Aku Mau Dimadu
01 Mar 2010 22:53 Filed in: General
Aku mau dimadu. Guwe gak mau menopause, ingin terus subur. I want: art, great sex, Luis Vuitton. Gak enak kali ga bisa menikmati libido. Itu kan kenikmatan dalam hidup.”
Beberapa petikan kalimat ”nakal” itu disusun bersama puluhan pernyataan lain dalam bahasa Indonesia, Inggris, Belanda, dan Jepang. Rentetan kata-kata itu disulam di atas kain putih yang dibingkai bundar berdiameter 1,5 meter. Sulaman dengan benang merah itu disusun membentuk gambar hati.
Karya berjudul Private Invitation itu hasil kerja Octora, perempuan seniman lulusan Jurusan Patung Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB). Ini bagian dari pameran Landing Soon #6-#11 di Erasmus Huis, Kuningan, Jakarta, 20 Januari-18 Maret. Ada juga karya 12 seniman lain dari Indonesia dan Belanda.
Mereka adalah Arfan Sabran, Ralph Kämena, Ellen Rodenberg, Wimo Ambala Bayang, Maarten Schepers, Urs Pfanenmüller, Sigit Bapak, Elizabeth de Vaal, Beatrix H Kaswara, Rosalie Monod de Froideville, Cilia Erens, dan Wiyoga Muhardanto. Para seniman itu menjadi peserta residensi di Yogyakarta yang diselenggarakan Rumah Seni Cemeti dan Heden, Den Haag, Belanda, selama Februari 2007 sampai Juli 2008.
Saat pembukaan pameran, Rabu (20/1) lalu, banyak penonton mengerumuni karya Octora. Maklum, bermacam pernyataan itu memang provokatif. Sebagai curahan hati, kita bisa memaklumi hasrat perempuan yang enggan menopause, ingin menikmati seks, belanja barang bermerek, bahkan mau dimadu. Namun, ketika dipampang terbuka pada dinding galeri, keterusterangan itu jadi menohok.
”Semua itu pengakuan 14 perempuan yang biasanya disimpan sendiri,” kata Octora saat pembukaan. Lewat karya sulaman, dia ingin membawa pengakuan privat di tengah ruang publik.
Deru motor
Instalasi bunyi berjudul Ruang Suara Yogya karya seniman Belanda, Cilia Erens, juga menarik perhatian. Ada tiga atap rumah kecil dari plastik putih yang ditopang tiang kayu. Setiap rumah (rancangan perupa Nindityo Adipurnomo) itu dilengkapi sebuah headphone.
Pengunjung dapat masuk dalam rumah mungil itu lalu mendengarkan bebunyian hasil rekaman Cilia Erens. Bagaimana bunyinya?
Salah satunya berisi suara motor. Motor itu menderu, bersalipan dengan mobil atau bus, lantas menjadi melambat. Tiba-tiba, terdengar obrolan bahasa Jawa. Muncul juga bunyi tat-tet-tot penjual roti. Lalu, sayup-sayup menelusup suara azan yang mengalun pelan….
Tanpa dukungan gambar apa pun (karena pandangan kita dibatasi atap plastik), bebunyian itu langsung merangsang imajinasi. Suara motor, mobil, obrolan, tukang roti, atau azan menyedot kita masuk dalam denyut kehidupan Yogyakarta.
Suara-suara itu adalah kenyataan sehari-hari. Namun, ketika direkam dan diputar kembali dalam kemasan karya seni, rangkaian bunyi berhasil menggambarkan kemajemukan kota itu dengan jitu. Hiruk-pikuk transportasi modern, rakyat kecil cari nafkah, panggilan ibadah, dan percakapan bahasa lokal berbaur mengentalkan adonan budaya unik.
”Saya ingin memfokuskan diri pada ruang-ruang bunyi di wilayah publik, dan menggali cara baru dalam mempresentasikannya,” ujar Cilia Erens dalam katalog.
