Apr 2009
Wajah-wajah Karat ala Teguh
26 Apr 2009 13:33 Filed in: Review
Bangkai-bangkai mesin milik Nikko Steel oleh Teguh Ostenrik digunakan sebagai materi patung yang berbicara mengenai ekspresi manusia--dipamerkan di Gedung Arsip Nasional, yang preview-nya mulai hari ini. Patung-patung itu semuanya disusun dari aneka potongan rongsokan baja dan besi karatan. Tema pameran berbicara tentang deformasi wajah. Sekali lihat, pada mulanya, kita susah menangkap adanya bentuk paras atau raut muka. Read More...
Yogya’s Women Artists on the Move
26 Apr 2009 13:02 Filed in: General
Many women artists struggle with breaking out of conventional role models. “In our society, the artistic community in Indonesia is still very patriarchal”, said performance artist Arahmaiani. Together with art journalist, Carla Bianpoen and Dutch artist, Mella Jaarsma, Arahmaiani established “Senin Sore” (Monday Afternoon) meetings at Cemeti. “These meetings help women artists to develop more independently. We need to create a space where they can meet without being dominated and interrupted by men all the time”, Arahmaiani explained. The three senior art experts decided to form a monthly discussion forum to best fit the needs of their fellow artists, rather than an all female art exhibition they believe highlights the exoticism of women being artists above their art. Read More...
Wajah Kita Pada Besi Tua
26 Apr 2009 12:55 Filed in: Review
Perupa Teguh Ostenrik (59) berpameran tunggal dengan tajuk ”deFacement” di Gedung Arsip Nasional, Jakarta, 25-29 April ini. Bermodal bahan besi tua, dia mengutak-atik beragam ekspresi wajah manusia. Apa menariknya? Ada sebuah patung unik berdiri di halaman tengah Gedung Arsip Nasional. Karya itu berupa potongan pipa besi panjang yang melengkung pada bagian atas dengan ujung ditancapi ratusan kawat besi yang semrawut. Di bawah kawat-kawat itu ada tempelan gir, potongan besi kecil, dan lubang menganga. Read More...
Proses Kerja: Seperti Menemukan Surga
26 Apr 2009 12:54 Filed in: General
Dari mana Teguh Ostenrik memperoleh besi bekas untuk membuat 50-an patung? ”Itu semua kebetulan,” katanya. Tahun 2007, Teguh bersama sekitar 50 seniman dunia diundang Pemerintah Daerah Penang, Malaysia, untuk membuat patung public art. Agar bisa membuat patung dengan biaya murah, dia mencari sponsor bahan dan peralatan. Read More...
Membaca Elegi Artistik Nashar
26 Apr 2009 12:52 Filed in: Review
Bahwa hidup pelukis Nashar (1928-1994) terapung dalam khaos dan penderitaan, banyak orang tahu. Hanya saja kenapa telaah terhadap perupa kelahiran Pariaman, Sumatera Barat, itu selalu menggunakan referensi Romantisisme—satu periode dalam telaah filsafat, di seputar akhir abad ke-18. Kalau menyimak karya-karya Nashar sambil mengenang kembali kehidupan perupa itu, akan merasa bahwa betapa unik beberapa simpul dalam perkembangan seni rupa Indonesia. Salah satu simpul sangat menarik tak pelak adalah Nashar. Read More...
Art and the City
26 Apr 2009 12:48 Filed in: General
Heteroginitas dan iklim kebebasan kota besar makin diyakini oleh sebagian orang sebagai sumber kreativitas. Dalam dunia seni rupa, pada masa lalu boleh jadi sejumlah seniman menyepi di Bali untuk mengais inspirasi. Kini, ketika seni kontemporer yang sering dihubung-hubungkan dengan conceptual art menjadi tren, atmosfer yang dibutuhkan seniman tampaknya bukan lagi sawah, gunung, dan gemericik air pedesaan, melainkan etalase mal, gedung-gedung tinggi, dan fountain di pusat kota. Di situ ada persilangan gagasan dari masyarakat yang campur aduk latar belakangnya. Read More...
Seni Rupa Kontemporer: Lebih Segar, Lebih Kritis
26 Apr 2009 12:45 Filed in: General
Kalau ingin melihat wanita-wanita dengan tas dan sepatu mahal, jangan ke fashion show , tapi ke art fair. Sebuah media memberikan petunjuk kenes itu ketika berlangsung Art Basel di Miami, Florida, AS, akhir tahun lalu. Memang demikian. Di hajatan seni rupa di mana saja, baik di Amerika, Eropa, Asia, mudah ditemui kalangan atas masyarakat berikut simbol konsumsinya yang wah dari pakaian, tas, sepatu, berikut kasak-kusuk dan gosipnya. Pada fashion show barangkali yang ditemui di acara cocktail adalah model yang usai memeragakan busana hanya mengenakan sepatu trepes dan jins. Dalam hajatan seni rupa semacam art fair ataupun biennale, yang muncul adalah para konsumen dari dunia konsumsi yang digelar di fashion show maupun butik-butik terkemuka. Read More...
Nashar, Irama Jiwa, dan Kolektor
23 Apr 2009 13:32 Filed in: General
Para pemuja Nashar, datanglah ke Galeri Nasional. Tataplah irama yang tertuang dalam kanvas. Tataplah irama angin, irama pasir, dan irama garis-garis ingatan. Berjalan dari satu lukisan ke satu lukisan lain dan resapkanlah dalam-dalam irama-irama yang disajikan. Akan terasa betapa irama itu sangat tak monoton. Dan kita pun sadar, kekayaan Nashar adalah ia mampu menangkap berbagai variasi ritme. Read More...
Menghidupkan Ancol
20 Apr 2009 15:07 Filed in: General
Pasar Seni Ancol, Jakarta Utara, kembali memberdayakan diri lewat pembukaan North Art Space. Galeri seni rupa hasil perombakan dari Galeri Pasar Seni Ancol lama itu diresmikan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Jumat (17/4) malam. Ruang pameran itu diharapkan mengangkat citra Ancol sebagai kantong seni budaya sekaligus memajukan seni rupa kontemporer Indonesia. Read More...
Dosa Lama Jangan Dilupakan
13 Apr 2009 13:10 Filed in: General
Apa yang bisa dilakukan seniman di tengah gemuruh pemilu legislatif dan kemudian pemilu presiden 2009 ini? Selain menggunakan hak pilih (tentu, bagi yang berminat mencontreng), seniman juga bisa ikut menggiatkan pendidikan politik lewat karya seni. Read More...
Romance Comics of the 60s: A Short Lived Love Story
06 Apr 2009 19:45 Filed in: Review
A scene from Tertiup Bersama Angin, one of the most prominent Indonesian romance comics of the 1960s, shows Alec, a rugged man with thick eyebrows, dejectedly covering his forehead with his hairy left hand. A beautiful woman, Inge, tries to console him, holding his arm. “Listen Inge, you don’t know who I am. Get away from me,” Alec says. Determined to have him, Inge replies, “I know who you are, Alec. You are a man who surrenders only to tenderness and is undeterred by ferocity.” Read More...