardi, pengajar Magister Ilmu Religi dan Budaya USD. Read More...
Dari Ruang Pamer hingga Tempat Diskusi Para Seniman
21 Dec 2008 00:30 Filed in: General
Tujuan utama keberadaan galeri dan juga rumah seni adalah menjadi ruang presentasi dan apresiasi seni bagi seorang perupa yang memamerkan karyanya kepada masyarakat. Galeri dan juga rumah seni juga berfungsi komersial, yaitu menjadi tempat bertemunya seniman dan kolektor. Namun, Taufiq Dahara mendirikan Galeri Dahara pada 10 November 2005 lebih untuk menyediakan ruang presentasi perupa dan bukan sebagai ruang komersial. "Sedari awal kami sepakat bahwa galeri ini tidak akan berorientasi pada keuntungan. Kami ingin menampilkan karya perupa yang berdedikasi terhadap seni itu sendiri," katanya. Read More...
Membuka Galeri, Bangkitkan Seni
21 Dec 2008 00:27 Filed in: General
Kehidupan seni rupa di Semarang seolah hidup kembali. Hampir setiap minggu ada pameran seni rupa. Bahkan, beberapa waktu lalu sekelompok seniman mengadakan pameran lukisan luar ruangan bertajuk "Project Seni Rupa Outdoor Kota" di kawasan Kota Lama Semarang. Sesuatu yang sama sekali tak terbayangkan sebelumnya di Semarang. Meski belum bisa disejajarkan dengan Kota Solo dan Yogyakarta, kehidupan seni rupa di wilayah ini mulai menampakkan kemajuan. Hal ini seiring dengan bertumbuhnya galeri dan rumah seni di Semarang dan sekitarnya sejak tiga tahun terakhir. Read More...
'Sagacity' Leads to Politics in Indonesian Art
20 Dec 2008 12:59 Filed in: General
Noted art critic Jim Supangkat argues that Indonesian art was never modernized in the way of Western art. That, he says, is why Indonesian art tends to be political in nature, for its artists perceive art as a cultural practice that stems from their inner senses. Speaking at a small discussion at Komunitas Salihara in South Jakarta on Tuesday, Jim proposed a new term to describe the basic character of Indonesian art: Sagacity. Read More...
Pameran Tunggal Nindityo Adipurnomo: WWW dot JAVA
20 Dec 2008 12:40 Filed in: Event

Nindityo Adipurnomo, ibaratnya, pulang ke rumah sendiri dengan cara menggelar pameran tunggalnya di Rumah Seni Yaitu ini. Seniman ini lahir dan menyelesaikan sekolah menengahnya di Semarang. Nindityo—bersama istrinya yang juga seorang perupa, Mella Jaarsma—dikenal luas sebagai pendiri Cemeti Art House, Yogyakarta, 20 tahun silam.
Perhatiannya terfokus pada visualitas dan latar kultural “konde”—gelungan rambut dengan beragam gaya dalam tradisi kecantikan para perempuan, terutama, di Jawa dan Bali. Amatannya berujung pada keyakinan (sementara) bahwa: ada banyak muatan—politik, budaya, religiositas, ekonomi, sampai dengan isu gender (feminisme dan patriarkhisme)—yang diterakan pada gelungan rambut itu.
Read More...
Driyarkara dalam Sebuah Karya
20 Dec 2008 10:17 Filed in: General
Guru miskin kita prihatin, guru kaya kita bertanya. Tulisan itu tertulis jelas di sebuah lukisan yang diberi judul “Trilogi Pensil Hitam: Guru Miskin Kita Prihatin, Guru Kaya Kita Bertanya”. Tanpa tedeng aling-aling, lukisan itu jelas ingin bercerita tentang nasib para pendidik di negeri Indonesia. Sang pelukis Hari Budiono mencoba menggambarkan betapa misteriusnya dunia pendidikan tanah air. Rumit, susah, dan kadang tanpa solusi. Trilogi Pensil Hitam adalah salah satu karya yang dipamerkan di kampus Universitas Sanata Dharma, Mrican, Jogja yang mengangkat tema Gelar Perupa Pendidik, Membaca Kembali Driyarkara: Kemanusiaan, Pendidikan, Kebangsaan. Read More...
Window Display: A Solo Exhibition of Wiyoga Muhardanto
18 Dec 2008 09:28 Filed in: Event

Inspired by display systems in shop windows and supermalls, the sculptural works of Wiyoga Muhardanto (born in Jakarta in 1984), comments on Indonesia’s growing love affair with luxury, consumer goods and ‘conspicuous consumption’: A most-awaited solo debut by Indonesia's talented emerging artist. Read More...
Pameran Tunggal Aprilia Apsari: Rayuan Pulau Kelapa
12 Dec 2008 09:06 Filed in: Event

Ketika semua hal tidak lagi bisa menjadi baru, atau yang 'baru' kemudian menjadi 'basi', mungkin sekarang adalah saatnya, bahwa kata-kata seperti 'retro', 'vintage', atau 'jadul' menjadi suatu yang 'seksi'. Apakah itu karena kebosanan kita akan segala hal yang kekinian, atau dipaksakan menjadi kini, sehingga akhirnya semua orang pun menjadi pemulung semua yang berbau masa lalu, yang selalu tinggal dalam memori, dan dengan waktu pada akhirnya menjadi berarti? Read More...
Nafas: Screenings and Dialogues in Malaysia, Indonesia, Singapore
01 Dec 2008 16:54 Filed in: Event
From December 12, 2008 to January 14, 2009 Pat Binder and Gerhard Haupt, editors of Nafas and publishers of Universes in Universe - Worlds of Art, will present the Nafas Art Magazine, published by the German Institute for Foreign Cultural Relations (ifa), and the Nafas exhibition project of the ifa at the following places in Malaysia, Indonesia, and Singapore:
Read More...
Read More...