Pertunjukan Tari: Selamat Datang dari Bawah

fitri

Tiga reportoar tari Fitri Setyaningsih
| iCAN Jl. Suryodiningratan 39 Yogyakarta | 30-31 Juli, 1 Agustus 2010 | 19.30 WIB | Tiket: 1 reportoar Rp 15.000, 3 reportoar Rp 35.000 | Informasi & pemesanan tiket: 0274 9149191

Pertunjukan tari yang dikoreografi oleh Fitri Setyaningsih ini merupakan hasil kerja koregorafi yang melebar dan menjadi genting ketika kita mempertanyakan apa tari itu sendiri. Kerja koreografi melebar dalam pertemuan antara sebagian kisah Franz Schubert yang melatih jari-jari tangannya dengan batu; pandangan Zen di sekitar pikiran yang terjebak dalam balok es; serta Bodyscape dari instalasi Titarubi. Ini jadi semacam dinding luar yang dibawa ke dalam dan mendapatkan lingkungan barunya antara tubuh dan ruang. Ruang dalam arti agresi jarak dan batas antara pengertian bawah dan atas. Dan tubuh dalam arti negosiasi antara motif-motif gerak dan pemaknaan yang mungkin untuk dilakukan. Sebuah pertunjukan yang melanjutkan pandangan Fitri bahwa tari tidak semata-mata peristiwa tubuh, lebih dari itu merupakan peristiwa media yang melibatkan banyak disiplin. Ini yang akan membawa tari kepada perubahan-perubahan yang berlangsung di sekitarnya.

Pertunjukan ini dibuat selama 3 hari, dan setiap hari berbeda. Dilakukan dalam ruang kecil hingga mendapatkan keintiman jarak antara penonton dan pertunjukan. Bahan-bahan lain untuk pertunjukan ini kami lampirkan di sini. pertunjukan ini bagian dari program Empowering Women Artists 2010 Yayasan Kelola

Konsep Pertunjukan

Pertunjukan tari ini lebih merupakan instalasi dalam proses terjadinya mutasi-mutasi gerak dan negosiasi tubuh dengan lantai tempatnya berpijak. berangkat dari eksplorasi dengan mengarahkan naluri-naluri ke bawah, ke dasar. kita selalu berjalan di atas, naluri melakukan negosiasi hampir ke atas. kini dibawa ke bawah, eksplorasi membayangkan sesuatu di bawah lantai: dataran di bawah dataran, terus turun ke bawah. tubuh ikut turun, terus menjadi terbalik, gerak tidak mengikuti posisi anatomi lagi. anatomi jadi bagian dari lantai, tubuh hanya menjaga rasa dan aliran iramanya. Pertunjukan tari ini seperti pertunjukan hubungan mistik antara tubuh dengan dataran.

Pertunjukan dilihat seperti pameran dengan jarak dekat. bentuk-bentuk bukan diri kita sehari-hari. tapi kita menuju ke sana, dan memasukinya lebih dalam lagi, sebagai gerak yang tumbuh. tak ada tekanan dengan tenaga ringan. dilakukan untuk program Empowering Women Artists 2010 Yayasan Kelola

Hari pertama, 30 Juli 2010, “Lubang Cahaya Bernafas”

Jari-jari memainkan berat batu (pesan dari Franz Schubert). Garis-garis pelangi yang lurus, antara batu dan jari-jari. Tubuh tidak lagi dalam posisi normal di bawah kekuasaan kepala dan pikiran, melihat batas langit dan kaki menginjak bumi, merengkuh diri, perputaran, berjalan mengiris ruangan, tangan yang menggergaji udara, seperti kulit yang terkena duri, menembus diri masing-masing. Kepala menjadi bola dinding, telapak kaki menyapa telapak kaki, berdiri dalam kemiringan yang terjaga. Kepala masuk ke dalam lantai, dan kaki dibawa ke dalam dada. ayunan-ayunan kaki di udara. Tubuh tengkurap yang berjarak dengan lantai, melakukan perjalanan terus. rambut untuk menyikat wajah. Cahaya udara membawanya menggeser tubuh.