Menggoda
Sejumlah karya seniman lain juga menggoda. Lihat saja rangkaian foto orang-orang bermain tembakan air oleh Wimo. Video Arfan tentang kematian seni gamelan di Kulonprogo pascatragedi tahun 1965. Elizabeth mencuci kaki 20 lelaki dan melukis berbagai telapak kaki. Juga dokumentasi Kämena seputar tumpukan map di kantor pemerintahan.
Mereka berusaha menggali wacana, pendekatan, media, material, dan cara penyajian karya seni rupa. Setiap seniman berjibaku mengolah bunyi, benda sehari-hari, lukisan, patung, sulaman, video, fotografi, atau instalasi. Semangatnya sama: menemukan gagasan kuat, bahasa segar, sekaligus memperkuat interaksi seni dengan publik.
Dari sisi tema, terasa sekali gairah seniman untuk menangkap bermacam persoalan di masyarakat. Sebut saja soal keruwetan kota, karut-marut arsitektur, tradisi tergerus perubahan zaman, tegangan ruang privat dan publik, kelambanan birokrasi pemerintah, atau benturan budaya lokal dan global. Karya seni hadir untuk merekam, merefleksikan, atau mengkritik berbagai masalah.
”Meski tak yakin bisa memberikan jalan keluar, tapi setidaknya seniman bisa menggugah orang untuk memikirkan masalah-masalah sosial,” kata Wimo yang mengikuti residensi Mei-Juli 2008.
Patut dihargai adanya program residensi oleh Rumah Seni Cemeti sejak tahun 2006 sampai sekarang. Banyak sudah seniman diundang untuk berproses kreatif dalam periode tiga bulanan. Mereka dirangsang dengan tukar pendapat, penelitian, eksperimen, kolaborasi dengan perupa, akademisi, perajin, serta interaksi dengan publik.
”Kami ingin mendekatkan seniman dengan persoalan konkret di masyarakat,” kata Nindityo, pendiri dan pengelola Rumah Seni Cemeti.
Pameran Landing Soon #6-#11 menjadi menarik karena dilambari semangat menguji kembali batas-batas dan cara kerja seniman. Bukankah kerja seni rupa adalah proses terbuka dan selalu menunggu eksperimen dan kejutan?
Ilham Khoiri
Sumber: Kompas, 28 Februari 2010
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/28/02430679/aku.mau.dimadu
Beberapa petikan kalimat ”nakal” itu disusun bersama puluhan pernyataan lain dalam bahasa Indonesia, Inggris, Belanda, dan Jepang. Rentetan kata-kata itu disulam di atas kain putih yang dibingkai bundar berdiameter 1,5 meter. Sulaman dengan benang merah itu disusun membentuk gambar hati.
Karya berjudul Private Invitation itu hasil kerja Octora, perempuan seniman lulusan Jurusan Patung Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB). Ini bagian dari pameran Landing Soon #6-#11 di Erasmus Huis, Kuningan, Jakarta, 20 Januari-18 Maret. Ada juga karya 12 seniman lain dari Indonesia dan Belanda.
Mereka adalah Arfan Sabran, Ralph Kämena, Ellen Rodenberg, Wimo Ambala Bayang, Maarten Schepers, Urs Pfanenmüller, Sigit Bapak, Elizabeth de Vaal, Beatrix H Kaswara, Rosalie Monod de Froideville, Cilia Erens, dan Wiyoga Muhardanto. Para seniman itu menjadi peserta residensi di Yogyakarta yang diselenggarakan Rumah Seni Cemeti dan Heden, Den Haag, Belanda, selama Februari 2007 sampai Juli 2008.
Saat pembukaan pameran, Rabu (20/1) lalu, banyak penonton mengerumuni karya Octora. Maklum, bermacam pernyataan itu memang provokatif. Sebagai curahan hati, kita bisa memaklumi hasrat perempuan yang enggan menopause, ingin menikmati seks, belanja barang bermerek, bahkan mau dimadu. Namun, ketika dipampang terbuka pada dinding galeri, keterusterangan itu jadi menohok.
”Semua itu pengakuan 14 perempuan yang biasanya disimpan sendiri,” kata Octora saat pembukaan. Lewat karya sulaman, dia ingin membawa pengakuan privat di tengah ruang publik.
