Pameran Arsip Sejarah 30 Tahun Gerakan Anak di Indonesia

menembak

Jogja National Museum | 1-11 Juli 2010 | 10.00-20.00
Kurator: Antariksa & Bambang Ertanto
Direktur Artistik: Titarubi

Diskusi “Sejarah dalam Kardus” | 10 Juli 2010 | 18.30-21.30 | Pembicara: Antariksa, Bambang Ertanto, Budiawan, Diyah Larasati Moderator: Agung Kurniawan

Inilah kenyataannya: kita tidak punya rujukan memadai tentang sejarah persoalan-persoalan anak di Indonesia.

Cara pandang tentang sejarah persoalan anak-anak di Indonesia yang biasa diterima hingga sekarang adalah cara pandang yang mencampurkan sejarah masalah anak-anak dengan sejarah pendidikan. Membicarakan masalah anak-anak berarti membicarakan “masalah anak-anak di sekolah”, dan masa anak-anak berarti “masa anak-anak di sekolah”. Cara pandang seperti ini setidaknya sudah berkembang lebih dari satu abad lamanya di Indonesia. Pelajaran sekolah dikenalkan Belanda pada awal abad ke-20 kepada masyarakat Hindia sebagai alat untuk menjinakkan pikiran kaum pribumi. Dan melalui pengenalan pendidikan sekolah inilah, dimulai pula satu cara pandang dan juga pembentukan pengalaman masa kanak-kanak modern dalam masyarakat pribumi.

Versi resmi cara pandang negara terhadap anak-anak yang dikembangkan oleh Soeharto juga selalu merujuk filosofi “pendidikan yang benar” bagi anak-anak yang dikembangkan Ki Hadjar Dewantara pada awal 1920-an. Ki Hadjar Dewantara menyebut sekolah Taman Siswa-nya sebagai “keluarga”, di mana tugas seorang guru adalah seperti seorang bapak atau ibu yang membimbing dan mendidik anak-anaknya untuk menciptakan warga negara Indonesia yang segera merdeka. Sementara Soeharto—yang sepanjang kekuasaanya selalu mengidentikkan dirinya sebagai seorang bapak bagi seluruh warga —beranggapan bahwa anak-anak adalah anggota keluarga yang mesti disiapkan untuk menjadi “manusia pembangunan” atau “manusia Indonesia seutuhnya”. Dengan mengisolasi masalah anak-anak semata-mata sebagai masalah pendidikan, Soeharto sebenarnya tengah membangun suatu cara pandang yang memisahkan anak-anak dari kehidupan sosial politik.

Cara Pandang Pameran Ini

Pameran ini mau menampilkan satu cara pandang alternatif tentang sejarah persoalan anak di Indonesia: pertama, kami menolak mengisolasi persoalan anak dan memilih meletakkan persoalan anak dalam satu hubungan tak terpisahkan dengan persoalan-persoalan sosial dan politik di Indonesia. Kami percaya bahwa persoalan-persoalan anak di Indonesia mustahil dipahami tanpa, pada saat yang bersamaan, berusaha memahami konteks sosial-politiknya. Itulah kenapa kita mesti berhati-hati dan berusaha memahami kepentingan-kepentingan kekuasaan yang sepintas tampak bekerja di luar wacana persoalan anak. Konsepsi tentang keluarga misalnya, yang sangat dominan dalam perbincangan tentang anak sepanjang sejarah Indonesia modern, tak bisa dilepaskan dari politik gender dan kependudukan (Keluarga Berencana, PKK, dsb.) yang pada saat bersamaan juga terkait dengan ideologi-ideologi pembangunan yang tengah berlangsung. Konsepsi tentang kebersihan dan ketertiban, yang dominan dalam proyek-proyek pembersihan anak jalanan pada 1990-an, tak bisa dilepaskan politik pertahanan dan operasi-operasi tertib sosial seperti Operasi Esok Penuh Harapan, Gerakan Disiplin Nasional (GDN), dan juga ketakutan kepada hantu komunisme.

Kedua, kami memulai narasi dari periode akhir 1970-an. Dengan pilihan ini kami ingin menunjukkan ketakterpisahan antara tumbuhnya kesadaran baru akan persoalan-persoalan anak dengan tumbuhnya gerakan masyarakat sipil di Indonesia pada masa kekuasaan Orde Baru dan tumbuhnya konsepsi-konsepsi baru tentang persoalan anak dan gerakan sosial di dunia internasional.

Periode 1970-an merupakan periode pemapanan kekuasaan Orde Baru yang sangat penting. Indonesia mengalami lonjakan peningkatan pendapatan akibat ledakan harga minyak pada pertengahan ‘70-an, kestabilan keamanan dan politik membuat penanaman modal asing meningkat pesat, dan pada Pemilu 1977 Soeharto kembali berhasil memperpanjang kekuasaannya. Pada saat bersamaan ketidakpercayaan masyarakat sipil kepada Orde Baru juga mulai tumbuh. Dimulai dengan Deklarasi Golput 1971, demonstrasi menolak Taman Mini Indonesia Indah pada 1972, Peristiwa Malari 1974 dan berpuncak pada demonstrasi besar mahasiswa pada 1978. Gerakan-gerakan protes yang terutama dimotori oleh mahasiswa itu kemudian mulai bergeser ke luar kampus setelah pemerintahan Soeharto menjawabnya dengan kebijakan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan) yang melarang mahasiswa terlibat aktivitas politik. Kelahiran gerakan masyarakat sipil di Indonesia tidak akan dapat dipahami tanpa melihat hubungannya dengan berbagai peristiwa yang terjadi sepanjang 1970-an tersebut. Dan dalam pameran ini kami ingin menunjukkan bahwa gerakan anak di Indonesia juga tak bisa dipisahkan darinnya, dan secara ideologis ia tumbuh sebagai suatu bentuk ketidakpercayaan dan perlawanan kepada kekuasaan Soeharto.

Tulisan Kuratorial
Acara Lainnya:
  • Seminar & Workshop anggota Koalisi ORNOP Nasional untuk Pemantauan Hak Anak | 2 Juli 2010
  • Saresehan Sejarah 30 Tahuan Gerakan Anak di Indonesia | 2 Juli 2010, 18.30-20.00
  • Workshop Dongeng bersama Kak Wes | 2-3 Juli 2010, 09.00-11.30
  • Workshop Bahasa bersama Afrizal Malna | 2-4 Juli 2010, 15.00-17.00
  • Workshop Gerak bersama Fitri Setyaningsih | 2-4 Juli 2010, 15.00-17.00
  • Workshop Makanan & Minuman bersama Sandra Y.A. | 2-4 Juli 2010, 15.00-17.00
  • Workshop Batik bersama Ahyar | 2-3 Juli 2010, 15.00-17.00
  • Workshop Teater Boneka bersama Papermoon | 2-4 Juli 2010, 15.00-17.00
  • Penutupan Pameran & Pertunjukan hasil workshop anak-anak | 5 Juli 2010, 15.00-18.00

ican03page23_2page23_3



Share