Hari kedua, 31 Juli 2010, “Dataran yang Terus ke Dasar”

Di atas tangan ada balok es. Suara dari satu tangan (pesan dari zen). Waktu menjadi padat dan perlahan mencair. Seolah-olah tubuh dan pikiran terjebak dalam balok es. Tubuh mengikuti balok es yang turun, perlahan dicium, perlahan dipeluk, perlahan dibopong, perlahan direngkuh dan perlahan ditidurkan. Jari-jari mengambil butiran dari air es yang dibawa ke mata kita, naik turun, membuat jeruji imaji antara jarak mata, balok es, ruang kosong dan tubuh kita. Tubuh saling bertabrakan, muka-muka seperti jemuran, siku membuat jalan, dengkul yang membawa angin saling menoleh. Tubuh yang ditidurkan, tidur yang diseret dan menyeret, tarikan tangan ke atas atau ke bawah. Tubuh yang berjalan miring di samping lantai. Tidur miring yang me-nembus lantai, dijatuhkan. Kepala dijadikan alas tubuh seperti kesetan untuk membersihkan kaki kita yang kotor | Foto dari ruang pertunjukan

Hari ketiga, 1 Agustus 2010, “Penyusup dalam Tubuh”

Kentang-kentang dari dalam tanah datang ke lantai. tubuh berada di dalam. Mantel-mantel bernyanyi, dan bentuk-bentuk imaji di luar. Seperti bungkusan bentuk kelahiran (pesan dari udara). ada stupa, batu, lubang-lubang toilet/wc, mumi, kibasan tidur, bongkahan, piramid, gelembung udara, lipatan, uwek-uwek, jemuran jatuh, klumbruk, tingil-tingil, mengecil membesar, pendek tinggi, mendekat jauh, dibalik, keringat yang menempel, sumpek, bau, telapak kaki jadi muka, tangan jadi mulut, kepala jadi pantat, pantat jadi perut, tekukan-tekukan, ketat, garis. Setiap mau bergerak diam dulu, udug udug idig idig ... mati sesaat. Suara-suara dari dalam. Baru memulai gerak lagi. seperti membuat rumah dalam tubuh kita. Gerak-gerak tidak teridentifikasi sebagai bentuk manusia alami. Instalasi Titarubi, bodyscape membawa agresi atas-bawah terhadap tubuh dan ruang. Udara yang masuk dari bawah dan dari atas atau dari mana-mana | Foto dari ruang pertunjukan

TIm Pertunjukan

Karya/Koreografi: Fitri Setyaningsih
Pimpinan produksi: Johan Didik H
Penari: Jamaluddin Latif, Maria Yullita Sari, M. Nur Qomaruddin, Rendra Bagus Pamungkas, Retno Sayekti Lawu, Yuni Wahyuning
Pengembangan wacana: Antariksa, M. Zamzam Fauzanafi
Dramaturgi, penata artistik: Afrizal Malna
Lighting designer: Ignatius Sugiarto
Costum designer: Rifqi Sukma
Komposisi musik: Dwirima Prabowo
Visual art: Titarubi
Stage manager: Agustinus Dimas


Fitri Setyaningsih lahir di Solo, 1978. Kini tinggal di Yogyakarta. Karya koreografinya yang dipentaskan dalam 4 tahun terakhir antara lain: Ikan dari Langit (berdasarkan cerpen Danarto Lauk dari Langit), Parutan Kelapa, Daging dari Dataran Tinggi, Bubble Sling, Sabana Grande, Warna dari Dalam Tanah, Menyerap dan Memeras, Pidato Bunga-bunga, Flight No.12, Beras Merah, Aku Hampir Plastik dan Shelf. Karya-karya Fitri ditampilkan di Solo, Jogja, Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Padang, Beijing, dan Venezuela. Selain menampilkan karyanya sendiri, Fitri juga berkolaborasi dengan berbagai seniman lintas-disiplin.



Share