Deru motor
Instalasi bunyi berjudul Ruang Suara Yogya karya seniman Belanda, Cilia Erens, juga menarik perhatian. Ada tiga atap rumah kecil dari plastik putih yang ditopang tiang kayu. Setiap rumah (rancangan perupa Nindityo Adipurnomo) itu dilengkapi sebuah headphone.
Pengunjung dapat masuk dalam rumah mungil itu lalu mendengarkan bebunyian hasil rekaman Cilia Erens. Bagaimana bunyinya?
Salah satunya berisi suara motor. Motor itu menderu, bersalipan dengan mobil atau bus, lantas menjadi melambat. Tiba-tiba, terdengar obrolan bahasa Jawa. Muncul juga bunyi tat-tet-tot penjual roti. Lalu, sayup-sayup menelusup suara azan yang mengalun pelan….
Tanpa dukungan gambar apa pun (karena pandangan kita dibatasi atap plastik), bebunyian itu langsung merangsang imajinasi. Suara motor, mobil, obrolan, tukang roti, atau azan menyedot kita masuk dalam denyut kehidupan Yogyakarta.
Suara-suara itu adalah kenyataan sehari-hari. Namun, ketika direkam dan diputar kembali dalam kemasan karya seni, rangkaian bunyi berhasil menggambarkan kemajemukan kota itu dengan jitu. Hiruk-pikuk transportasi modern, rakyat kecil cari nafkah, panggilan ibadah, dan percakapan bahasa lokal berbaur mengentalkan adonan budaya unik.
”Saya ingin memfokuskan diri pada ruang-ruang bunyi di wilayah publik, dan menggali cara baru dalam mempresentasikannya,” ujar Cilia Erens dalam katalog.
Menggoda
Sejumlah karya seniman lain juga menggoda. Lihat saja rangkaian foto orang-orang bermain tembakan air oleh Wimo. Video Arfan tentang kematian seni gamelan di Kulonprogo pascatragedi tahun 1965. Elizabeth mencuci kaki 20 lelaki dan melukis berbagai telapak kaki. Juga dokumentasi Kämena seputar tumpukan map di kantor pemerintahan.
Mereka berusaha menggali wacana, pendekatan, media, material, dan cara penyajian karya seni rupa. Setiap seniman berjibaku mengolah bunyi, benda sehari-hari, lukisan, patung, sulaman, video, fotografi, atau instalasi. Semangatnya sama: menemukan gagasan kuat, bahasa segar, sekaligus memperkuat interaksi seni dengan publik.
Dari sisi tema, terasa sekali gairah seniman untuk menangkap bermacam persoalan di masyarakat. Sebut saja soal keruwetan kota, karut-marut arsitektur, tradisi tergerus perubahan zaman, tegangan ruang privat dan publik, kelambanan birokrasi pemerintah, atau benturan budaya lokal dan global. Karya seni hadir untuk merekam, merefleksikan, atau mengkritik berbagai masalah.
”Meski tak yakin bisa memberikan jalan keluar, tapi setidaknya seniman bisa menggugah orang untuk memikirkan masalah-masalah sosial,” kata Wimo yang mengikuti residensi Mei-Juli 2008.
Patut dihargai adanya program residensi oleh Rumah Seni Cemeti sejak tahun 2006 sampai sekarang. Banyak sudah seniman diundang untuk berproses kreatif dalam periode tiga bulanan. Mereka dirangsang dengan tukar pendapat, penelitian, eksperimen, kolaborasi dengan perupa, akademisi, perajin, serta interaksi dengan publik.
”Kami ingin mendekatkan seniman dengan persoalan konkret di masyarakat,” kata Nindityo, pendiri dan pengelola Rumah Seni Cemeti.
Pameran Landing Soon #6-#11 menjadi menarik karena dilambari semangat menguji kembali batas-batas dan cara kerja seniman. Bukankah kerja seni rupa adalah proses terbuka dan selalu menunggu eksperimen dan kejutan?
Ilham Khoiri
Sumber: Kompas, 28 Februari 2010
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/28/02430679/aku.mau.dimadu