Membaca Kembali Driyarkara
05 Nov 2008 23:10
iCAN co-organized exhibition | “Membaca Kembali Driyarkara: Kemanusiaan, Pendidikan, Kebangsaan” | 17 Des 2008-17 Jan 2009 | Universitas Sanata Dharma, YogyakartaPameran ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-53 Universitas Sanata Dharma, dan akan diselenggarakan di kampus Universitas Sanata Dharma, Mrican, Yogyakarta. Pameran ini mengajak para perupa Indonesia untuk secara khusus membaca kembali dengan kritis dan mengeksplorasi secara visual gagasan-gagasan Driyarkara dalam bidang kemanusiaan, pendidikan, dan kebangsaan. Di tengah serbuan gagasan-gagasan “asing”, kami menganggap penggalian pikiran-pikiran Indonesia merupakan sebuah upaya yang layak diperjuangkan dalam seni rupa kontemporer Indonesia. Dengan demikian, membaca kembali Driyarkara bisa dilihat sebagai sebuah upaya untuk melihat ke dalam diri sendiri, ke dalam gagasan-gagasan yang dimiliki oleh bangsa ini secara kritis, dan menempatkannya dalam segala perubahan kekinian.
Universitas Sanata Dharma menawarkan kepada para seniman yang mengikuti pameran ini untuk hanya memamerkan, menghibahkan secara permanen, atau meminjamkan (dalam jangka waktu 6 bulan atau 1 tahun) karya-karya yang dipamerkan. Karya-karya ini akan dijadikan koleksi publik, disimpan dan dikelola oleh/dan di kampus Universitas Sanata Dharma sebagai bahan ajar dan kajian bagi publik, khususnya mahasiswa, tentang gagasan-gagasan Driyarkara. Kami percaya melalui cara semacam ini dunia pendidikan dan seni rupa akan lebih berkembang dalam menemukan cara-cara penelaahan kritis terhadap karya seni, baik dalam proses penciptaan, bentuk, maupun gagasan-gagasan yang ada dibaliknya.
Prof. Dr. Nicolaus Driyarkara SJ dilahirkan 13 Juni 1913 di Kedunggubah, Purworejo. Driyarkara meninggal dunia tanggal 11 Februari 1967, dimakamkan di Girisonta, Ungaran, Jawa Tengah. Ajaran pokok Driyarkara adalah "manusia adalah kawan bagi sesama". Manusia adalah rekan atau teman bagi sesamanya di dunia sosialitas ini (homo homini socius). Pikiran homo homini socius ini ditaruh untuk mengkritik, mengoreksi, dan memperbaiki sosialitas yang saling memangsa dan saling membenci dalam homo homini lupus (sesama adalah serigala bagi manusia). Sampai 1951 nama Driyarkara tidak dikenal. Hampir seluruh waktunya dia gunakan untuk studi secara intensif. Karya publik awal tulisannya tidak langsung filosofis. Karya awalnya berupa catatan ringan dalam bahasa Jawa yang dimuat majalah Praba, sebuah mingguan berbahasa Jawa yang terbit di Yogyakarta. Disusul kemudian dengan Warung Podjok dengan nama samaran Pak Nala. Terbitnya majalah Basis pada 1951 membuka peluang Driyarkara memperkenalkan ide-idenya ke masyarakat. Mulanya dengan nama Puruhita, kemudian dengan nama lengkap Driyarkara. Saat bekerja di Basis, dia diserahi tugas menjadi Dekan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru Sanata Dharma (IKIP Sanata Dharma). Pidato pertanggungjawabannya tentang kepentingan pendidikan guru memperoleh tanggapan luas, dan sejak saat itu (1955) selain dikenal sebagai filsuf juga seorang ahli pendidikan.
SENIMAN
A.T. Sitompul, Afdhal, Agung Kurniawan, Agus Suwage, Ali Rubin, Aming Prayitno, Anang Saptoto, Angki Purbandono, Anton Subiyanto, Arahmaiani, Bambang Herras, Budiyana, Digie Sigit, Dona Prawita Arissuta, Djoko Pekik, Fajar Santoadi, Hari Budiono, I Gusti Ngurah Arya Udianata, I Made Adinata Mahendra, I Wayan Sandika, Iwan Effendi, Jim Allen Abel, Jogja Mural Forum, Kadek Agus Mediana Adi Putra, M. Dwi Marianto, Maryanto, Mirza Al Rasyid, Ong Hari Wahyu, Ouda Teda Ena, Perupa USD, Pirie Mare Tramontane, Rendra C.O., Sigit Pius, Suatmaji, Subroto Sm, Sun Ardi, Sunardi, Titarubi, Wimo Ambala Bayang, Wisnu Sasongko, Wok The Rock, Yundhi Pra, Yuswantoro Adi, Zuchri Muchlis
PEMBUKAAN
Rabu, 17 Desember 2008, 19.00 WIB
Dibuka oleh Rektor Universitas Sanata Dharma Dr. Ir. P. Wiryono Priyotamtama, SJ.
PAMERAN
17 Desember 2008 - 17 Januari 2009
di lantai 3 dan area sekitar Gedung Administrasi, Universitas Sanata Dharma
Jl. Gejayan, Mrican, Yogyakarta
Diskusi “Membaca Ulang Driyarkara: Seni Rupa, Politik Ruang, dan Identitas Kampung”
Pembicara: G. Budi Subanar, Eko Prawoto, dan Hardoko
18 Desember 2008, 15.30 WIB
Diskusi “Membaca Driyarkara Lewat Rupa”
Pembicara: St. Sunardi dan Mike Susanto
20 Desember 2008, 15.30 WIB
Foto: Wok The Rock, 2008, “The Great Banyan Disorder”
Share